Kampus
Keislaman
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Tidak Kuat atau Tidak Niat? Menelusuri Alasan Terjadinya Fenomena Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan
APERO FUBLIC I OPINI.- Di Indonesia, mayoritas umat yang beragama Islam senantiasa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah, namun sebagian kecil tetap ada yang tidak menunaikannya dengan beberapa alasan, seperti tidak mampu menahan lapar ataupun lupa bangun ketika waktu sahur.
Hal ini menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan umat beragama Islam tertinggi di dunia.
Menurut cendekiawan muslim, ibadah adalah taat kepada Allah yang diiringi cinta kepada-Nya. Jika puasa adalah ketaatan kepada Allah dan cinta kepada-nya, lalu mengapa masih ada yang tetap tidak melaksanakannya?
Menurut pendapat penulis, sekelompok orang yang membatalkan puasa karena tidak kuat menahan lapar itu bukan semata-mata faktor fisik, melainkan lemahnya iman dan kontrol kesadaran diri.
Hal ini menunjukkan terjadinya krisis dalam memahami makna ibadah, sehingga berpuasa dianggap untuk membebani diri, bukan sebagai kewajiban atau memenuhi kebutuhan rohani.
Berikut ini ialah alasan mengapa sekelompok orang tidak berpuasa:
Pertama, alasan tidak mampu menahan lapar sering kali digunakan oleh kalangan remaja untuk membatalkan puasa. Padahal tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi terhadap pola makan tertentu, termasuk puasa.
Berpuasa sendiri dapat meningkatkan metabolisme dan mendukung detoksifikasi alami pada tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa faktor fisik yang tidak mampu seperti ini bukanlah penyebab terjadinya batal puasa, melainkan kurangnya iman dan juga mental.
Kedua, lupa sahur juga sering dijadikan alasan klasik untuk tidak berpuasa, terutama di kalangan remaja. Sahur memang berperan penting sebagai sumber energi demi mendukung kelancaran berpuasa, namun tidak melakukannya pun bukan berarti berpuasa tidak dapat dilakukan. Karena secara medis, tubuh kita masih memiliki cadangan energi.
Dalam permasalahan ini, lupa sahur merupakan kurangnya kedisiplinan dengan waktu tidur yang tidak sesuai, sehingga disarankan untuk mengatur waktu yang benar.
Di sisi lain, perlu dipahami bahwa tidak semua umat yang beragama Islam tapi membatalkan puasa itu dianggap salah. Dalam ajaran Islam, terdapat sebuah keringanan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh, sakit, ataupun dalam keadaan darurat yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, penilaian mengenai seseorang ataupun individu harus memahami situasi secara menyeluruh.
Pada akhirnya, Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah kesempatan untuk meningkatkan iman serta melatih kontrol kesadaran diri sebagai manusia yang mampu menjalankannya. Alasan-alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk tidak berpuasa, kecuali dalam keadaan darurat.
Oleh karena itu, untuk mengatasi fenomena tidak berpuasa ini, diperlukan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas spiritual seseorang, sehingga puasa dapat dipahami sebagai sebuah kebutuhan rohani dan kewajiban bagi umat beragama, bukan sebagai hal untuk membebani diri.
PENULIS: Juanda
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment