7/18/2019

Neofeodalisme Pada Dunia Pendidikan dan Akademisi di Indonesia

Apero Fublic.- Sejarah dunia tidak bisa lepas dari paham feodalisme. Feodalisme sesunggunya bukan lahir dari monarki atau pemerintahan absolut. Feodalisme lahir dari kekerdilan jiwa-jiwa yang merasa mulia dan terhormat, rakus dan serakah. Hadir disebabkan oleh orang bodoh yang pandai menjilat.

Hanya saja feodalisme menunggangi monarki dan masuk kedalam jiwa manusia yang kerdil tersebut. Sesunggunya, banyak juga raja-raja yang baik dan adil. Feodalisme yang runtuh di awal abad ke-20 adalah bentuk feodalisme dalam tata pemerintahan dan politik. Sedangkan paham feodalisme berurat berakar didalam jiwa manusia. Feodalisme masih dianut oleh masyarakat luas di zaman sekarang.


Sifat feodalisme dapat kita lacak dari cerita-cerita, sejarah. Di mana kaum bangsawan dan raja-raja merasa selalu benar. Hukum sesuai perkataannya dan sesuka hatinya. Penentang akan dipancung atau akan dikalahkan. Dihancurkan dengan kejam. Apabila ada hal-hal yang menyinggung dirinya yang mulia itu.

Maka orang itu akan di habisi. Apalagi kalau orang tersebut hanyalah orang kecil atau rakyat jelata yang bodoh. Atau istilah yang paling lazim disebut sewenang-wenang. Berbuat sesuai dengan kebutuhan ego dirinya sendiri. Apabila sudah begini, mau tidak mau pengikutnya, manusia di sekitarnya akan menjadi penjilat untuk bertahan.

Tidak ada katah bangkangan atau tidak ada yang lebih hebat dan berkuasa selain mereka (kaum bangsawan). Mereka bilang, "mau lebih hebat dari aku??? katanya A tetap A, tidak akan berubah B. Seperti itulah kiranya sifat kaum feodalisme dahulu.


Di zaman sekarang feodalisme hadir kembali ke dalam jiwa individu-individu. Yang saya istilahkan dengan neo-feodalime atau feodalisme wujud baru. Neofeodalisme hadir pada manusia-manusia kerdil yang berjiwa rendah. Merasa dirinya lebih hebat, merasa berkuasa, merasa terhormat, merasa martabatnya tinggi.

Apabila diistilahkan bahasa Melayu Sekayu “mentang-mentang.” Mereka sangat tersinggung kalau dirinya tidak dihormati orang. Dia juga marah kalau orang yang berurusan dengannya agak mendesak. Mengganggu waktu dia santai seperti ngobrol, bermain handpone, atau dia sedang tidur.

Atau juga orang berkata yang tidak sesuai kehendaknya, berlawanan pendapat dia tidak menyukainya. Dia sangat suka apabila melihat orang mengemis dan merendah di hadapnnya. Kedudukannya, jabatan, pangkat dijadikan sebagai bentuk keangkuhan dan alasan mempersulit orang. DIa merasa lebih terhormat, bermartabat, dari seseorang.

Kemudian dia sangat suka apabila diperlakukan dengan istimewa dan di sanjung. Semua perkataannya dibenarkan. Orang penganut neofeodalisme ini akan baik pada orang yang menyenangkannya saja. Apabila dia laki-laki, dia akan baik dengan perempuan cantik. Kurang peduli dengan laki-laki dalam berurusan dengannya.


Paham neofeodalisme biasanya muncul, seumpama awalnya dia orang biasa, kemudian dia menjadi seseorang berkedudukan. Lalu sifatnya berubah, tidak lagi mau makan di tempat murah, sok bersih, pilih-pilih. Dahulunya suka makan singkong, sekarang tidak mau lagi. Kalau dia seorang dosen strata dua (s2) sifatnya biasa, ketika dia sudah strata tiga (s3) merasa sangat hebat ilmunya.

Dia meremehkan jenjang pendidikan yang di bawanya. Sifat neofeodalisme hadir di setiap tempat, dipemerintahan atau swasta. Yang jelas lawannya adalah individu yang di bawah posisinya. Misalnya, atasan dengan bawahan, guru terhadap murid, dosen terhadap mahasiswa, aparat dengan rakyat, pejabat dengan rakyat dan bawahannya, bos dan anak buah, majikan dengan pembantu, laki-laki terhadap wanita.

Yang jelas adanya pihak yang merasa di atas angin. Kemudian ada yang mentang-mentang lalu memperlakukan semena-mena. Saya akan menggambarkan bagaimana neofeodalisme dalam dunia pendidikan  dan dunia akademisi. Berikut dua narasi perumpamaan untuk perbandingan:

"Suatu hari, aku pernah antri di ATM disekitar kampus. Ada dua orang mahasiswi yang berada di depanku, antri. Setelah pengguna keluar, yang paling depan masuk. Saat aku dan mahasiswi itu antri, datang seorang dosen, dia sudah tua seumuran dengan kakekku. Kami berdua menyalimi tangan profesor itu. Dengan sedikit basa-basi. Setelah pengguna tadi keluar maka kami mempersilakan bapak profesor itu. Tetapi sambil tersenyum ia mempersilakan mahasiswi di depanku. Kemudian si mahasiswi masuk ATM dan melakukan aktivitasnya. Setelah keluar, maka itu giliranku.

Karena aku dengan alasan menghargai yang tua, dan sekaligus dosen saya, maka saya mempersilakan bapak profesor untuk masuk lebih dahulu. Tetapi profesor kembali menolak. Dia hanya bilang memang antriannya saya yang lebih dahulu, maka itu hak saya, dan ia tidak mau mengambil hak orang. Beberapa kali aku merasa tidak enak, maka dia tetap pada pendiriannya. Kalau orang antri, siapa pun dia maka ia harus antri juga. Bukan karena umur, bukan jabatan, bukan seberapa banyak gelar, bukan kedudukan, bukan pangkat, laki atau perempuan, anak dan dewasa."

"Beberapa hari kemudian, aku kembali ke ATM, sebab aku tidak pernah banyak mengantongi uang. Dengan teori seratus ribu sekali tarik, dan diusahakan cukup selama-lamanya. Maklum itu kantong mahasiswa, kalau tidak hemat akan ada musibah kelaparan. Kembali antri, saat aku antri sama seperti biasa. Di ATM akan ada banyak pengantri. Saat kami antri ada juga datang seorang dosen laki-laki yang datang. Kami semua tahu kalau itu dosen, dari cara penampilannya, seorang mahasiswi juga kenal.

Seperti biasa dalam barisan antri.  Mahasiswi yang paling depan seperti biasa perlakuannya, ya perasaan menghormati. Mahasiswi itu mempersilakan si dosen untuk masuk ATM lebih dulu. Saat di persilakan si dosen senang, dan dia tersenyum lebar. Tanpa ada rasa bersalah, merasa itu hal biasa saja. Ia tidak memperhatikan beberapa mahasiswa, seorang ibu hamil, dan aku yang sudah dari tadi antri. Mungkin si mahasiswi yang kenal, paling depan ikhlas, belum tentu yang lainnya, seperti si ibu hamil tua."


Pembahasan dari dua narasi tersebut, adalah bentuk penggambaran sifat neofeodalisme. Apabila dicermati, sunggu berbeda antara dua sikap dosen tersebut. kejadian itu, dari dua sifat yang bertentangan. Sifat dosen yang kedua adalah bentuk sifat neofeodalisme tulen.

Dia menggunakan pengaruh, kedudukan, umur, kuat sebagai laki-laki, untuk merampas hak orang lain. Hal yang seharusnya terjadi, dia ganti dengan kepentingannya. Dia menunda hajat orang, demi menunaikan hajat dirinya, padahal itu posisi hak orang. Dia tanpa merasa bersalah, dan tanpa berdosa apalagi malu, memanfaatkan hal yang dia miliki tersebut.

Bagaimana kalu hal tersebut sedikit lebih serius, atau bagaimana apabila dia merasa direndahkan oleh sikap orang lain sama halnya seperti yang dia lakukan. Orang berfaham neofeodalisme akan tersinggung, dan marah besar apabila haknya dirampas orang lain. Bagaimana apabila dia diposisi antri lalu orang lain menyerobot, maka dia akan mengumpat dan mencaci maki.


Ketika seseorang dosen sudah menyandang sifat neofeodalisme, maka sifatnya akan terlihat dalam aktivitas akademisinya. Dosen seperti itu, apabila dia merasa ada hal yang kritis, adanya pendapat yang berbeda, beberapa kali si mahasiswa memberikan pertentangan pemikiran, dan dia terpojok, maka dia tidak akan mau pengertian. Sebab dia merasa dirinya sudah cukup tahu dan lebih pintar.

Kenapa, karena dia merasa malu, marah, emosi, dia tidak terima kalah dari mahasiswa yang baru belajar. Dimana dia merasa, gelar yang sudah strata  dua atau tiga, umurnya lebih tua, dan kedudukan sebagai dosen akan tercoreng. Muncul keangkuhannya yang begitu tinggi sehingga berdampak pada perlakuaannya, dan pelayanannya. Dia mersa tersinggung sebab merasa tidak dihargai atau diremehkan.


Padahal sebagai seorang dosen, bukan dia sebagai super power dalam kebenaran keilmuan. Karena kebenaran itu dimiliki oleh setiap pemikiran, dalam artian keilmuan. Bahkan kebenaran dapat ditemukan di tempat pelacuran sekalipun. Bagaiman ada kebenaran disana? karena lebih mulia pelacur ketimbang para koruptor yang bertopeng dalam kehormatan. Karena diantara pelacur itu, ada juga yang memberi makan anak atau keluarnya. Dan yang mendatangi mereka adalah orang-orang rendahan sesungguhnya.

Coba kita pikirkan sebuah filsafat yang menyatakan di ruang kosong tidaklah kosong. Mengapa, karena di dalam sebuah ruang kemungkinan ada semut atau nyamuk. Dan seandainya sudah dibersihakan semua, masih ada atom-atom udara yang memenuhi ruang kosong tersebut. Maka lihatlah kebenaran dengan kebijakan. Bukan merasa hebat dengan gelar, umur, kedudukan, dan emosional.

Intinya cari kebenaran itu, dengan pengertian bukan sesuai dengan hanya mengadalkan pemahaman kita. Al-Quran saja kalau kita mencari kesalahannya, maka kesalahan itu dimana-mana (orientalisme). Tetapi apabila kita mencari kebenaran, maka kebesaran Allah kita temui. Sebab pemaham kita sejalur dengan yang kita kuasai saja, dimana orang-orang tidak hadir di alam pikiran kita yang kita renungkan.


Kalangan akademisi sesunggunya bukan mendoktrin pemahaman mereka sendiri atau memaksa kebenaran satu pihak. Setiap orang memiliki jalan pemahaman dan pemikiran yang dia telusuri. Tugas dosen membangun pemahaman dan pemikiran itu agar menginjak kebenaran. Kadang, pemahaman generasi baru akan berbeda dengan pemahaman generasi sebelumnya.

Walau pemahamannya salah, nanti saat dia menginjak pematangan keilmuan, dia akan menyadarinya sendiri, kebijakan seorang guru. Jadi para pengajar atau dosen tidak perlu repot menjelaskan, menekan, bahwa dia benar, dan hebat. Dampak dari itu, membuat pertentangan dalam emosional pribadinya, sehingga berdampak pada layanan dan perlakuannya pada si murid atau mahasiswa. Dengan demikian akhirnya dia sebagai pendidik gugur, dan hanya menjadi seorang pekerja di dunia pendidikan.


Bahkan, ada juga usaha-usaha menyingkirkan posisi, atau mengurangi nilai. Mahasiswa yang sedang dalam tahap pembelajaran, dimana pola-pikir mereka baru tumbuh. Memerlukan ruang untuk mereka mengungkap cara membuka pemikiran. Tetapi akhirnya tumbang oleh neofeodalisme para dosen atau tenaga pengajar.

Faham neofeodalisme juga yang mengalirkan sifat mahasiswa yang menurut saja atau cari aman, apa kata dosen pengajar mereka, pembimbing atau penguji. Mereka tidak berani memberikan pemahaman yang beda, frontal, apalagi mengkritik sikap dosen yang kurang tepat. Karena sifat neofeodalisme dari sang dosen akan menyulitkan mereka.

Sifat mereka berubah ketus, keras, mempersulit, dan seakan tidak ada kompromi. Tanpa sadar mereka telah mencampur adukkan emosi pribadi kedalam tugas sebagai pendidik. Mengapa demikian, karena para pendidik akan menemukan watak-watak murid yang sangat berbeda-beda. Maka tugas pendidik melunakkan watak-watak itu. Bukan bertempur, bukan mengalakan, bukan meremehkan, dan merasa si dosen (guru) yang paling jago.


Berikut ini, aku menguraikan sifat neofeodalisme dari seorang guru Sekolah Dasar saya dahulu. Suatu hari kami belajar matematika. Si guru bilang pelajaran itu, berupa bentuk lingkaran, itu adalah kurva kata si guru. Dia menjelaskan kurva ada yang tertutup ada yang terbuka. Kemudian seorang temanku bilang itu adalah elips.

Si guru yang merasa guru, sudah mengajar puluhan tahun, rambut sudah putih, dibantah oleh anak sekolah dasar berumur sebelas tahun. Dia sangat marah sekali. Bantahan teman saya sesuai, karena dia memiliki buku matematika yang menjelaskan demikian. Si guru, beberapa kali menyerang  dengan kata-kata kasar dan memojokkan si murid.


Padahal si guru seharusnya tidak perlu marah, cukup bilang khilaf atau lupa, saja sudah cukup. Dia bole memberikan pujian bahwa dia sudah mengingatkan. Ketika pendidik tidak tahan dengan hal demikian, maka dia sudah kalah yang sesungguhnya. Dia sudah gagal menjadi pendidik. Akibat dari kemarahan tersebut, meyebabkan kami tidak mau lagi memberikan masukan, dan mengiyakan saja apa kata si guru.

Begitupun di kalangan mahasiswa, saat akan sidang mereka akan bersikap kompromi, lalu mengiyakan dan mengikuti saja. Agar tidak dipersulit, tidak dikurang nilai. Padahal mahasiswa memiliki hak, mempertahankan skripsinya. Penilaian bukan dari bertentangnya, tetapi dari kebenaran dan nilai positif pemikirannya. Adanya usaha perjuangan yang sesuai kemampuannya, jangan di samaratakan dengan kemampuan seorang strata tiga. Karena ada dosen yang tidak mau ditentang pendapatnya.

Disebabkan sifat neofeodalisme yang sudah berurat berakar pada jiwanya, sebagai orang pintar. Maka neofeodalisme akan menyebabkan tidak adanya sifat kritis baginya. Harus ada pengimbangan pola pikir dan pengertian. Nanti hasil dari didikan orang-orang neofeodalisme ini, akan melahirkan sarjanah-sarjanah lemah.

Mereka akan menjadi penutup kebenaran walau mereka mengetahui kebenaran tersebut. Maka dari itu, timbul istilah di kalangan masyarakat kita “cari aman” lalu cari muka” dan jadi penjilat” agar mereka aman dan lancar. Sebagaimana waktu mereka kulia dahulu.

Karena apabila ada cekcok sedikit, tidak sepaham, banyak membantah, membuat dia tersinggung, maka akan berdampak pada kesulitan dalam berhubungan dengannya. Ada pepatah mengatakan, "pedang akan tahu tajam atau tidaknya, kalau sudah menggores tangan tuanya. Begitupun mahasiswa, apakah ia berhasil dalam belajarnya ketika lidanya mulai dapat berbicara dan otaknya sudah berpikir.

Perna anda tersingkir oleh faham neofeodalime???


"Baru-baru ini ada pemberitaan tentang seorang mahasiswi strata tiga (s3) di sebuah Universitas di Riau melaporkan rektornya, sebab si rektor melempar lembaran disertasi setebal 250 halaman dan mengenai tangannya. Si rektor ini sering sekali mempersulit mahasiswa, yang berurusan dengannya. Ini adalah  bagian dari bentuk neofeodalisme di dunia akademisi, dia tuan dan mahasiwa bawahan, benarkah adab seorang pendidik demikian??? (dikutip dari Detiknews. Jumat 14 Desember 2018."

“Yang perlu di antisipasi adalah neofeodalisme yang mengara pada pelecehan seksual oleh oknum pendidik atau dosen. Sebab mereka menggunakan pengaruh mereka untuk perbuatan buruk tersebut. Kalau di kampus biasanya itu menjadi rahasia umum.”


Faham neofeodalisme bukan hanya tentang sifat pertentangan saja, tetapi juga pada sifat neofeodalisme kompromi. Faham neofeodalisme kompromi adalah sifat yang memberikan kemudahan supaya nama pengajar atau dosen tetap aman dalam survei, atau pada pengawasan kampus (sekolah). 

Neofeodalime ini juga tidak kala buruk dengan faham neofeodalime pertentangan. Disini mereka memberikan kemudahan yang akan memicu penyimpangan metode belajar, tidak aktif dalam mengajar, asal selesai. Atau neofeodalisme kompromi ini, berdampak pada perlakuan istimewa pada seseorang, pada orang-orang yang dapat di perlakukan yang tidak sesuai dengan norma pendidikan.

Neofeodalisme kompromi adalah bentuk bibit dari sifat korupsi, sifat balas jasa, karena disini ada sifat imbal balik yang didapat, antara mahasiswa dan dosen. Imabal balik apa saja, tergantung kompromi mereka walau tidak bersepakat seperti jual beli. Misalkan, dosen jarang masuk kemudian semua mahasiswa dapat A.


Kesimpulan.
Mahasiswa adalah calon pemikir-pemikir bangsa yang akan memimpin generasinya. Jangan sampai lahir neofeodalisme baru, lalu faham neofeodalisme ber-regenerasi terus. Jangan sampai neofeodalisme menutup keberanian berpikir mereka-mereka.

Neofeodalisme adalah musuh demokrasi dan hak azazi manusia yang bersembunyi dalam jiwa mereka-mereka berkedudukan, kaya, atau kuat. Dalam dunia pendidikan, imbas neofeodalisme menyebabkan budaya cari aman di tengah masyarakat.

Kemudian melahirkan sipat diam atau menutup kebenaran. Lalu mematikan motivasi paham-paham baru yang dihidayakan untuk dia memimpin pada generasinya. Hancurkan sifat neofeodalisme, dan salam revolusi biru.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 18 Desember 2018.

Sy. Apero Fublic

1 comment: