Kampus
Opini
Pendidikan
Sertifikat Pelatihan Menumpuk, Keterampilan Belum Terserap: Apakah Pelatihan Kerja Sudah Tepat Sasaran?
APERO FUBLIC I Fenomena pengangguran sudah menjadi topik perbincangan paling umum di Indonesia. Banyak lulusan sekolah menengah atau bahkan sarjana yang menganggur setelah mereka dinyatakanlulus dari sekolah. Meskipun beredar berita bahwa terdapat 19 juta lapangan pekerjaan, namun padanyatanya hanya sedikit dari mereka yang benar-benar mendapat pekerjaan tersebut.
Tidak heran jikamasih banyak pengangguran di negara kita dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan atau mungkinsistem penerimaan karyawan yang terlalu rumit dan banyak kualifikasi yang harus dipenuhi namuntidak sesuai ekspektasi.
Meskipun terdapat banyak sekali pelatihan kerja di luar sana, tidak menjamin seseorang akanmendapat pekerjaan dengan mudah. Data BPS menunjukkan bahwa pengangguran di rentang usia15-24 adalah mencapai 17,37% . Selain itu, lulusan SMK pada periode yang sama sebesar 7,68%,lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA sebesar 6,17% dan lulusan Diploma IV hingga S3 sebesar6,09%.
Berdasarkan data tersebut, memang tidak bisa langsung kita simpulkan bahwa pelatihan kerjatidak menjamin seseorang bisa mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi kita perlu mempertimbangkanhal-hal lain yang menjadi faktor keberhasilan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan selainpendidikan dan keterampilan.
Dan perlu dipertanyakan apakah pelatihan kerja memang bermanfaatatau setidaknya menyumbang sekian persen untuk menambah peluang keberhasilan seseorang untukmendapatkan pekerjaan.Sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai opini, menurut saya pelatihan kerja bisamenjadi salah satu investasi jangka panjang yang bagus untuk dicicil mulai dari sekarang.
Selainsertifikat, kita juga bisa mendapatkan ilmu, relasi, bahkan praktek langsung terkait ilmu yang didalamisesuai bidang pekerjaan. Pelatihan kerja juga bisa menambah peluang keberhasilan, kesempatan untukbertumbuh dan memperluas wawasan, serta menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum menghadapidunia kerja yang sesungguhnya.
Dunia kerja berbeda dengan dunia sekolah maupun kuliah. Terdapat banyak penyesuaian yangtidak kita dapatkan di sekolah, dan akan kita hadapi dalam dunia kerja. Meskipun pelatihan kerja akanmendapatkan sertifikat yang berguna untuk melamar pekerjaan sebagai portofolio, tetapi juga tidakmenjamin kita mendapat pekerjaan dengan cepat.
Banyak hal yang dipertimbangkan daripada hanya selembar sertifikat. Jadi menurut saya halyang penting adalah seberapa berpengaruh dan apa dampak yang kita dapatkan setelah mengikutipelatihan kerja tersebut. Bukan hanya seberapa banyak sertifikat yang kita dapatkan, tetapi seberapabesar ilmu yang bisa kita serap dan kita aplikasikan di dunia kerja kelak.
Pelatihan kerja akan memberikan teori yang seharusnya sesuai dengan yang dibutuhkanindustri sekarang. Terkadang permasalahan yang dihadapi adalah, adanya perbedaan keterampilanyang didapat dari teori pelatihan kerja dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perusahaan.
Banyak ilmu yang kita dapat dalam pelatihan kerja, namun belum tentu kita dapat menerapkan ilmutersebut terhadap praktek nya langsung. Banyak materi yang tidak sesuai sehingga praktik menjaditerbatas dan kurang terlibat dalam kompetensi yang dibutuhkan.
Praktik atau pengalaman kerja menjadi hal yang penting, karena seseorang mungkin bisamemahami materi maupun teori yang diberikan saat pelatihan kerja, namun belum tentu menerapkanketika menghadapi situasi kerja yang sesungguhnya.
Selain itu juga kita harus benar-benar mencaridan menyesuaikan pelatihan kerja sesuai bidang yang diminati atau yang akan kita tuju dan tentunyaterkonsentrasi dengan minat kita. Inti permasalahan adalah bukan penting atau tidaknya mengikutipelatihan, tetapi seberapa revelan pelatihan kerja tersebut dengan yang dibutuhkan di dunia kerja.
Sertifikat pelatihan menunjukkan bahwa seseorang telah mengikuti program peningkatanketerampilan, tetapi tidak otomatis memastikan bahwa orang tersebut diterima bekerja. Selain itu,organisasi mengevaluasi pengalaman, kemampuan praktik, dan kesesuaian kompetensi dengan posisiyang dibuka.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), memiliki bekal keterampilan tidak selaluberarti mendapatkan pekerjaan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK tercatat 7,68%pada Sakernas Mei 2026 itu lebih tinggi daripada SMA dengan nilai 6,17% dan Diploma IV hinggaS3 dengan nilai 6,09 %. Meskipun SMK dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja, kelompok inilah yang paling sulit terserap.
Angka-angka ini tidak dapat digunakan sebagai indikatorlangsung keberhasilan pelatihan kerja. Ini hanya menunjukkan bahwa keterampilan dan pendidikanbelum otomatis menghasilkan pekerjaan.Kelompok muda mengalami lebih banyak tekanan. Pada Mei 2026, TPT usia 15–24 tahunmeningkat menjadi 17,37% dari 16,36% pada Februari 2026. Selain itu, kesempatan kerja tidakmerata di seluruh wilayah.
Pada Agustus 2025, TPT perkotaan adalah 5,75%, sedangkan TPTperdesaan 3,47%, menunjukkan bahwa persaingan kerja di kota lebih ketat. Oleh karena itu, jumlahpekerjaan yang tersedia, persaingan, usia, lokasi, dan sertifikat seseorang dipengaruhi oleh peluangmereka.
Pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan industri untuk mengurangi disparitasketerampilan. Pemerintah dan lembaga pelatihan dapat bekerja sama dengan perusahaan untukmembuat materi, mempekerjakan instruktur, dan memberikan kesempatan magang. Ini akan memberipeserta pemahaman tentang situasi kerja nyata, bukan hanya teori.
TPT lulusan SMK harus dicatat. Angkanya turun dari 9,31% pada Agustus 2023 menjadi9,01% pada Agustus 2024, kemudian turun menjadi 8,63% pada Agustus 2025, dan akhirnya turunmenjadi 7,74% pada Februari 2026. Namun, penurunan ini belum cukup untuk mengatakan bahwapelatihan sudah mencapai tujuan. Banyak variabel lain dapat memengaruhi tren yang membaik, dankelompok ini masih yang tertinggi.
Akibatnya, evaluasi harus dilakukan secara berkala. Lembaga pelatihan harus melihat apakahalumninya bekerja, di bidang apa, dan apakah kemampuan yang dipelajari digunakan. Hasil inidigunakan sebagai dasar untuk perbaikan program berikutnya.
Pelatihan kerja adalah investasi dalam sumber daya manusia yang digunakan untukmeningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan produktivitas karyawan. Akibatnya, keberhasilan tidakdapat diukur hanya dari jumlah sertifikat yang diterbitkan, tetapi juga dari keuntungan yang diperolehpeserta.
Persentase peserta yang mendapatkan pekerjaan setelah pelatihan, kesesuaian pekerjaandengan keterampilan yang dipelajari, dan peningkatan pendapatan adalah beberapa indikator yangdapat digunakan.Data BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Agustus 2024sebesar 4,91%, dengan TPT lulusan SMK sebesar 9,01%.
Ini menunjukkan bahwa pengangguranmasih menjadi masalah, termasuk bagi mereka yang siap untuk memasuki dunia kerja. Namun, datatersebut tidak secara khusus mengukur pengaruh pelatihan kerja terhadap peluang untuk mendapatkanpekerjaan.BPS menghitung pengangguran berdasarkan pendidikan yang diterima, bukan pelatihan yangdiikuti.
Karena itu, pemerintah harus memantau peserta pelatihan setelah program, misalnya denganmelacak alumni dengan data ketenagakerjaan. Ini menunjukkan apakah program meningkatkanpeluang kerja dan memenuhi kebutuhan pasar. Oleh karena itu, pemerintah harus memantau peserta setelah pelatihan dengan melacakalumni, termasuk status pekerjaan mereka, bidang pekerjaan, dan gaji mereka.
Hasil pemantauandapat digunakan untuk menilai seberapa sesuai materi pelatihan dengan persyaratan industri. Jadi,program tidak hanya diukur dari berapa banyak peserta yang lulus, tetapi juga dari seberapa banyakpelatihan membantu mereka mendapatkan pekerjaan dan lebih baik secara keseluruhan.
Penulis:
- Shafiya Anita Widodo
- Nayala Zahtari Triana
Mahasiswi dari Universitas Negeri Malang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Ekonomi Pembangunan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment