7/24/2020

Kritik Sosial: Sastra Pembaratan Zaman Orde Baru

Apero Fublic.- Bangsa Indonesia mengetahui kalau pernah melalui zaman kurang baik, Orde Baru. Zaman yang penuh dengan keburukan rezim dan kesewenangan penguasa. Zaman otoritarianisme Orde Baru juga sarat dengan pengaruh Barat yang sangat besar. Produk Amerika Serikat dan Eropa bermunculan membanjiri pasaran. Indonesia jatuh ke tangan Barat.

Rezim Orde Baru yang didukung ABRI adalah rezim yang menyatu dengan Barat. Memang sudah menjadi rahasia umum. Kalau rezim militer setelah masa perang dingin, ada keterkaitan dengan kekuatan Barat. Adanya keterkaitan tersebut, tentu berdampak pada pengruh kebudayaan.

Pada masa Orde Baru mencapai 32 tahun. Negara ini hancur oleh koruptor dan kroni elit militer. Pembangunan negara lambat, dan korupsi dimana-mana. Kebebasan pers dijagal dan pengkritik diculik atau dipenjara. Musuh pertama rezim Orde Baru adalah Islam.

Upaya untuk menjegal agar Islam tidak bangkit di negara Indonesia dilakukan dengan cara apa pun. Dari program jangka pendek atau program jangka panjang. Jangka pendek melarang partai-partai Islam berkembang, dan meniadakan politik Islam. Memang ada Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tapi partai ini mandul dan memalukan.

Untuk mengontrol umat Islam dari semua sektor. Mulai dari saat umat Islam ibadah, atau kegiatan yang mengumpulkan orang cukup banyak diawasi oleh ABRI. Seperti yasinan, tahlilan dan khutbah Jumat. Juga menghilangkan pengaruh budaya bersimbol keislaman.

Seperti melarang berhijab dan masjid dibangun hanya dengan cara atap tingkat-tingkat saja. Corongnya adalah yayasan Islam Pancasilah. Tapi kejahatan kebudayaan mereka sudah berakhir. Lihat saja dimana-mana masjid atap tingkat miskin arsitektur itu sudah dibongkar masyarakat sesuai keinginan mereka.
Program jangka panjang melemahkan Islam seperti tidak ada pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Yang paling spektakuler adalah mendorong industrialisasi sastra hitam. Baik di dalam negeri atau inpor dari luar negeri.

Kesastraan adalah semua yang bersifat karya seni yang menyampaikan pesan tersirat atau tersurat. Seperti bentuk video, bentuk film, bentuk tulisan, dan bentuk gambar, foto atau lukisan. Kesastraan hitam adalah semua karya sastra yang memberikan pengaruh buruk. Kesastraan adalah kekuatan yang besar sekali dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Dalam waktu cepat atau lambat akan mengubah atau melahirkan pandangan budaya yang baru. Sebuah kebudayaan yang sesuai dengan kesastraan tersebut. Apabila kesastraan itu mewakili sebuah kebudayaan. Maka kebudayaan itu akan menjadi kebudayaan pada masyarakat konsumsi. Seperti di Indonesia sekarang.

Dalam hal ini, semasa Orde Baru berdiri 32 Tahun lamanya. Memunculkan kesastraan yang bersifat pembaratan. Untuk melawan budaya Indonesia yang bersatu dengan Islam. Maka dimunculkanlah kesastraan hitam atau Pembaratan norma-norma Indonesia. Yang paling brilian adalah mendekatkan seks, porno grafi dan novel porno.

Sebelum Indonesia terbentuk, nama-nama bangsa Indonesia sesuai dengan kebudayaan daerahnya. Misalnya orang Melayu Sunda sesuai kebudayaan Sunda. Orang Melayu Sumatera sesuai dengan budayanya, di Sulawesi sesuai orang Sulawesi.

Kebudayaan dan norma-norma susilah juga sesuai dengan adat Istiadat daerah masing-masing. Wilayah penduduk muslim sesuai dengan Islam. Saat mencari jodoh sesuai dengan adat yang baik. Wanita dan laki-laki menjaga jarak sosial.

Kemudian, Rezim Otoritarianisme Orde Baru yang didukung ABRI. Berhasil mengambil kekuasaan dari Rezim Orde Lama. Kemunculan rezim Orde Baru adalah sebab ketakutan Barat Indonesia menjadi negara Komunis.

Karena komunis cepat atau lambat akan mengambil alih kekuasaan dari pemerintah yang sah. Gerak cepat, Orde Baru dapat menghancurkan komunis, sekaligus didukung dan dipengaruhi Barat. Dimana mereka ingin menguasai Indonesia secara ekonomi dan budaya. Maka sistem Barat juga dihadirkan di Indonesia. Berkat persekutuan tersebut.

Sekaligus bertujuan untuk menghalangi kebangkitan kebudayaan Islam dan kekuatan Islam. Sehingga kemenangan besar pada politik internasional Barat. Mengalahkan komunis, mengalahkan Islam, dan memenangkan ekonomi-budaya di Asia Tenggara, khusus di Indonesia.

Rezim Orde Baru yang berhutang budi pada Barat terutama Amerika Serikat. Sekaligus untuk melanggengkan kekuasaan mereka, orang-orang Orde Baru. Maka mereka berafiliasi semuanya ke dunia Barat.

Penduduk Indonesia yang masih bodoh, miskin, terbelakang tentu tidak berdaya menghadapi serangan mereka. Sehingga mereka tidak mengerti dengan maksud-maksud baratisme di Indonesia.

Kesastraan hitam yang dari Barat, kemudian industri di Indonesia juga merujuk ke Barat. Mulai dari sistem berpakaian, sistem adab dan sikap, cara berbicara, nama-nama, produks-produk, semuanya mengikuti Barat. Orang Indonesia juga tolol sekali. Apa-apa mengikuti Barat meminta dibilang maju atau modern. Tanpa memperhatikan norma kebudayaan bangsa Indonesia.

Dalam pembuatan film jalan cerita dan norma merujuk Barat. Sedangkan orang-orang Barat tidak memiliki norma-norma susilah. Tentu saja mereka membuat film yang sesuai kebudayaan mereka. Di Indonesia semua hal tersebut dianggap kebudayaan orang moderen, kebudayaan orang maju. Seharusnya, yang dipelajari adalah teknologi dan ilmu pengetahuan bukan norma sosialnya.

Sehingga mereka meniru gaya-gaya hidup yang tidak karuan tersebut. Sudah menjadi budaya orang Indonesia kalau meniru adalah meniru yang buruk-buruk. Berbeda dengan Jepang dan Cina dahulu. Dimana mereka meniru teknologi dan integritas akademisinya.

Kamu tentu sering melihat orang pacaran berciuman di jalan. Ketemu di tempat ramai berpelukan dan berciuman, memberi bunga pada pacar, memberi coklat, tidur di hotel dengan pacar, kumpul kebo, berzina. Semua hal tersebut dicontoh melalui kesastraan, film, novel, video Orde Baru.

Begitu juga nama-nama Barat, seperti David, Robet, Joni, Tania, juga di contoh dari budaya Barat melalui film dan novel. Bintang-bintang dalam film selalu menggunakan nama Barat. Jarang nama yang sesuai kebudayaan Indonesia terutama budaya yang berpengaru Islam. Kalau ada budaya Indonesia nama orang Jawa. Karena paham sukuisme dari penguasa Orde Baru.

Sastra hitam kemudian didukung dengan bioskop, hotel melati, video cd bajakan yang murah. Kemudian novel-novel seks yang tersebar di pasar-pasar dengan harga murah. Sehingga muncul pengaruh yang sangat kuat. Kehidupan berbudaya dan Islami masyarakat Indonesia terkikis hampir habis semasa Orde Baru dan puncaknya setelah runtuhnya Orde Baru. Sekarang bom waktu meledak.

Sekarang kehidupan Bangsa Indonesia telah terpengaruh Budaya Barat dan Amerika Serikat. Orang-orang yang ingin dibilang moderen dan terus bergelut dengan keburukan akhlak sosial mereka. Miris lagi, tidak ada pendidikan kebudayaan untuk anak-anak. Hanya sedikit tentang membaca dan menulis saja.

Rujukan hidup generasi milenial sinetron, film dan novel. Mereka lebih kurang ajar dan individual. Berlaku, bersikap, bertindak seperti di dalam sinetron. Kalau urusan cinta lebay seakan dia sedang berakting jadi bintang sinetron. Berciuman dan berzina adalah hal biasa. Tanpa mengerti kalau perbuatan itu kotor dan berdosa.

Pembaratan dalam kesastraan masa Orde Baru telah berakar di negara Indonesia. Pemikiran anak bangsa mandul dan tumpul. Mereka hidup berpikir bagaimana makan dan urusan seks. Tidak ada dialog diantara anak-anak bangsa selain dialog pacaran dan seks. Kalau urusan membaca buku dan sosial, malas dan tidak peduli.

Mari kita gali kembali kebudayaan asli bangsa kita. Kita bangkit dengan mandiri memajukan budaya bangsa sendiri. Jangan menilai kemajuan dari rok mini, dari gedung, dari seks bebas, dari pasilitas umum, dari rokok yang mengepul.

Tapi kemajuan tersebut terletak pada adab, kebaikan sosial, keteraturan sosial, kesehatan hidup dan kebersihan hidup, kebersamaan dan kejujuran serta tanggung jawab sebagai manusia. Kesetiakawanan sosial, cinta bangsa, peduli. Waktu kita masih panjang dan kebudayaan rekayasa Barat mulai runtuh sendiri.

Islam mulai bangkit kembali, kesadaran manusia mulai muncul. Betapa buruknya kehidupan budaya liar dan tidak bernorma. Kenapa disebut liar, karena bebas masih memiliki aturan-aturan yang disepakati. Sedangkan liar, hidup menurut diri pribadi tanpa memliki kesetiakawanan sosial.

Dalam artikel ini bukan sentimen anti Barat atau membenci Orde Baru. Tapi bentuk kritik sosial pada masa-masa sebelumnya. Sekaligus memberi tahu, kalau sastra hitam memberi pengaruh buruk bagi kehidupan berbangsa, sosial masyarakat.

Mengajak semuanya untuk mencintai budaya bangsa kita, yang muliah. Budaya yang diwariskan nenek moyang kita. Salam perubahan, salam Revolusi BIRU.

Oleh. Rizki Alamsyah Putra.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Banda Aceh, 25 Juli 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment