Esai
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Peran dan Tanggung Jawab Mahasiswa sebagai Warga Negara dalam Membangun Kepedulian Sosial
Haruskah Sebuah Masalah Menjadi Viral agar Mahasiswa Peduli?
APERO FUBLIC I Haruskah Sebuah Masalah Menjadi Viral agar Mahasiswa Peduli?Media sosial kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Melalui Instagram, TikTok, X, dan berbagai platform lainnya, mahasiswa dapat mengetahui berbagai persoalan sosial dengan mudah dan cepat.
Informasi mengenai ketidakadilan, kemiskinan, pendidikan, lingkungan, hingga kebijakan pemerintah dapat tersebar hanya melalui sebuah unggahan. Hal ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk lebih memahami kondisi masyarakat.
Namun, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah suatu masalah harus viral terlebih dahulu agar mahasiswa mau peduli?Pertanyaan tersebut penting karena media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan pendapat dan melakukan aksi sosial.
Salah satu contohnya adalah gerakan #IndonesiaGelap pada 2025, ketika mahasiswa dan masyarakat menggunakan demonstrasi serta media sosial untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan. Pemberitaan Setianingsih (2025) di Kompas.id mengenai aktivisme media sosial generasi Z menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana untuk menyuarakan pendapat dan membangun kesadaran publik.
Namun, perhatian yang muncul di media sosial tidak selalu menjamin penyelesaian masalah. Masih banyak persoalan yang membutuhkan perhatian meskipun tidak ramai dibicarakan. Menurut kami, viralnya suatu masalah bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Justru, viralitas dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian.
Masalah yang sebelumnya kurang diketahui masyarakat bisa mendapatkan perhatian setelah dibicarakan secara luas di media sosial. Dari sana, dapat muncul diskusi, dukungan, penggalangan dana, hingga gerakan sosial. Penelitian Sudirman dan Alifah (2025) membahas peran media sosial dalam membentuk kepedulian generasi muda terhadap isu sosial.
Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa kampanye digital dapat mendorong kepedulian dan partisipasi sosial generasi muda. Namun, informasi yang tersebar tetap perlu dipahami secara kritis agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu benar.
Persoalan yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana seseorang bertindak setelah mengetahui suatu masalah. Membagikan unggahan, memberikan tanda suka, atau menuliskan komentar memang dapat menjadi bentuk dukungan. Akan tetapi, tindakan tersebut belum tentu menghasilkan perubahan nyata.
Jika seseorang hanya menunjukkan kepedulian ketika suatu isu sedang ramai, kemudian melupakannya saat muncul topik baru, kepedulian tersebut berisiko menjadi sementara. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kepedulian yang tidak bergantung pada popularitas suatu isu.
Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab sosial untuk memperhatikan keadaan masyarakat. Menjadi warga negara yang baik bukan hanya berarti memahami hak dan kewajiban, tetapi juga memiliki kesadaran untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan bersama.
Kepedulian seharusnya muncul karena kita memahami bahwa suatu masalah berdampak terhadap kehidupan orang lain, bukan semata-mata karena banyak orang membicarakannya. Dengan begitu, mahasiswa dapat belajar melihat persoalan secara lebih luas dan tidak hanya mengikuti perhatian publik.
Contoh kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata dapat ditemukan di Universitas Brawijaya. Pada 2025, program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) melibatkan lebih dari seribu mahasiswa untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat desa.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenali kebutuhan masyarakat, berinteraksi dengan warga, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat dibangun melalui keterlibatan langsung, bukan hanya dengan membicarakan masalah di media sosial (Sukarelawati, 2025).
Contoh lainnya terlihat pada program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya pada Juli 2025. Sebanyak 1.047 mahasiswa dilepas untuk mengikuti kegiatan di berbagai desa dan puskesmas.
Kegiatan tersebut mendorong mahasiswa untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat dan berkontribusi dalam mencari Solusi (Cahyaningrum, 2025). Kedua contoh ini memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki peluang untuk memberikan manfaat secara langsung melalui kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.Menurut kami, mahasiswa dapat memulai kepedulian dari hal-hal sederhana di sekitar mereka.
Misalnya, membantu masyarakat yang membutuhkan, mengikuti kegiatan sosial, terlibat dalam organisasi kemahasiswaan, menjaga kebersihan lingkungan, atau menyebarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak semua bentuk kepedulian harus berupa demonstrasi atau kegiatan besar.
Tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten juga dapat memberikan dampak positif. Hal terpenting adalah adanya kemauan untuk memahami persoalan dan melakukan sesuatu sesuai kemampuan. Selain mahasiswa, perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan juga memiliki peran penting dalam membangun kepedulian yang berkelanjutan.
Kegiatan sosial sebaiknya tidak hanya dilaksanakan ketika suatu masalah sedang viral, tetapi juga berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Organisasi mahasiswa dapat mengadakan program pendampingan, pendidikan, atau kegiatan lingkungan secara rutin.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif menyebarkan informasi, tetapi juga mampu mengubah informasi menjadi pemahaman dan pemahaman menjadi tindakan.
Pada akhirnya, menurut kami, suatu masalah tidak harus viral terlebih dahulu agar layak mendapatkan perhatian. Media sosial memang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali persoalan sosial, tetapi kepedulian seharusnya tidak berhenti ketika perhatian publik mulai berkurang.
Mahasiswa perlu membiasakan diri untuk peka terhadap keadaan sekitar, berpikir kritis sebelum menyebarkan informasi, dan mengambil bagian dalam penyelesaian masalah sesuai kemampuan masing-masing. Menjadi mahasiswa yang peduli bukan hanya tentang seberapa sering kita membagikan isu sosial, melainkan juga tentang seberapa besar kemauan kita untuk memahami dan membantu menyelesaikannya.
Sebab, masih banyak persoalan yang tidak terlihat di media sosial, tetapi tetap membutuhkan perhatian. Kepedulian yang sesungguhnya bukan hanya muncul ketika semua orang sedang membicarakan suatu masalah, melainkan juga tetap ada ketika masalah tersebut tidak lagi menjadi perhatian publik.
PENULIS:
- Nurul Zaza Adlina
- Rissa Eka Maulida
- Yunita Bella Nafara
Editor. Tim Redaksi
DAFTAR PUSTAKA
Sudirman, dan Faiqoh Dzakiyyatul Alifah. 2025. “Peran Media Sosial dalam Membentuk Kepedulian Generasi Muda terhadap Isu Sosial.” HUMAN: Journal of Social Humanities and Science, 2(2), 59–64. https://doi.org/10.58738/human.v2i2.952Setianingsih, Dwi AS. 2025. “Aktivisme Media Sosial ala Gen Z.” Kompas.id, 4 Maret 2025. https://www.kompas.id/artikel/aktivisme-media-sosial-ala-gen-zSukarelawati, Endang. 2025. “Mahasiswa Bangun Desa Universitas Brawijaya Tekankan Empati Sosial.”ANTARA News Jawa Timur, 2 Juli 2025. https://jatim.antaranews.com/berita/941157/mahasiswa-bangun-desa-universitas-brawijayatekankan-empati-sosialCahyaningrum, Yulisha Dian. 2025. “FEB UB Lepas 1.047 Mahasiswa untuk Melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat di 79 Desa dan 98 Puskesmas.” Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, 3 Juli 2025. https://feb.ub.ac.id/feb-ub-lepas-1-047-mahasiswa-untukmelaksanakan-pengabdian-kepada-masyarakat-di-82-desa-dan-98-puskesmas.
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment