7/18/2019

Menyonsong Kekuatan Spiritual di Tanah Lot. Bali


Apero Fublic.- Akhirnya kami mencapai ujung dari perjalanan panjang dalam agenda Praktik Kuliah Lapangan (PKL), Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sriwijaya, bidang studi Pendidikan Biologi, angkatan tahun 2015. Menempu rute dari Sumatera Selatan, menuju pulau Bali. Entah sudah berapa malam kami di perjalanan.

Pada kesempatan kali ini, alhamdulillah aku dan teman-teman berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Pulau Bali. Provinsi Bali adalah suatu provinsi di Indonesia, yang masyarakat mayoritas beragama Hindu. Provinsi ini sangat indah, dan menyimpan berjuta-juta keindahan alam dan budaya. Tidak salah apabila orang-orang menyebutnya Pulau Dewata. Dewa di fahami tinggal di surga di atas langit.

Maka julukan Pulau Dewata karena keindahannya bak di surga. Aku mengagumi Pulau Bali, sebagai tanda kebesaran ciptaan Allah SWT. Banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan serta pengalaman yang kami dapat. Ada beberapa tempat yang kami kunjungi di Pulau Bali, seperti lokasi wisata Tanah Lot, Pantai Kuta, Penangkaran Penyu, Uluwatu, dan Jimbaran.

Namun, diantara tempat-tempat yang kami kunjungi, yang paling berkesan bagiku adalah lokasi wisata Tanah Lot. Maka aku tertarik sekali menulis tentang Tanah Lot. Di sini bukan hanya berwisata atau berlibur, tetapi ada pengalaman spritual yang menyatu dengan tempatnya.

Tanah Lot, terletak di wilayah Desa Baraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, Indonesia. Ada sejarah tentanga Tanah Lot,.  Banyak sekali turis yang mengenal Lanah lot. Tapi apakah sudah tahu bagaimana sejarah dari Tanah Lot yang sangat terkenal itu? Mari kita simak bersama-sama, tentang cerita Tanah Lot, sepengetahuanku.

Kisah berawal dari masa Kerajaan Majapahit. Di ceritakan ada seseorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwijendra, atau Dang Hyang Nirarta. Beliau dikenal sebagai tokoh penyebaran ajaran Agama Hindu dengan nama, “Dharma Yatra.“

Pada waktu beliau datang ke Tanah Bali untuk menjalankan misi penyebaran agama Hindu, di Bali saat itu berkuasa adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat. Beliau menyebarkan agama Hindu sampai ke pelosok-pelosok Pulau Bali. Suatu ketika, pada saat beliau menjalankan tugasnya, beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan beliau mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air.

Tidak jauh dari tempat itu beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut, “Gili Beo.” Gili berarti Batu Karang dan sedangkan Beo artinya Burung Beo. Nama tersebut di ambil dari sebuah batu karang yang berbentuk burung beo.

Di tempat itulah, Dang Hyang Nirarta melakukan meditasi dan pemujaan terhadap Dewa Penguasa Laut. Waktu itu, lokasi tempat Batu Karang mirip burung beo tersebut, masuk dalam daerah Desa Beraban, dimana di desa tersebut dipimpin oleh seorang suci yang disebut “Bendesa Beraban Sakti.” Sebelumnya masyarakat Desa Beraban menganut ajaran monotheisme.

Monotheisme dalam pengertian ini adalah percaya dan bersandar hanya pada satu orang pemimpin yang menjadi utusan Tuhan, sperti Nabi. Dalam waktu yang singkat banyak masyarakat Desa Beraban yang mengikuti ajaran Dang Hyang Nirarta. Tentu saja hal tersebut akan membuat Bendesa Beraban Sakti sangat marah. Kemudian Bendesa membawa pengikutnya yang masih setia untuk mengusir Bhagawan suci, Dang Hyang Nirarta.

Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki Dhang Hyang Nirarta, beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Baraban Sakti dengan memindahkan batu karang besar tempat beliau bermeditasi (Gili Beo), ke tengah lautan. Lalu beliau menciptakan banyak ular dengan selendangnya, di sekitar batu karang sebagai pelindung sekaligus penjaga tempat tersebut. Kemudian beliau memberi nama tempat itu, Tanah Lot, yang berarti tanah di tengah laut.

Akhirnya Bendesa Beraban Sakti mengakui kesaktian dan kekuatan spiritual dari Dang Hyang Nirarta, dan akhirnya Bendesa Beraban menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran Agama Hindu kepada penduduk setempat.

Sebagai tanda terima kasih sebelum melanjutkan perjalanan beliau memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban yang dikenal dengan nama “Keris Jaramenara atau Keris Ki Baru Gajah.” Saat ini keris itu disimpan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan dan di upacarai setiap hari raya Kuningan. Dan upacara tersebut di adakan di Pura Tanah Lot setiap 210 hari sekali, yakni pada, “Buda Wage Lengkir” sesuai dengan penanggalan Kalender Bali.

Begitulah kisah yang aku ketahui. Di sana memang terdapat adanya pura besar di atas batu besar karang tersebut. Banyak hal-hal magis yang masyarakat setempat percaya. Pada saat sebelum kami memasuki gua tersesbut, “Bli Kadek”, seorang pemandu dari Bali, memeritahkan kami untuk melepaskan alas kaki dan memberikan arahan terutama bagi wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan masuk, dengan alasan karena orang yang sedang haid itu tidak suci sedangkan tempat yang akan dituju adalah tempat yang suci.

Di tempat itu (Gili Beo) terdapat tempat seperti gua yang di dalamnya ada sumber mata air seperti yang di ceritakan sebelumnya. Konon masyarakat bali mempercayai bahwa itu adalah air suci dalam cerita. Menurut keterangan mereka, jika ada yang melanggar aturan-aturan tersebut, maka akan terjadi sesuatu hal (menurut kepercayaan).


Dengan, hati-hati kaki ini menyebrangi pinggiran laut yang kedalamannya hanya sampai betis atau bisa sampai lutut terlebih ketika ombak kecil datang. Sesampainya di Gua tersebut kami mengantri untuk diarahkan meminum air suci tersebut kemudian di beri beras suci dan bunga kamboja.

Sebagai tanda hormat saya hanya mencuci muka saja dari salah satu sumber mata air tersebut. Kemudian aku berkata kepada Bli-nya, cukup memakaikan bunga kamboja saja, tidak untuk beras sucinya. Kemudian aku ersenyum ramah dan bersahabat.

Banyak sekali orang-orang yang mengunjungi tempat tersebut. Baik karena budayanya yang unik, dan alamnyanya yang sangat indah. Bukan hanya turis lokal tetapi juga turis internasional. Semoga suatu saat nanti aku dapat kembali berkunjung ke Pulau Dewata ini. Saya akhiri, Wassalam.
Lokasi wisata Pantai Kuta Bali.

Oleh. Ulandari.
Editor. Selita. S.Pd.
Tanah Lot, Maret 2017.
Sumber foto. Ulandari.
Praktik Kuliah Lapangan, FKIP-Biologi, Universitas Sriwijaya.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment