Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan dan Bahaya yang Mengintai
APERO FUBLIC I OPINI.- PROGRAM Makan Bergizi Gratis atau MBG resmi bergulir pada awal 2025 sebagai salah satu janji kampanye paling ambisius pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dengan target menjangkau jutaan anak sekolah, ibu hamil, dan balita di seluruh pelosok negeri, program ini membawa harapan besar: memutus rantai stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Namun realitas di lapangan memperlihatkan wajah lain. Data ilmiah mulai memberikan sinyal positif, tetapi insiden keracunan massal yang berulang mengirimkan peringatan keras: niat baik tanpa sistem yang kuat hanya akan melahirkan bencana baru.
Menurut Ajeng Putri Atma Dhani dkk. , ( 2025) Riset yang dilakukan di SMPN 12 Semarang memberikan gambaran menggembirakan. Studi tersebut menemukan bahwa program pemberian makan di sekolah berkontribusi positif terhadap perbaikan Indeks Massa Tubuh atau IMT siswa.
Anak-anak yang semula berada dalam kategori kurus menunjukkan tren peningkatan status gizi setelah mengikuti program secara konsisten.
Temuan ini sejalan dengan logika dasar ilmu gizi. Intervensi yang rutin, terstandarisasi, dan menyasar kelompok rentan akan menghasilkan dampak yang terukur. Program serupa di berbagai negara, dari Brasil hingga India, telah membuktikan bahwa makan siang sekolah meningkatkan kehadiran, mengurangi angka putus sekolah, dan memperbaiki kemampuan kognitif siswa.
Jika dikelola dengan benar, MBG berpotensi menjadi investasi jangka panjang yang dampaknya melampaui sekadar perut kenyang.
Namun di atas potensi itu, bayangan keracunan massal terus menghantui.
Penelitian Fitriah dkk. mendokumentasikan sejumlah kasus keracunan pangan dalam program makan sekolah di Indonesia, lengkap dengan analisis faktor risiko. Higienitas dapur yang buruk, rantai dingin yang tidak terjaga, serta pengawasan mutu yang lemah menjadi biang keladinya.
Yang mengkhawatirkan, insiden ini bukan kejadian tunggal. Polanya berulang di berbagai daerah, menandakan masalah sistemik, bukan sekadar kelalaian individual.
Kontradiksi ini menjadi ironi pahit. Program yang dirancang untuk menyehatkan justru berpotensi menyakiti. Anak-anak yang seharusnya pulang.
PENULIS: Siti Aisyah Richa Taruna & Nur Izral Fatony.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Pertanian Peternakan, Jurusan Teknologi Pangan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment