7/25/2020

Sampah Rumah Tangga: Pengancam Kelestarian Lingkungan Sungai dan Laut

Apero Fublic.- OKU Timur. Sungai Komering adalah anak sungai dari Sungai Musi. Salah satu sungai terpanjang di Provinsi Sumatera Selatan. Bermuara ke Sungai Musi dan hulunya terletak di Bukit Barisan dan Danau Ranau. Sungai Komering diperkirakan membentang sepanjang 360 kilometer.

Sungai Komering adalah jalan sejarah dan kebudayaan masyarakat yang mendiami kawasan sejak dahulu. Sungai Komering mengaliri beberapa kabupaten, diantaranya Kabupaten OKU Selatan (Ogan Komering Ulu Selatan), Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), OKI (Ogan Komering Ilir), OKU (Ogan Komering Ulu).

Sungai menjadi transportasi penduduk ke wilayah hilir, terutama ke Kota Palembang. Kemungkinan sudah sejak jauh sebelum berdirinya Kedatuan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang. Sungai Komering sudah menjadi jalan masuknya pengaruh kebudayaan asing ke pedalaman Sumatera Selatan.

Potensi Sungai Komering sangat setrategis, baik untuk pertanian, perikanan tangkap, kebutuhan air bersih dan energi. Namun sayang, hal-hal demikian belum terpenuhi dengan baik. Hal demikian dikarenakan, minimnya SDA masyarakat dan Pemerintah. Ketiadaan anggaran dan ketidak mengertian masyarakat dalam menjaga sungai mereka.

Hal yang sangat dicemaskan adalah pencemaran dari waktu ke waktu terus meningkat. Pencemaran limba indutri dari Industri kecil, sedang, dan besar. Pencemaran limbah rumah tangga juga tidak kalah buruknya. Kemudian pencemaran sampah plastik. Membuat Sungai Komering menjadi sungai yang sakit-sakitan.

Hampir setiap hari kita akan menyaksikan sampah-sampah plastik yang hanyut terbawa arus. Baik bergerombolan atau satu-satu. Membuat dasar sungai menjadi kotor. Penduduk yang tidak mengerti sedikit pun merasa hal biasa melemparkan sampah ke sungai. Karena mereka mementingkan tempat tinggal mereka yang bersih. Namun dia tidak mengerti kalau sampah yang mereka lemparkan akan menjadi tumpukan di tempat lain. Lalu berdampak buruk pada lingkungan hidup.

Laut menjadi lahan akhir sampah. Membuat ekosistem laut menjadi terancam. Jutaan ton atau milyaran ton sampah tertampung di lautan. Sungguh membuat keadaan kelestarian lingkungan terancam. Edukasi tentang lingkungan hidup sangat diperlukan sejak dini. Mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi. Jadikan materi lingkungan hidup sebagai materi wajib seperti Mata Pelajaran PPKN.

Di negara kita belum ada organisasi yang bergerak pada lingkungan hidup dengan baik. Sehingga pejuang lingkungan sangat sedikit. Sementara penduduk dan Pemerintah seperti acu tak acu. Pihak pengembang teknologi Indonesia sangat sedikit memikirkan bagaimana menanggulangi sampah dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Seandainya kita bermimpi membangun sebuah mesin penjaring sampah otomatis. Mesin itu melintang di muara sungai besar. Menggunakan energi penggerak arus sungai. Lalu sampah yang terjaring menggunakan alat juga secara otomatis masuk kedalam kotak penampungan. Saat ada perahu lewat ada pintu otomatis untuk lewat. Lalu sampah di daur ulang dan dijadikan bahan bakar dan industri lagi.

Mari kita renungankan dan berjuang bersama-sama. Untuk lingkungan kita dan sungai kita. Ada penegakan hukum untuk pencemar lingkungan dan pembuang sampah di sungai. Ada pendidikan untuk masyarakat agar menjaga lingkungan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Ajarkan pada keluarga kita, ajak teman dan masyarakat kita. Untuk peduli lingkungan sungai. Paling tidak kita tidak membuang sampah di sungai. Semoga bermanfaat.

Oleh. Eka Apriyani.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
OKU Timur. 26 Juli 2020.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Fakutas Adab dan Budaya Islam.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment