Kampus
Opini
Pendidikan
Karnaval Dunia, Wisata Masih Sebatas Satu Malam
APERO FUBLIC I Setiap kali Jember Fashion Carnaval (JFC) digelar, jalanan Kota Jember berubah menjadi panggung raksasa. Kostum megah setinggi dan selebar mobil, penari yang melenggang penuh percaya diri, serta ribuan penonton yang berdesakan di pinggir jalan selalu menghadirkan pemandangan yang memukau.
Dari kota yang dulu lebih dikenal sebagai sentral perkebunan tembakau, Jember kini memiliki identitas baru yang diakui hingga mancanegara, bahkan rutin menarik minat pelancong asing. Itu adalah pencapaian besar yang patut dibanggakan.
Namun, sebagai warga yang ingin melihat Jember terus maju, kita perlu jujur mengakui satu hal: JFC belum sepenuhnya bertransformasi menjadi mesin penggerak pariwisata daerah yang berkelanjutan. Ia masih terjebak sebagai pesta tahunan yang spektakuler, alih-alih ekosistem wisata yang hidup sepanjang tahun.
Pertama, kita harus mengapresiasi kekuatan inti JFC. Karnaval ini murni lahir dari gagasan kreatif anak daerah dan tumbuh tanpa sokongan kota wisata mapan, membuktikan bahwa sebuah kota kabupaten mampu melahirkan event berstandar internasional.
Ribuan orang terlibat, mulai dari perancang kostum, penjahit, penata rias, hingga peserta dan relawan. Anakanak muda mendapatkan ruang aktualisasi diri yang menumbuhkan rasa bangga pada daerahnya. Nilai simbolis seperti ini tentu tidak ternilai harganya bagi martabat Jember.
Kendati demikian, masalah krusialnya terletak pada pola kunjungan wisatawan. Berdasarkan data dan evaluasi dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Jember, momentum JFC memang selalu mendongkrak tingkat okupansi hotel secara drastis hingga penuh dalam hitungan hari.
Namun, siklus ekonominya cenderung instan: wisatawan tiba, menyaksikan karnaval, lalu sebagian besar langsung pulang atau melanjutkan perjalanan ke Bromo, Ijen, atau Banyuwangi. Begitu acara usai, denyut ekonomi mendadak melandai kembali.
Pola ini membuktikan bahwa JFC belum terhubung secara langsung dengan destinasi lain di Jember. Padahal, secercah harapan telah dibuka lewat terobosan kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember yang mulai memberlakukan tiket integrasi kawasan wisata pesisir selatan antara Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma.
Sayangnya, momentum integrasi destinasi seperti ini, ditambah potensi Teluk Love, air terjun lereng pegunungan, hingga kekayaan budaya Pandalungan, belum disandingkan secara taktis dengan kalender penyelenggaraan JFC agar wisatawan memiliki alasan kuat untuk memperpanjang masa tinggalnya (length of stay).
Di sinilah letak pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan para pelaku industri pariwisata. Event sebesar JFC seharusnya disandingkan dengan paket wisata terpadu yang mudah diakses: mulai dari tur setengah hari ke pesisir selatan yang kini sudah terintegrasi, kunjungan ke sentra kerajinan, wisata kuliner khas, hingga pengalaman tinggal di desa wisata.
Informasi mengenai paket tersebut harus disebarluaskan jauh-jauh hari sebelum perhelatan dimulai, bukan sekadar diumumkan menjelang hari-H. Wisatawan modern merencanakan liburan mereka berbulan-bulan sebelumnya.
Jika Jember gagal menyediakan rencana perjalanan yang matang dan siap pakai, pelancong akan menyusunnya sendiri, dan Jember dipastikan hanya akan kebagian sisa waktu satu malam.
Kedua, aspek infrastruktur dan kenyamanan dasar mendesak untuk dibenahi. Kepadatan lalu lintas yang ekstrem di titik-titik utama kota, keterbatasan moda transportasi umum penghubung, masalah kebersihan sampah massal, minimnya ketersediaan toilet umum, serta karut-marut area parkir masih menjadi catatan evaluasi rutin setiap tahun.
Wisatawan yang lelah dan kebingungan tentu tidak akan membawa pulang cerita manis, apalagi berniat untuk kembali di luar musim JFC. Penyelenggaraan event berkelas dunia menuntut standar pelayanan yang juga berkualitas, setidaknya pada fasilitas-fasilitas dasar.
Investasi pada rambu petunjuk arah yang jelas, penyediaan bus pengumpan (feeder) dari stasiun dan terminal, serta manajemen arus penonton yang rapi akan jauh lebih berdampak ketimbang sekadar menambah kemegahan panggung.
Ketiga, JFC perlu ditarik keluar dari batasan jalan raya semata agar melekat pada denyut kehidupan sehari-hari kota. Bayangkan jika Jember memiliki galeri kostum permanen yang bisa dikunjungi pelancong kapan saja di luar bulan Agustus, lokakarya perancangan kostum bagi pelajar dan wisatawan, atau pertunjukan mini rutin di ruang publik.
Dengan cara ini, Jember memiliki daya tarik wisata budaya yang tidak melulu bergantung pada satu kalender acara tahunan. Kota-kota sukses di dunia yang mengandalkan pariwisata budaya menjaga denyut kreatif tersebut tetap menyala sepanjang tahun.
Keempat, pemerataan manfaat ekonomi harus dirasakan oleh masyarakat luas. Selama ini, sorotan terbesar kerap terkonsentrasi pada panggung utama dan para peserta terpilih, sementara pedagang kecil, pengrajin lokal, dan pelaku UMKM sering kali hanya menjadi penonton di pinggir jalan utama.
Pemerintah daerah perlu memperluas ruang partisipasi mereka melalui bazar yang terkurasi ketat di kantong-kantong keramaian, kemitraan strategis untuk suvenir resmi berstandar lokal, serta pelatihan pelayanan prima bagi para pemilik homestay.
Pariwisata yang sehat adalah pariwisata yang perputaran uangnya dirasakan langsung oleh warga lokal secara merata, bukan sekadar dinikmati segelintir pihak.Kelima, seluruh pembenahan ini menuntut koordinasi antar sektor secara sistematis.
Penyelenggara karnaval, dinas pariwisata, pengelola destinasi (termasuk pengelola kawasan pesisir yang kini terintegrasi), asosiasi perhotelan seperti PHRI, hingga komunitas lokal harus duduk bersama dalam merancang target tahunan yang terukur.
Tanpa indikator keberhasilan yang jelas, seperti peningkatan rata-rata lama tinggal wisatawan atau lonjakan kunjungan ke destinasi pendukung pasca-acara keberhasilan JFC selamanya hanya akan diukur dari padatnya lautan manusia di pinggir jalan selama beberapa hari.
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan arti penting JFC. Justru karena karnaval ini begitu berharga dan menjadi ikon kebanggaan, ia sudah saatnya dikelola sebagai aset investasi jangka panjang. Kebanggaan emosional saja tidak akan pernah cukup untuk menopang perekonomian daerah.
Kebanggaan itu harus diterjemahkan secara nyata ke dalam kunjungan yang lebih lama, distribusi belanja yang merata, serta alasan kuat bagi orang-orang untuk kembali ke Jember.Jember telah berhasil memenangkan perhatian dunia melalui visual dan kostum yang memukau.
Tantangan berikutnya jauh lebih sunyi namun tak kalah menentukan: memastikan perhatian itu tetap bertahan lama setelah musik berhenti berdentum dan jalanan kota kembali lengang. Bila langkah itu berhasil, JFC tidak hanya akan dikenang sebagai tontonan megah semata, melainkan benar-benar menjadi pintu gerbang utama bagi kemajuan pariwisata Jember secara menyeluruh.
Oleh: Lailatul Zaroh
Mahasiswi Program Studi Tadris IPS, UIN Khas Jember.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment