Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sebut Anak Istimewa: Tetapi Tersingkirkan Dari Publik
APERO FUBLIC I OPINI.- Banyak postingan di media sosial tentang seorang ibu yang memposting anaknya dengan bangga dan penuh kasih sayang, sudah berjuang membesarkannya hingga bisa bertahan dari fakta bahwa ia memiliki anak down syndrome.
Postingan tentang anak down syndrome sering kali mendapatkan komentar positif dan penuh kasih, contohnya “MasyaAllah”, “anaknya lucu”, “anak istimewa”, “semangat, sehat-sehat selalu anaknya”, serta banyak emoji hati merah dan emoji senang lainnya. Namun, realitanya tidak begitu, anak down syndrome justru membuat lingkungan tidak nyaman.
Ditempat umum seperti taman bermain, anak down syndrome sering kali di jauhi karena berbeda dengan anak-anak lainya. Tatapan merendahkan, menghina, dan rasa tak nyaman sering ditujukan untuk anak down syndrome dari orang tua yang merasa anak mereka sempurna.
Kita fasih menyebut mereka anak istimewa, tetapi kenapa kita begitu mudahnya menyingkirkan mereka dari ruang publik?
Menyebut anak down syndrome dengan kata "istimewa" sering menjadi cara halus untuk membuat mereka dalam lingkup "berbeda".
Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa pemberian label positif pada kelompok minoritas dapat menjadi bentuk benevolent prejudice-prasangka yang dibungkus kebaikan yang justru memperkuat jarak sosial (Glick & Fiske, 2001). "Istimewa", pesan yang tersiratnya "dia berbeda dari kita yang normal".
Perbedaan ini yang memicu munculnya rasa canggung saat bertemu di ruang publik. Masyarakat cenderung menyingkirkan anak down syndrome di ruang publik karena ketidaktahuan yang menumbuhkan ketidaknyamanan.
Penelitian Priyono & Widodo (2022) menunjukkan 68% masyarakat Indonesia mengaku "tidak tahu bagaimana bersikap" saat bertemu penyandang down syndrome. Ketidaktahuan ini yang membuat perilaku menghindar, menarik anak menjauh.
Dengan tidak adanya edukasi tentang anak down syndrome yang menyebabkan masyarakat berpikir bahwa anak down syndrome itu berbahaya. Akhirnya, ketika bertemu dengan "yang berbeda", respons pertamanya adalah menjauh, dan menyingkir.
Sebagian pihak mungkin berargumen bahwa label "istimewa" adalah bentuk kata positif yang bisa mengubah stigma negatif. Mereka juga bisa mengatakan bahwa masyarakat Indonesia secara kultural masih dalam proses menuju inklusi, dan perubahan tidak bisa terjadi instan.
Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa kesadaran tentang disabilitas di Indonesia telah meningkat dalam dekade terakhir. Berbagai komunitas yang telah bekerja keras mengubah narasi.
Namun, menjadikan "upaya" sebagai alasan justru mengabaikan beban yang harus ditanggung anak down syndrome dan keluarganya setiap hari. Mereka tidak bisa menunggu hingga masyarakat "siap”. Label "istimewa" tanpa disertai tindakan nyata bukanlah afırmasi, melainkan kemunafikan kolektif.
Jika kita benar-benar menganggap mereka istimewa, maka ruang publik menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi mereka, bukan tempat mereka tersingkirkan.
Kita hidup dalam era yang suka berkata manis tetapi lamban bertindak. "Anak istimewa" adalah frasa yang mudah diucapkan, dan indah untuk dilihat di linimasa media sosial.
Namun, di ruang publik di trotoar, di bus, di sekolah, dan di taman bermain realitasnya berbeda. Mereka disisihkan, ditarik jaraknya, bahkan kadang diusir tanpa kata-kata. Ini bukan sekadar masalah ketidaktahuan.
Kalau memang kita benar-benar mengakui mereka adalah bagian dari masyarakat, maka inklusi tidak boleh berhenti pada postingan dan komentar. Inklusi merupakan kebijakan yang berpihak, edukasi yang menumbuhkan empati, dan keberanian untuk tidak menyingkirkan mereka hanya karena merasa tidak nyaman.
Label "istimewa" tanpa inklusi nyata hanyalah sebuah kata kosong yang menenangkan hati nurani tanpa pernah mengubah hidup mereka.
PENULIS: Syadza Daffina Putri
Mahasiswi dari Universitas Bangka Belitung. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Sosiologi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment