8/26/2020

Berita Bahasa Melayu 700 Tahun Lalu.

Apero Fublic.-
Tahukah kamu tentang fakta Bahasa Indonesia sejak zaman dahulu. Tahukah kamu mengapa Bahasa Melayu menjadi Bahasa Nasional negara Indonesia, Kerajaan Malaysia, dan Bahasa resmi Kerajaan Brunai Darussalam.

Bagi orang-orang yang buta sejarah dan tidak memiliki pengetahuan kebudayaan. Mereka menyangka bahasa Indonesia sekarang hanya milik Indonesia. Setiap kali mereka mendengar Bahasa Resmi Malaysia dan Brunei Darussalam mereka bilang memakai bahasa Indonesia.

Banyak yang beranggapan bahasa Indonesia adalah bahasa yang baru muncul. Berpatokan pada Sumpah Pemuda atau saat Indonesia merdeka di tahun 1945. Bahkan orang-orang yang memiliki panatisme kesukuan.

Menganggap Bahasa Indonesia bukanlah Bahasa Melayu yang telah digunakan nenek moyang orang Indonesia sejak dahulu. Dimana Bahasa Melayu digunakan untuk bahasa perhubungan, perdagangan. Baik berhubungan dengan orang asing atau sesama orang Indonesia.

Mereka tidak menyadari kalau bahasa Melayu telah digunakan di pasar, bahasa resmi Kerajaan, penyebaran agama-agama, dan komunikasi antar daerah dan asing.

Perubahan nama bukan berarti; kosa kata, sistem bunyi, kalimat, dan tatabahasa juga semua ikut berubah. Alasan perubahan nama bahasa untuk menyatukan bangsa Indonesia yang tidak tahu kalau mereka sesunggunya satu ras yaitu Austronesia.

Mengapa bahasa Melayu menjadi bahasa lingwapranca di Asia Tenggara dan terkhusus di Indonesia. Karena peradaban awal orang Indonesia terletak di Palembang-Jambi zaman Kedatuan Sriwijaya. Diikuti zaman berikutnya Bahasa Melayu menjadi bahasan penyebaran Agama Islam. Dengan demikian, dialog bahasa Melayu Sriwijaya yang berkembang ke seluruh Asia Tenggara dan Indonesia. Kurang lebih 600 tahun hagemoni Kedatuan Sriwijaya. Sehingga budaya Kedatuan Sriwijaya tersebar di Asia Tenggara.

Nama Indonesia baru muncul diakhir abad ke 19 Masehi. Sebelum terbentuknya Negara Indonesia. Sebelum merdekanya Brunaidarussalam dan Malaysia. Bahasa kita di kenal dengan nama Bahasa Melayu. Buku tatabahasa semasa Kolonial Belanda yang diterbitkan Balai Pustaka di tahun 1917, berjudul "Buku Tatabahasa Melayu."

Belum ada nama Bahasa Indonesia. Saat sumpah pemuda baru dirubah nama Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia.
******
Pada tahun 1522 Masehi, kosakata Bahasa Melayu yang menjadi pegangan orang Eropa dikumpulkan oleh penjelajah Bangsa Italia, bernama Antonio Figafetta. Dia bergabung dengan Magellan dalam pelayaran mengelilingi dunia. Magellan kemudian tewas di tangan prajurit Lapulapu di pedalaman Pulau Filipina.

Beruntung Antonio Figafetta dan sisa awak kapal masih dapat menyelamatkan diri. Mereka akhirnya tiba di Brunai, dan pulangnya dibekali dengan cengkeh Tidore. Di dua kerajaan Melayu (Brunai-Tidore) Pigafetta mengumpulkan daftar kata Bahasa Melayu, dan terjemahan kedalam Bahasa Italia. Kemudian daftar kata diterbitkan dalam Bahasa Latin-Melayu dan juga versi Bahasa Prancis-Melayu.

Kalau kita ukur, bahasa Melayu dikumpulkan di daerah yang sangat jauh berjarak sekitar 2000 kilomter jauh di Benua Eropa. Hal demikian karena Bangsa Eropa tahu kalau betapa pentingnya Bahasa Melayu untuk kepentingan mereka di Asia Tenggara. Ada ungkapan pelaut Eropa, “Kalau kamu mengerti Bahasa Melayu, kamu tidak ada tersesat di Asia Tenggara.”

Sangat menakjubkan sekali kata-kata dan kalimat Bahasa Melayu dalam kurun waktu 700 tahun lamanya masih belum begitu berubah. Tapi justru semakin baik dan tersusun rapi. Sampai sekarang masih digunakan di Asia Tenggara. Berikut contoh kalimat Bahasa Melayu (Indonesia) pada abad ke 15 Masehi.

Bahasa Melayu Tahun 1522.
Apenamaito?
Tida taho.
Sudah macan?.
Berapa bahasa tan?.
 
Bahasa Melayu (Indonesia) 1997.
Apa nama itu?.
Tidak tahu.
Sudah makan?.
Berapa bahasa tahu?.

Selain itu, sajak berirama dari abad ke 16 Masehi yang memperingati kematian Dom Paulo da Gama, Kapten dari Malaka pada pertempuran laut pada tahun 1533. Sajak kemungkinan ditulis oleh orang Melayu sekutu Portugis atau orang Portugis yang menguasai Bahasa Melayu. Berikut adalah cuplikannya.

Bahasa Melayu 1534 (Kurang Lebih).
Capito D. Paulo
Baparam de Pungor.
Anga’ dia malu.
Sita pa tau dor.

Bahasa Melayu (Indonesia) 1997 terjemahan versi pertama.
Kapitan Dom Paulo.
Berperang di Pungur.
Ngak dia malu.
Setapak tan undur.
 
Berikut ini terjemahan versi kedua oleh Linehan (1951) yang menterjemahkan sajak tersebut secara akurat .
Kapten Dom Paulo.
Berperang di Pungor.
Dia tidak mau mederita malu.
Bukan jalan dia berikan untuk mundur.

Kata Melayu tersebut seperti Ondor/undur masih digunakan di pedalaman Sumatera Selatan. Kata Ondor/undur berarti mundur, pergi, menjauh. Untuk kata angga’ masih melekat pada masyarakat Melayu Jakarta (Betawi). Kata angga’ atau enggak saat ini dikira atau dianggap kata dalam Bahasa Indonesia gaul.

Tapi sebenarnya kata angga’ atau enggak adalah kata dalam Bahasa Indonesia kuno. Mungkin kamu pernah mengirim pesan ke sahabat kamu dengan tulisan engga’ dengan tanda koma di atas. Itu kata kuno bahasa kita. Tapi kamu harus bangga, itu menandakan kalau bangsa Indonesia sudah ada sejak lama, sejak dahulu, sejak purba.

Informasi-informasi lain misalnya tentang Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia datang dari Kerajaan Ternate. Pada tahun 1521 dan 1522 Sultan Abu Hayat, raja kecil dari Ternate. Kesultanan yang kuat dalam pandangan Tidore. Pada masa itu dimana Pigafetta mengumpulkan daptar kosa kata Bahasa Melayu.

Antonio Figafetta mengirim surat ke Raja Portugal tentang intrik politik dan peperangan di kepulauan Maluku. Mereka dalam surat-surat diplomatik dan bahasa resmi adalah Bahasa Melayu. Menggunakan aksara Arab Melayu atau Aksara Jawi. Kata Jawi adalah semacam kesatuan para ulama di Asia Tenggara. Banyak juga yang mengartikan kata Jawi dengan Nusantara, istilah Islam.

Selain itu, Bahasa Melayu juga digunakan untuk menulis karya sastra dan karya ilmiah ulama-ulama Nusantara. Dari Aceh, Palembang, Riau, Johor, Patani Darussalam di teluk Siam yang sekarang menjadi bagian dari negara Thailand, di Mataram (NTB), Banten, di Kalimantan, Sulawesi, Sulu, Filifina. Serta penterjemahan kitab-kitab bahasa Arab ke Bahasa Melayu.

Demikian, berita 700 tahun lalu tentang Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia. Jauh lagi, pada prasasti-prasasti peninggalan Sriwijaya abad ke 7 sudah memakai Bahasa Melayu kuno.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Agustus 2020.
Sumber: James T. Collins. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat. Terj. Alma Evita Almanar. Jakarta: KITLV-Jakarta, 2011.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment