Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Saat Konflik Dunia Membuat Rakyat Kecil Semakin Sulit Makan
APERO FUBLIC I OPINI.- Dalam beberapa tahun terakhir, isu pangan tidak lagi sekadar persoalan produksi dan distribusi, melainkan telah menjadi bagian dari dinamika geopolitik global. Konflik bersenjata di berbagai wilayah dunia mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga eskalasi konflik di timur tengah telah menciptakan efek domino yang signifikan terhadap stabilitas harga pangan.
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, terutama di negara berkembang, dampak ini terasa langsung: harga bahan pokok meningkat, daya beli menurun, dan ketahanan pangan rumah tangga semakin rapuh.
Pertanyaannya, mengapa konflik yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi isi piring masyarakat kecil.
Kenaikan harga pangan akibat konflik global terjadi melalui beberapa mekanisme utama.
Pertama, gangguan rantai pasok internasional. Negara-negara yang terlibat konflik sering kali merupakan produsen utama komoditas pangan atau energi. Ketika produksi terganggu atau distribusi terhambat, pasokan global menurun sehingga harga naik.kenaikan harga energi.
Konflik geopolitik hampir selalu diikuti lonjakan harga minyak dan gas. Padahal, energi merupakan komponen penting dalam produksi dan distribusi pangan mulai dari penggunaan pupuk hingga transportasi. Ketika biaya energi meningkat, biaya produksi pangan ikut terdongkrak.kebijakan proteksionisme pangan.
Dalam situasi krisis, negara-negara cenderung membatasi ekspor untuk menjaga ketersediaan domestik. Kebijakan ini justru memperparah kelangkaan di pasar global, terutama bagi negara importir pangan seperti Indonesia.spekulasi pasar dan ketidakpastian ekonomi.
Konflik menciptakan ketidakpastian yang memicu spekulasi di pasar komoditas. Hal ini dapat mempercepat kenaikan harga di luar faktor fundamental produksi. Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan bahwa konflik global memang berkorelasi kuat dengan kenaikan harga pangan.
Pada Maret 2026, indeks harga pangan global mencapai 128,5 poin dan meningkat sekitar 2,4% dibandingkan bulan sebelumnya, dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi.
Kenaikan ini terjadi pada hampir semua kelompok komoditas, termasuk serealia, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula. Bahkan, harga minyak nabati naik sekitar 5,1% dan gula melonjak hingga 7,2% dalam satu bulan. Hal ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak terbatas pada satu jenis pangan, melainkan bersifat sistemik.
Selain itu, laporan lain menyebutkan bahwa harga daging dunia mengalami kenaikan sekitar 8% secara tahunan akibat konflik yang memengaruhi biaya produksi dan distribusi Jika ditarik lebih luas, pengalaman sebelumnya pada perang Rusia-Ukraina juga menunjukkan lonjakan indeks harga pangan global hingga sekitar 160 poin pada 2022 salah satu level tertinggi dalam sejarah Hal ini menegaskan bahwa konflik besar memiliki dampak jangka panjang terhadap stabilitas pangan global. (Databoks).
Lebih jauh lagi, kenaikan harga energi dan pupuk akibat konflik menyebabkan biaya produksi pertanian meningkat. Akibatnya, petani mengurangi penggunaan input atau menurunkan luas tanam, yang pada akhirnya menekan produksi dan memperburuk krisis pangan di masa depan.
Menghadapi kompleksitas masalah ini, diperlukan pendekatan multidimensional yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. penguatan ketahanan pangan domestik.
Negara perlu mengurangi ketergantungan pada impor dengan meningkatkan produksi dalam negeri. Diversifikasi pangan lokal menjadi kunci agar masyarakat tidak bergantung pada satu komoditas utama seperti beras atau gandum.
Stabilisasi harga melalui kebijakan pemerintah. Intervensi seperti subsidi pangan, operasi pasar, dan penguatan cadangan pangan nasional dapat membantu menahan lonjakan harga di tingkat konsumen, khususnya bagi kelompok rentan.
Efisiensi rantai distribusi. Pemerintah perlu memperbaiki sistem logistik agar biaya distribusi pangan dapat ditekan. Infrastruktur yang baik akan mengurangi dampak kenaikan harga energi terhadap harga akhir di pasar.dukungan terhadap petani.
Subsidi pupuk, akses pembiayaan, dan teknologi pertanian harus diperkuat agar petani tetap mampu berproduksi meskipun biaya input meningkat. Tanpa dukungan ini, krisis pangan dapat semakin dalam karena produksi menurun yang memerlukan kerja sama internasional.
Krisis pangan adalah masalah global yang tidak dapat diselesaikan secara unilateral. Kolaborasi antarnegara diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan, menghindari pembatasan ekspor berlebihan, dan memastikan distribusi pangan yang adil.
PENULIS: Alfi Nur Inayah dan Nafisa Fadlilatul Auliya Erfani.
Mahasiswa S1 Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment