2/15/2022

ANDAI-ANDAI: Mulutmu Harimaumu.

APERO FUBLIC.- Dikisahkan pada suatu masa di Talang Gajah Mati, hiduplah sepasang suami istri yang suka menghasut dan mengadu domba  warga, membuat gaduh dan membicarakan keburukan orang lain. Namanya Uwa Safa dan Dalu. Sifat suami istri ini sangat buruk, sehingga sering membuat keluarga, tetangga dan warga saling bertengkar.

Suatu hari, Safa melihat seorang janda dan seorang pemuda berakit berdua di sungai. Tampak keduanya begitu dekat dan akrab. Cik Safa tidak mengenali sang pemuda, tapi mengenali janda muda itu. Cik Safa mengintif dari balik semak di sisi tebing Sungai Keruh. Pulanglah Cik Safa dan mulai dia bercerita dengan ditambah-tambah pada warga.

“Aduu, si Lunar berdua-dua dengan bujang diatas rakit.” Katanya pada empat orang ibu-ibu di tangga sebuah rumah. Mereka memang sering menggosip, Uwa Safa, Ibu Juja, Ramu, Wayu, Nami.

“Benarkah itu, ayuk Safa.” Semua ibu-ibu terkejut. Semuanya dengan hangat membincangkan tentang Lunar janda muda yang berdua dengan anak muda diatas rakit. Cerita berkembang, dari berdua, menjadi berzina. Empat ibu-ibu pulang ke rumah begitu juga Uwa Safa, lalu berceritalah pada suami-suami mereka. Suami mereka juga melanjutkan cerita pada warga laki-laki lainnya. Talang Gajah Mati pun gempar, maka diputuskan untuk menangkap Lunar. Datu dan puluhan warga keesokan paginya pergi ke tebing sungai Keruh dimana Uwa Safa melihat.

“Sutttttttt.” Sebua jaring terbuat dari rotan melintang Sungai Keruh. Lunar dan adiknya terkejut sekali. Belum habis terkejutnya, puluhan warga berdiri di tebing sungai meminta mereka ke darat. Karena tidak bersalah dengan santai Lunar dan adiknya naik, cuma mereka merasa bingung saja.

“Siapa dia Lunar.” Bentak Datu Talang Gajah Mati.

“Zamar, adik saya Puyang. Sebelum dia merantau ke negeri seberang, dia belajar silat pada puyang. Apa puyang sudah lupa.” Kata Lunar. Semua orang kaget bukan kepalang, perlahan mereka ingat dan mengenali Zamar. Pikiran marah dan hasut telah menguasai mereka sehingga mereka awalnya tidak mengenali Zamar. Zamar tampak tersenyum rama, sekarang dia tumbuh besar menjadi pemuda gagah. Zamar memberi hormat pada semua tetua talang.

“Kalian mau kemana?.” Tanya Datu dengan rama.

“Mau ke ladang, Puyang. Kita sedang mengetam padi. Adik membantu, dia juga mengangkut padi dengan rakit ke hulu.” Kata Lunar. Satu demi satu warga pergi dengan rasa kesal sebab berita yang tersebar di tengah masyarakat sudah sangat keterlaluan.

*****

Uwa Safa dan Suaminya menjual beberapa ekor sapi mereka. Setelah itu uangnya digunakan membeli kebutuhan sehari-hari. Sebagian dibelikan perhiasan satu kalung emas dan satu cincin emas. Sebagaimana biasanya Uwa Safa akan menggosif dan menceritakan kalau dia membeli kalung emas dan cincin.

“Wah, baru kalung emasnya, Wak Safa.” Tanya Bibi Juja.

“Benar, beli kemarin. Cincin juga satu.” Ujarnya seraya menunjukkan cincin di jarinya.

“Bagus sekali.” Kata yang lainnya sambil melihat dan menyentuh-nyentuh. Begitulah cerita mereka hari itu, selain membahas tentang perhiasan Uwa Safa, mereka juga menggosip hal lain. Setelah pulang keempat ibu-ibu juga bercerita tentang perhiasan Uwa Safa. Setelah itu, empat orang suami ibu-ibu juga bercerita di luar. Maka semua orang di Talang Gajah Mati mengetahui kalau Uwa Safa memiliki emas.

Segerombolan perampok mendekati Talang Gajah Mati. Mereka bengis, ada yang berjambang lebat dan ada pula yang mata satu. Mereka bersenjata tombak, panah dan pedang. Jumlah mereka sekitar sepuluh orang. Mereka mengendarai tiga perahu kajang, dan menyamar sebagai pedagang. Pimpinannya mengutus empat orang mata-mata, mencari tahu siapa yang punya banyak harta. Tibalah empat mata-mata di Talang Gajah Mati, semuanya menyebar dan mendengar cerita-cerita warga. Keempatnya mendengar kalau Uwa Safa punya satu kalung dan satu cincin emas.

Tiba juga mata-mata perampok di dekat kumpulan bapak-bapak. Mereka menceritakan kalau Uwa Dalu punya banyak emas. Dua orang mata-mata mencari posisi rumah Uwa Safa dan bertemu. Setelah itu, melaporlah mata-mata perampok ke pimpinan mereka di hutan.

“Baiklah kalau begitu, kita rampok malam nanti orang itu.” Kata pemimpin perampok. Pada malam harinya, rumah Uwa Safa dirampok dan semua hartanya di rampas termasuk kalung dan cincin emas barunya. Ternak sapi dan kambing juga dirampas oleh perampok-perampok itu. Sehingga membuat Uwa Safa dan suaminya jatuh miskin.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 15 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment