Hukum
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Kurang Solidaritas Sosial di Kalangan Generasi Muda di Era Digital
APERO FUBLIC I OPINI.- Saat ini, teknologi berkembang dengan sangat pesat, dan kita bergantung pada komputer dan internet untuk hampir semua hal yang kita lakukan. Hal ini tentu saja mengakibatkan perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda.
Teknologi, di satu sisi, memudahkan kita untuk mengakses informasi dan terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia. Namun, ada juga dampak yang nyata: solidaritas sosial di lingkungan sekitar semakin menurun.
Saya percaya bahwa solidaritas sosial sangat penting dalam kehidupan masyarakat karena menumbuhkan rasa empati, saling mendukung, dan kebersamaan. Di masa lalu, hal-hal seperti saling membantu atau gotong royong lebih umum. Namun, hal-hal seperti itu semakin jarang terjadi, terutama di kalangan anak muda.
Masih banyak anak muda di sekitar kita yang memprioritaskan kehidupan digital mereka daripada lingkungan sekitar. Misalnya, tidak semua orang berpartisipasi ketika ada acara yang terjadi di lingkungan sekitar.
Beberapa orang lebih memilih menggunakan ponsel pintar mereka di rumah atau terlibat dalam jejaring sosial. Jelas dari hal ini bahwa interaksi langsung semakin menurun.
Sebenarnya, kemajuan teknologi memiliki banyak manfaat. Kita memiliki kemampuan yang lebih baik untuk belajar, mendapatkan informasi, dan berkomunikasi dengan orang-orang dari tempat lain.
Ada beberapa platform digital yang membantu kita meningkatkan kemampuan dan berkembang. Namun, masalahnya adalah tidak semua orang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak.
Menurut saya, salah satu masalah terbesar yang kita hadapi saat ini adalah literasi digital. Banyak orang masih belum mampu membedakan antara fakta dan fiksi.
Selain itu, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan dan, dalam beberapa kasus, membuat kita lebih tidak memperhatikan lingkungan sekitar tanpa kita sadari.
Meningkatnya gaya hidup individualistis merupakan faktor lain, bersama dengan teknologi. Banyak orang lebih memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri daripada kebutuhan kelompok. Akibatnya, rasa empati terhadap orang lain menurun. Misalnya, tidak semua orang langsung tergerak untuk membantu tetangga yang membutuhkan.
Menurut saya, situasi seperti itu tidak boleh dibiarkan berlanjut tanpa batas. Generasi muda harus menyadari bahwa teknologi hanyalah alat dan bukan pengganti interaksi manusia di dunia nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih membutuhkan interaksi tatap muka dan rasa kebersamaan.
Mulailah dengan hal-hal kecil, seperti berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, membantu teman, atau sekadar memperhatikan orang-orang di sekitar Anda. Selain itu, kita perlu menggunakan teknologi dengan bijak agar tidak berdampak buruk pada diri kita sendiri atau orang laia.
Kesimpulannya, kemajuan teknologi di era digital telah mempermudah banyak hal, tetapi ada juga dampak yang perlu diperhatikan, seperti penurunan kohesi sosial.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita, sebagai generasi muda, untuk menyeimbangkan kehidupan daring dan sosial kita agar dapat menjaga hubungan yang sehat dan positif dalam komunitas kita.
PENULIS: Siti Nur Haida
Mahasiswi Universitas Bangka Belitung, Universitas Bangka Belitung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Hukum

Post a Comment