12/21/2019

Mengenal Kawasan Tanah Renah

Apero Fublic.- Memahami ilmu geografis suatu wilayah sangat diperluka untuk pembangunan-pembangunan jangka panjang. Selain itu, pemahaman geografis permukaan bumi suatu kawasan juga berguna untuk pertahanan negara. Untuk mendukung strategi perang tentara.

Dalam hal ini, akan membahas tentang geogfafis wilayah tanah yang diistilahkan oleh masyarakat Melayu dengan tanah renah. Dalam penyebutan penduduk mengistilahkan dengan hutan renahtanah renahdaerah renah atau renah saja. Untuk pemahaman penulisan, dibakukan dengan kawasan renah.

Pemilihan kata kawasan karena mewakili suatu tempat di daerah tersebut. Sebab belum tentu di daerah tersebut semuanya tanah renah. Kalau pemakaian kata daerah renah pengertian akan bertabrakan dengan penyebutan administrasi. Kata renah digunakan sebagsi nama tempat terletak di daerah provinsi Jambi, yaitu Renah Kemumu.

Kawasan renah adalah suatu kawasan tanah yang cukup luas. Terletak diantara sungai-sungai besar, sedang atau kecil. Dimana saat musim hujan kawasan ini sering tergenang banjir. Tapi banjir tersebut adalah banjir alami. Karena curah hujan tinggi, yang membuat air tidak tertampung lagi oleh badan sungai.

Juga tidak lagi tertampung oleh tempat-tempat penampungan air alami lainya, seperti lebungrawa-rawa, paya, benca dan bencani di kawasan renah. Sehingga air naik kedaratan, lalu menyatu dengan air sungai dan tempat-tempat penampungan air alami. Terbentuklah kawasan banjir yang luas, atau kawasan renah.

Banjir alami ini akan surut dan kering saat sungai induk surut. Lama banjir bisa sehari, kadang sampai satu minggu, tergantung cuaca. Apabila cuaca terus hujan berskalah luas, air akan bertahan. Banjir hujan atau banjir alami biasanya terjadi empat sampai lima kali dalam satu bulan. Karena pola cuaca tropis bilamana satu minggu hujan curah tinggi, maka air akan banjir. Siklus banjir alami terjadi, mulai dari masuk musim penghujan sampai mejelang musim kemarau. Umumnya terjadi antara bulan September-Juli.

Polah banjir alami:  Diawali dengan hujan yang berkelanjutan dan deras. Baik hujan di daera hilir, setempat, hulu sungai, perbukitan dan pegunungan. Kemuidan air sungai induk naik. Lalu diikuti oleh air, rawa-rawa, Lebak dan sungai lainnya. Air terus naik ketika suplai air hujan terus datang. Di kawasan tenah yang terletak di antara sungai-sungai akan terjadi banjir seiring air hujan yang terus turun. Sehingga terciptalah lautan air yang luas. Seluruh kawasan tanah renah terendam air banjir alami.

Setelah banjir terhampar luas menggenangi. Cuaca akan menjadi panas atau cerah. Saat ini terjadi penguapan air. Sungai induk surut dan diikuti sungai-sungai lainyya. Maka kawasan renah yang sedang banjir airnya juga menyusut dan kering. Setelah itu, akan terjadi hujan-hujan kembali dan selalu diikuti banjir lagi. Ukuran banjir tidak selalu sama, kadang meluas dan dalam. Kadang juga tidak terlalu dalam, sedang dan kecil. Sangat tergantung pada curah hujan. Kalau hujan selama sepuluh hari tidak berhenti-henti. Alamat banjir besar di kawasan tanah renah.

Kawasan renah bentuk permukaan tanahnya datar dan subur. Banyak terdapat sungai-sungai kecil dan sedang. Jenis penampungan air alami seperti paya-paya,[1] lebung,[2] benca,[3] bencani.[4] Selain itu, di tengah kawasan renah ada satu tempat tanah agak tinggi. Luasnya kurang lebih satu atau dua hektar.

Oleh masyarakat Melayu dinamakan dengan tanah kempungan. Dinamakan kempungan karena saat terjadi banjir alami (hujan), tanah tersebut terkepung air. Mirip pulau di tengah lautan. Masyarakat saat terjadi banjir sering mendatangi tanah kempungan, untuk berburu.

Biasanya ada hewan buruan yang terkurung, seperti kancil, kijang atau rusa. Hewan yang terkurung belum sempat pindah ke tanah pematang saat akan banjir. Kosa kata kempungan berasal dari kata kepung. Kalau dicermati berarti kata kepung adalah kosah kata asli dari kebudayaan Melayu atau Indonesia.

Perbedaan kawasan renah dengan kawasan rawa-rawa. Yaitu, kawasan renah terendam air dan terendam banjir hanya saat intensitas curah hujan tinggi sehingga badan sungai tidak lagi dapat menampung air hujan. Lama terendam air banjir hujan sehari atau paling lama satu minggu. Kemudian air surut dan kering kembali. Sehingga dapat dijadikan tempat bertani oleh penduduk. Perkebunan karet, kelapa sawit, berladang menanam padi dan lainnya.

Kalau rawa-rawa terendam air selama musim penghujan dan tidak mengering kecuali saat musim kemarau dimana hujan terhenti. Selagi masih ada hujan rawa-rawa tidak kering. Ada juga istilah antonim dari kawasan renah, yaitu pematang. Pematang adalah kawasan tanah yang tidak terkena banjir alami atau banjir hujan. Pematang boleh juga disebut dataran tinggi. Yang bersebelahan dengan kawasan renah.

Kawasan renah ini menyebabkan salah paham dari penduduk di kota atau orang yang lahir dan besar diperkotaan. Sebab mereka tidak mengenal geografis alami tempat tersebut. Mereka hanya tahu banjir saja. Tapi tidak mengenal yang dinamakan kawasan renah. Banjir alami ini bukan disebabkan rusaknya hutan atau lingkungan. Tapi bentuk kenormalan dan siklus alami musim hujan. Justru kalau tidak ada lagi banjir dikawasan renah ini. Berarti alam sudah rusak secara global.

Karena sangat berkaitan dengan sistem normal cuaca bumi. Tidak ada gunanya mengatasi banjir alami atau banjir hujan ini, dengan cara menanam pohon disekitar tempat tersebut. Apalagi menanam pohon di hulu atau perbukitan, gunung. Semua itu sangat salah kapra.

Para awak media pun selalu menuduh pembuang sampah sembarang, kerusakan lingkungan dan sebagainya, drainase dan dijadikan senjata politik. Memang pembuangan dan penumpukan sampah di sungai ada andil dalam banjir. Kalau sampah sudah menyebabkan sungai tersendat dan buntu. Walau sungai di bersihkan, tetap tidak akan menyelesaikan masalah banjir alami atau banjir hujan.

Hampir semua kota-kota di Indonesia terletak di kawasan renah dan rawa-rawa. Di perkotaan kawasan renah ini dijadikan tempat pembangunan. Mulai dari pembangunan pasilitas umum, rumah penduduk, perkantoran dan jalan. Celakanya lagi bangunan zaman sekrang adalah bentuk depok. Atau langsung dibangun diatas permukaan tanah.

Masyarakat Melayu masa lalu pada umumnya membangun rumah tinggal menggunakan bangunan panggung. Untuk mendiami kawasan renah yang subur. Namun budaya ini tidak dimengerti oleh masyarakat kota terutama di daerah Pulau Jawa. Sebab mereka mengikuti pola depok bangunan orang di Jawa yang tinggal di dataran tinggi (pematang).

Sebagai contoh banjir yang tidak sudah-sudah adalah Kota Jakarta. Sebab pemimpin dan warga masyarakat tidak mengerti dengan istilah kawasan renah. Dari mulai masa Kolonial sampai sekarang. Kawasan renah dibangun, kemudian tempat penampungan air alami ditimbun dengan tanah. Meliputi sungai-sungai, rawa-rawa, paya, lebung, benca, bencani.

Saat masa datangnya banjir alami dari curah hujan tinggi. Maka banjir itu meminta kawasan renah untuk ditempati. Ketika kawasan renah banjir itu adalah hal alamiah. Apabila ada penimbunan maka akan ada pergeseran air banjir alami ke wilayah sekitar. Teori rendaman batu, coba ambil air setengah baskom. Kemudian masukkan batu satu demi satu. Maka air baskom akan bergerak naik.

Mengapa masyarakat membangun di kawasan renah??. Sebab saat intensitas hujan sedang dan ringan. Keadaan kawasan tanah renah, tidak terendam air. Walau hujan lebat tapi tidak berkelanjutan juga tidak akan menimbulkan banjir. Tidak ada yang salah dan aneh di kawasan renah. Ketika intensitas hujan tinggi dengan curah hujan besar.

Saat itulah fungsi kawasan renah dipakai alam untuk menampung air hujan yang sangat banyak itu. Penduduk pun kemudian mengetahui kalau tempat itu sering banjir. Maka mulailah pembangunan dengan minimbun pondasi yang tinggi. Ada juga yang menimbun lebung, sungai kecil, lubang-lubang, rawa-rawa, benca dan bencani

Menimbun lekukan-lekukan tanah agar tanah menjadi rata. Semua timbunan tersebut tidak menghilangkan tuntutan air hujan untuk jatuh dan menempati alam. Sehingga air yang dulu telah jatuh di setiap  tahun seumur bumi ini. Akan bergeser menggenangi kawasan lain.

Tidak dapat dibayangkan saat seluruh kawasan renah, dan tempat-tempat penampungan air alami telah ditimbun. Maka dua kali lipat pola air alami yang bergerak atau bergeser. Lalu masyarakat, pemerhati lingkungan, pemerintah, awak media berkata, "lingkungan benar-benar telah rusak. Terkadang saling menyalakan padahal mereka semua tidak tahu. Ada yang berkata: "Dahulu disini tidak banjir, sekarang telah banjir. "Dahulu hanya sebelah sana banjir, sekarang sudah sampai kesini."

Mengapa terjadi demikian, karena air dikawasan renah, meliputi sungai-sungai kecil, lebung, benca, bencani, paya, dan seluruh kawasan renah tempat penampung alami luapan air sungai sudah di timbun dengan tanah dan pondasi bangunan. Masa atau volume air hujan itu sama sejak seumur bumi ini. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Hanya waktu siklusnya yang berbeda.

Hanya satu metode untuk mengatasi banjir kawasan renah. Dengan membangun tempat penampungan-penampungan air. Lalu dipadukan dengan drainase yang terkoneksi. Seperti dari selokan, saluran-saluran air dan kanal-kanal yang lancar dan terpadu. Lalu dialirkan ke suatu penampungan raksasa.

Dari pada pemerintah membangun kawasan taman dengan pohon-pohon. Dengan maksud untuk resapan air mengandalkan hisapan akar pohon. Yang tepat adalah membangun lebung-lebung atau danau-danua kecil di kawasan-kawasan yang terdeteksi kawasan renah (sejarah geografis). Untuk pengganti tempat penampungan air alami yang telah ditimbun oleh pembangunan.

Kawasan renah di Indonesia harus dipetakan. Bermanfaat, untuk BMKG memberikan peringatan apabila intensitas hujan akan tinggi untuk warga yang tinggal di kawasan renah. Membuat UU pembangunan dengan sistem bangunan panggung di kawasan renah. Demi kebaikan dan pelestarian lingkungan hidup. Untuk peta geografis pertahanan dan keamanan oleh TNI. Untuk mengecek kelayakan pemberian bantuan bencana banjir.

Kadang karena awak media yang awan situasi kawasan. Saat mereka melihat banjir di sebuah pemukiman penduduk di kawasan renah yang luas. Mereka akan memberitakan bencana banjir. Saat video dan foto muncul di media. Maka yang tampak seakan-akan bencana banjir besar. Yang sangat merugikan, akhirnya Pemerintah Daerah merasa malu. Sehingga mengucurlah bantuan yang salah kapra pada kawasan itu. Sehingga peluang korupsi juga terbuka.

Untuk pemerintah pusat yang akan membangun kawasan ibu kota negara baru di Kalimantan. Dimana pola alam sama dengan alam Sumatera. Agar meneliti kawasan sebelah mana yang menjadi kawasan renah, di lokasi calon ibu kota negara. Sehingga menghindari pembangunan di tempat tersebut. Studi penelitian kawasan renah dapat dilakukan selama musim hujan.

Jangan hanya berpatokan misalnya bekas pemukiman, apalagi pemukiman rumah panggung. Jangan melihat misalnya bekas perkebunan karet, sawit, buah-buahan. Karena tanaman tersebut tidak terganggu oleh banjir alami tersebut. Banyak yang tertipu dengan kawasan renah.

Karena pada umumnya keadaan geografis Indonesia yang tropis memiliki kesamaan pola alam. Studi pada tulisan ini saya ambil di kawasan renah di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dipelajari sebagai anak desa yang akrab dengan lingkungan tanah renah.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Pd.
Palembang, 22 Desember 2019.


[1]Paya adalah tempat penampungan air alami yang terletak dikawasan renah. Berbentuk memanjang seperti sungai. Tapi airnya dangkal dan tergenang. Air baru mengalir saat hujan lebat. Paya juga dialiri oleh air banjir alami di kawasan renah. Kata paya pengindonesiaan dari kata paye.
[2]Lebung adalah bentuk penampungan air alami di dalam hutan-hutan torpis terutama di kawasan renah. Bentuk lebung melingkar cukup luas. Berisi air saat musim hujan dan kering saat kemarau. Lebung mirip danau tapi kecil dan airnya tergantung dengan air hujan. Lebung juga dilalui banjir alami saat musim hujan. Sehingga lebung selalu banyak ikan-ikan.
[3]Benca juga tempat penampungan air alami. Berbentuk melingkar atau memanjang. Lebar dari ukuran satu meter sampai lima meter persegi. Terletak di kawasan hutan renah. Ada yang dilalui banjir alami kawasan renah ada yang hanya dilalui oleh aliran air hujan. Juga banyak ikan-ikan yang datang.
[4]Bencani juga tempat penampungan air alami di hutan-hutan renah. Berbentuk memanjang seperti sungai tapi surut dan dangkal. Lebarnya biasanya kurang lebih satu meter. Kedalaman hanya dari sepuluh senti menter sampai satu meter. Airnya mengalir jerni menuju anak-anak sungai di sekitar kawasan tersebut. Kalau sudah di ujung atau hulunya, bencani biasanya hanya berupa mata air yang mengalir di celah-celah akar pohon.


By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment