2/15/2022

ANDAI-ANDAI: Asal Usul Burung Hantu

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulukalah, hiduplah seorang janda miskin bersama dua anaknya. Anak laki-laki berumur tujuhbelas tahun, bernama Majana dan anak perempuan berumur sepuluh tahun, Majani. Suaminya telah meninggal tujuh tahun lalu. Dia tinggal disebuah pondok yang sederhana, berlantai bilah bambu beratap daun rumbiah dan berdinding kulit pohon. Tempat tinggalnya itu, jauh berbeda dengan rumah-rumah penduduk. Terbuat dari papan kayu, beratap sirap, dan bertiang kayu onglen (kayu besi).

“Nak, bagaimana bisa melamar anak gadis orang. Sebab kita begitu miskin. Kita tidak ada uang, emas, sapi atau kerbau.” Ujar janda miskin itu.

“Ibu, saya mau menikah. Tolong lamarkan anak gadis seseorang atau semuanya di Talang kita ini. Mungkin ada satu orang gadis yang mau.” Kata anak lelakinya. Karena anak memaksa terus, akhirnya si janda miskin menyetujuinya. Keesokan harinya, dia mendatangi setiap rumah warga yang ada anak gadis. Sesampai di rumah seorang warga, dia mengutarakan lamarannya.

“Begini Paman, saya melamar anak gadis paman untuk dijadikan istri anak bujang saya.” Ujar janda miskin.

“Ohhh, maaf. Anak gadis saya sudah ada tunangan dan akan segera menikah.” Kata orang itu. Sesungguhnya anak gadisnya belum ada tunangan, alasan sebagai penolakan. Begitulah seterusnya, si janda miskin mendatangi setiap rumah dengan tujuan sama. Ada juga gadis yang menerima, tapi kedua orang tuanya menolak. Betapa malu si Janda miskin, karena tak satupun lamarannya ditolak.

“Umak, jangan menangis yang penting sudah berusaha. Aku juga meminta maaf, sebab Aku telah meminta ibu melamar.” Kata Majana. Waktu berlalu, kini tinggal cerita yang masih terdengar di tengah masyarakat.

“Kasihan juga, tidak ada satupun keluarga yang menerima lamarannya.” Kata sekelompok ibu-ibu yang suka membicarakan kekurangan orang lain.

“Terlalu miskin, mana ada yang mau menerima. Makan saja sulit, bagaimana mau melamar anak orang.” Kata seorang ibu-ibu sewaktu mandi. Si Janda miskin hanya diam saja. Dia buru-buru pulang. Betapa sedih dan sakit hatinya mendengar perkataan ibu-ibu di Talangnya yang selalu merendahkannya.

*****

Waktu berlalu, anak-anak gadis yang dilamar telah dijodohkan dengan pemuda-pemuda lainnya. Sehingga tinggallah anaknya seorang yang masih belum menikah.

“Nanti jadi bujang tua, kalau tidak ada yang mau menerima lamarannya. Kasihaaannn.” Begitulah bincang-bincang ibu-ibu yang sengaja di kuatkan agar terdengar si Janda miskin.

“Makan saja, makan ubi saja. Bagaimana mau menghidupi anak perempuan orang.” Ujar seorang ibu-ibu.

Sebagai seorang manusia biasa si Janda miskin akhirnya jatuh sakit. Hari demi hari sakitnya bertambah parah dan parah. Warga mendengar kalau dia jatuh sakit. Kedua anaknya merawatnya dengan penuh kasih sayang. Melihat anak-anaknya sedikit menghibur jiwanya. Sehingga janda miskin itu masih bertahan.

Suatu hari, janda miskin itu pergi keluar rumah. Dia merasa bosan berada di dalam rumah. Membawa tubuhnya yang lemah dia menyusuri jalan di sisi hutan. Dia melihat anak lelakinya sedang mengambil kayu bakar.

“Umak, nak kemana.?” Baiklah Mak pulang.” Kata anaknya yang melangkah memikul kayu bakar.

“Tidak apa anakku, Umak cuma nak jalan sebentar agar cepat sehat.” Katanya, pergilah dia sedikit lebih jauh. Melangkahlah janda miskin itu perlahan membawa tubuhnya yang lemah. Ternyata dia mendatangi kuburan suaminya. Dia bercerita dan membersihkan kuburan suaminya. Setelah lelah dia mau beranjak pulang. Saat itu, sepuluh orang ibu-ibu yang sedang menggendong keranjang rotan yang penuh kayu bakar berlalu.

“Wahhh, sudah sembuh yang sakit karena tidak ada yang mau menerima lamarannya?.” Ujar seorang ibu-ibu.

“Saya nasihati kamu, jangan sedih biar tidak sakit. Kau sadar diri sebab keadaan kamu yang memang kekurangan, ya.” Kata seorang ibu-ibu lagi.

“Cukup, sudah. Ibu-ibu, jangan begitu. Kalian harusnya tidak berbuat seperti ini. Setiap perbuatan buruk ada hukumannya.” Seorang ibu-ibu membelah dan dia memang wanita yang baik. Dia tidak pernah menyakiti orang lain apalagi berbuat jahat.

“Sudah, jangan diambil hati Mak Majani.” Katanya menghibur.

“Biar saja, agar dia tahu diri sedikit.” Ibu-ibu memang memusuhi janda miskin itu, karena mereka takut suami mereka tergoda dan menjadikannya istri kedua.

“Kalian terlalu sekali, aku tidak pernah mengganggu kalian.” Kata Ibu Majani dengan sedih hati, seketika tubuhnya yang lemah jatuh ke tanah. Ibu yang baik menurunkan keranjangnya dan berlari membantunya.

Entah apa yang terjadi tiba-tiba ada angin bertiup kencang menerpa pekuburan itu. Daun pepohonan, semak-semak bergoyang-goyong hebat. Kilat membelah langit, angin menderu-deru dan petir menyambar-nyambar hebat. Awan hitam menutupi langit sekitar, semua di pekuburan menjadi takut.

“Guuaarrrrr. Guuaaarrrrr.” Petir menyamabar keras dipekuburan, pohon dan semak yang tersambar menjadi terbakar dan berubah hitam. Asap memenuhi sekitar pekuburan dan kejadian aneh terjadi. Sekelompok ibu-ibu tadi telah hilang.  Hanya keranjang, pakaian, alas kaki yang tergeletak.

“Uukkkk.” Uukkkk.” Tampak sejenis burung yang berwajah seram bertengger di keranjang-keranjang bergeletakan. Si Janda miskin dan ibu yang baik terkejut bukan kepalang melihat kejadian itu. Ternyata mereka telah berubah menjadi burung yang aneh, belum pernah mereka lihat. Keduanya juga takut melihat rupa burung yang seram menakutkan. Burung-burung itu terbang ke atas dahan-dahan pohon. Mereka bergerombol terbang disekitar pekuburan.

Penduduk Talang gempar mendengar cerita dari ibu yang baik hati. Penduduk menemukan burung-burung itu berkeliaran di pekuburan Talang Gajah Mati. Karena rupa burung yang menyeramkan dan tinggal disekitar kuburan. Maka mereka menamakannya, burung hantu. Konon keturunan ibu-ibu jahat itulah dikemudian hari yang sering berkumpul-kumpul membicarakan keburukan, mengupat, mengibah, suka melihat orang susah, suka menghina orang lain di Talang Gajah Mati. Sekarang Talang Gajah Mati sudah menjadi Desa Gajah Mati, salah satu desa di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin.

*****

Setahun kemudian, Raja negeri itu datang ke Talang Gajah Mati. Dia mencari seorang laki-laki yang memiliki keris emas. Raja menemui Datu Talang Gajah Mati, dan menginap di Balai Talang. Prajurit mengumumkan tentang kedatangan raja, kalau ada yang mengetahui atau memiliki keris emas agar menghadap raja.

“Pengumuman untuk semua, barang siap yang memiliki atau mengetahui tentang keris emas, untuk menghadap raja. Bagi yang tahu akan mendapat hadiah seratus keping uang emas.” Kata prajurit. Mengetahui pengumuman itu, si janda miskin terkejut dan berpikir sejenak. Kalau dia menyerahkan keris emas milik suaminya, mungkin dia dapat uang emas itu. Dia akan memiliki uang untuk membeli rumah dan membiayai anaknya menikah. Oleh karena itulah, dia meminta putranya Majana untuk menemani menghadap raja di balai desa.

“Ampun baginda raja, hambah mendengar pengumuman prajurit paduka tentang keris emas.” Kata si janda miskin yang duduk bersimpu ditemani Majana.

“Benar sekali, apakah kalian berdua mengetahui informasinya.” Kata raja. Raja memperhatikan wanita di hadapannya, dia melihat tanda-tanda kecantikan dulu. Kulit putih, berambut panjang hitam. Tentulah dulu dia gadis yang sangat cantik.

“Benar baginda, saya memiliki karena peninggalan suami hamba.” Kata janda miskin, lalu dia meminta Majana mengeluarkan keris emas dan raja mengambil dan mengamati. Dia mengangguk dan bertanya lagi.

“Kau istrinya, dan ini anakmu. Dimana suamimu sekranga?.” Ujar raja.

“Suami hamba telah meninggal tujuh tahun lalu, karena sakit. Dia anak tertua kami, satu lagi anak perempuan kami di ruma.” Jelas janda itu. Raja menangis keras memeluk pemuda gagah dihadapannya.

“Cucuku, menantuku.” Kata raja dengan keras. Semua terkejut tidak menyangkah kalau pemilik keris emas adalah anak raja. Raja menceritakan dahulu putranya bernama Sambralan pergi dari istana setelah permintaannya untuk menikahi gadis yatim piatu di sebuah talang. Raja menyesal dan meminta janda miskin beserta kedua anaknya untuk tinggal di istana.

Penduduk Talang Gajah Mati menyesal karena telah menolak lamaran si janda miskin. Sekarang anaknya sudah menjadi seorang pangeran dan pewaris tahta. Namanya kemudian menjadi Puyang Majana Sambralan. Setelah kakeknya mangkat dia dinobatkan menjadi raja, serta menikahi putri raja seberang.

Oleh. Joni Apero
Editor. Arip Muhtiar, S.Hum.
Tatagambar. Dadang Saputra.
Palembang, 16 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment