3/25/2021

Tokoh Bangsa: Haji Agus Salim

Apero Fublic.- Haji Agus Salim lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Dia anak ke empat dari Sutan Moehamad Salim, seorang jaksa di Pengadilan Negeri pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Sewaktu ayah beliau bertugas di Riau sebagai Jaksa Kepala.

Agus Salim dengan panggilan Agus sudah saat masuk sekolah. Karena ayahnya seorang pejabat kejaksaan, dia mendapat kesempatan untuk masuk sekolah untuk anak-anak orang Belanda, Europese Lagere School (ELS). Bakat kecerdasan Haji Agus Salim sudah terlihat, itu diungkapkan oleh Kepala Sekolah tempat dia sekolah.

Setelah tamat ELS, Haji Agus Salim meneruskan sekolah menengah pertama, Hogere Burger School (HBS) di Jkarta, dan lulus tahun 1898. Setelah selesai sekolah HBS dia bekerja di lingkungan Pemerintahan Kolonial Belanda sebagai Konsulat Belanda di Jedah. Dari tahun 1906 sampai tahun 1911. Dari sinilah beliau belajar Bahasa Arab dan mendalami ilmu pengetahuan agama Islam dengan membaca buku-buku yang terdapat di Konsulat.

Pada tahun 1912 dia pulang ke tanah kelahirannya, dan mempersunting gadis satu kampung dengannya. Bernama Zainatun Nahar binti Engku Almatsir. Satu tahun kemudian (1913) dikaruniahi anak yang diberi nama, Dolly. Dari pernikahannya mendapatkan delapan orang anak, Dolly, Totok, Jojet, Adik, Syauket, Islam, Bibsy dan Ciddiq. Anak-beliau beliau memanggilnya Pakcik dan istrinya Makcik.

Bibsy pernah tinggal di Kobe-Jepang bersama suaminya Sunharyo sebagai Konsul Republik Indonesia di Kobe. Dalam waktu cepat Bibsy dapat menguasai bahasa Jepang, pasih sebagaimana wanita Jepang lainnya. Sementara, anak beliau bernama Syauket dikemudian hari gugur sebagai kesuma bangsa saat bersama kawan-kawannya melakukan penyerbuan ke markas Jepang, Oktober 1945.

Haji Agus Salim merupakan seorang ayah yang berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Tujuh dari anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan formal. Namun berkah pendidikan beliau, anak-anak mampu menguasai ilmu pengetahuan umum dan agama dengan baik. Anak beliau sejak lahir sudah mulai dia ajarkan, sehingga diumur empat tahun sudah dapat berbahasa Belanda.

Ketika Belanda sudah meninggalkan Indonesia dan masa pendudukan Jepang. Beliau menilai sekolah-sekolah tidak lagi dalam pengaruh penjajah Belanda yang bersifat kolonialis. Dengan demikian anaknya bernama Ciddiq barulah beliau memasukkan ke sekolah formal, Sekolah Rakyat (SR).

Pendidikan yang ditanamkan pada anak-anak beliau adalah membaca. Sebab membaca akan dapat membuat orang berpikir logis karena banyaknya ilmu pengetahuan. Seperti Dolly waktu umur 15 tahun dan Totok umur 13 tahun. Mereka sudah membaca apa yang menjadi bacaan anak-anak sekolah AMS, seperti buku Mahabarata berbahasa Belanda. Mengenal dan hafal berbagai puisi dalam beberapa bahasa. Masa itu, mereka memilki buku bacaan Kun Je nog zingen dan lainnya.

Sementara anak ketiga beliau yang bernama, Jojet. Jojet menikah dengan suaminya bernama, Johan Sjahruzah yang pernah menjadi Sekjen Partai Sosialis Indonesi. Kemudian dia dikenal dengan panggilan, Nyonya Johan. Dalam pembicaraan dengan orang-orang sering Nyonya Johan memberi tahu kalau dia tidak pernah sekolah seperti orang pada umumnya. Karena dia memiliki pengetahuan luas dan menguasai beberapa bahasa asing.

Haji Agus Salim dan Intergritasnya

Haji Agus Salim adalah seorang pemimpin umat Islam dan negarawan pada masanya. Kehidupan beliau penuh dengan perjuangan untuk rakyat Indonesia. Haji Agus Salim mengajarkan pada kita bagaimana menjadi sederhana tidak menghalangi diri kita menjadi orang besar dan dihargai orang. Karena integritas diri sangat penting dalam menjalani hidup yang bermartabat.

Kehidupan Haji Agus Salim tidak bergelimang harta. Dia hidup sederhana dan selalu berpindah-pindah bersama keluarganya. Kemiskinan tidak membuat beliau menjadi berpikir materialistis. Bahkan semakin berwibawa dan berilmu. Harta paling berharga dirumahnya mungkin hanyalah buku-buku. Dari sinilah kita dapat melihat beliau sudah mampu melepas paham neofeodalisme dalam kehidupannya. Dimana kesuksesan dan keberhasilan, nilai diri dan kelebihan seseorang tidak diwakili dengan kepemilikan materi dan kedudukan.

Pada tahun 1923 setelah Agus Salim dan Tjokroaminoto menjadi Anggota Dewan Rakyat setara Majelis Permusyawaratan Rakyat sekarang. Selama tiga tahun menjadi anggota Dewan Rakyat mewakili Sarekat Islam mereka mengundurkan diri. Menurut Haji Agus Salim Dewan Rakyat waktu itu hanyalah Komedi Ngomong. Serta hanya memperkuat Pemerintahan Kolonial Belanda dan menghambat kemerdekaan Bangsa Indonesia. Honor yang besar tidak menjadikan kedua tokoh itu lunak dan menghentikan cita-cita perjuangan mereka.

Pada tahun 1925 Haji Agus Salim menjadi pimpinan harian Hindia Baru. Milik sekelompok orang diantara orang Belanda. Mereka mengenal sepak terjang Haji Agus Salim, dalam politik dan kemampuannya. Waktu menerima tawaran menjadi pimpinan harian Hindia Baru beliau mengajukan syarat. Yaitu, mengerjakan pekerjaannya dengan kebebasan. Hasilnya harian Hindia Baru maju pesat.

Hindia Baru tentu menjadi buah pemikiran dari Haji Agus Salim. Dalam memuat tulisan dia tidak pandang bulu, menyalahkan atau memuji siapa pun. Tidak terkecuali menyalahkan kebijakan Kolonial Belanda. Karena itu, membuat para pemilik Hindia Baru tidak suka pada Agus Salim.

Mereka meminta kritik-kritik beliau pada Kolonial Belanda disampaikan lebih lunak. Oleh karena itu, Haji Agus Salim akhirnya mengundurkan diri. Dalam organisasi Haji Agus Salim aktif dalam Syarekat Islam, perna menjadi penasihat di Jong Islamieten Bond (JIB). Yang didirikan oleh Samsuridjal tahun 1925, bersifat Islam nasionalis.

Tahun 1926 keluarga Haji Agus Salim kembali lagi ke Kota Jakarta. Beliau kemudian berdirilah harian Fajar Asia, dia dan Tjokroaminoto menjadi pemimpin harian tersebut. Tahun 1930 Haji Agus Salim menghadiri konferensi Buruh Internasional di Jenewa sebagai nasihat delegasi buruh Nederland (Indonesia). Dalam kesempatan pidato, pertama dalam Bahasa Inggris dan kedua dalam Bahasa Prancis. Berarti beliau menguasai bahasa Belanda, Arab, Inggris dan Prancis.

Haji Agus Salim dalam karir politiknya pernah menjabat sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Sjahrir II (1946), dan III (1947). Menjabat Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), dan Kabinet Hatta (1948-1949). Haji Agus Salim semasa Pemerintahan Kolonial Belanda pernah diasingkan ke Brastagi bersama Seokarno dan Sjahrir.

Setelah Belanda menduduki Yogyakarta pada 20 Desember 1948. Mereka dipindahkan ke Prapat. Kemudian mereka dipindahkan lagi ke Pulau Bangka berkumpul dengan Bung Hatta dan kawan-kawan. Beliau sangat bersyukur karena dia menjumpai Indonesia merdeka. Dia wafat pada tanggal 4 November 1954. Kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tanggal 27 Desember 1961, melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 26 Maret 2020.

Sumber: Yanto Bashri dan Retno Suffatni (ed). Sejarah Tokoh Bangsa. Dalam: Mohammad Roem. Haji Agus Salim Memimpin Adalah Menderita. Yogyakarta: Pustaka Tokoh Bangsa, 2011.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment