Keislaman
Opini
Pendidikan
Guru: Digugu dan Ditiru. Guru Sebagai Penanggung Jawab Utama Marwah Pesantren di Era Digital
Gambar 1: KH. Ghonim Jauhari diakses dari Assunniyyah official
APERO FUBLIC I Zaman semakin maju, era digital terus berkembang tanpa bisa dicegah. Arusnya yang deras begitu saja merangsek masuk ke berbagai lini kehidupan. Bahkan Pesantren selaku tempat pembentukan karakter pemeliharaan moral dan akhlakul karimah ikut terseret oleh arusnya.
Dalam dunia pesantren, sama halnya dengan aspek dan lini kehidupan lain, digitalisasi selaku perkembangan teknologi tentu saja tidak hadir dengan satu sisi saja. Satu sisinya secara positif mempermudah akses literasi dari Khazanah keilmuan Islam serta memperluas wawasan santri terhadap pengetahuan secara global.
Sisi sebaliknya, era digital yang di dalamnya dapat memuat informasi serba cepat ini justru menjadi bumerang, sekaligus celah untuk masuknya berbagai hal-hal negatif.
Arus informasi semakin tidak terkontrol, konten-konten negatif bertebaran, bahkan isu-isu sosial tersebar luas tanpa peninjauan yang jelas.
Dalam hal ini, lagi-lagi pondok pesantren ikut terseret. Marwah dan kehormatan Pesantren diuji lewat berbagai stigma negatif yang seliweran di layar publik. Mulai dari krisis moral dan penyalahgunaan wewenang, sampai kasus berat yang justru diusung oleh pihak-pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab atas Marwah pesantren itu sendiri.
Foto 2: Instagram Assunniyyah official
Marwah Pesantren di Era Digital
Dunia digital seringkali membuat kita abai akan prinsip tabayyun atau memverifikasi atas kabar yang diterima. Akibatnya, insiden kecil sekalipun di pesantren yang diunggah dan diviralkan di media massa dapat langsung berubah menjadi panah buta yang menghancurkan reputasi lembaga yang dibangun bertahun-tahun lamanya.
Selain ancaman eksternal, berbagai masalah-masalah dari dalam Pesantren juga turut menempatkan pesantren di ruang tertutup dengan berbagai tekanan.
Kondisi santri di era digital ini telah sampai pada tingkat Advance di mana santri sudah paham dan melek digital. Mereka cenderung berpikir kritis, mudah bosan dan haus akan akses informasi di luar otoritas Kyai dan Ustadz.
Darinya, peran pengajar atau Ustadz untuk memahami dan memberi arahan atas pola pikir dan dimensi kritik santri menjadi sangat penting. Jika tidak, maka menara keilmuan Pesantren akan rubuh dan mengalami erosi.
Foto 3: Sambutan perwakilan pengurus pondok pesantren
Guru Sebagai Gerbang Kultural dan Penanggung Jawab Marwah Pesantren
Guru atau Ustadz memegang peran sentral dalam menjaga sekaligus bertanggung jawab atas Marwah Pesantren melalui tauladan akhlak, integritas, serta penanaman nilai-nilai keislaman.
Di tengah isu-isu akibat digilitalisasi yang menyerang ini, Segala ucapan, tingkah laku, dan sikap guru di lingkungan pesantren atau masyarakat akan secara otomatis menjadi tolak ukur penilaian publik terhadap lembaga. Untuk itu, guru harus menjadi sosok yang bisa dijadikan panutan/qudwah Hasanah.
Menghadapi santri zaman sekarang yang sangat kritis, di mana mereka tidak hanya mendengar penuturan gurunya saja, tetapi sekaligus mengamati gerak-gerik, sikap, cara bertindak, dan teladan akhlak sang guru di dunia nyata ini menuntut guru untuk menjunjung tinggi kejujuran, disiplin, dan akhlakul karimah untuk membuat santri dengan sendirinya menaruh rasa hormat dan menjadikannya sebagai rujukan utama, bukan internet atau sosial media.
Selanjutnya, guru bertanggung jawab merawat tradisi keilmuan Islam dan moral santri tanpa kehilangan relevansi dengan perkembangan zaman. Guru harus senantiasa memastikan sanat keilmuan di Pondok Pesantren tetap tersambung dan terjaga dengan baik. Sekaligus membimbing para santri agar tetap berpegang pada nilai-nilai Salaf dan khalaf tanpa tertinggal oleh zaman.
Di tengah gempuran media dan dunia maya yang serba instan ini, guru atau Ustadz berperan aktif membiasakan santri hidup dalam kedisiplinan, jujur, dan beradab. Sebab karakter seorang pendidik lah yang akhirnya menjadi pertahanan terakhir santri agar tidak terseret arus modernitas digital yang nyeleweng.
Darinya, sosok guru atau Ustadz haruslah seorang insan yang senantiasa menjalankan amanah dengan keikhlasan yang tinggi, menjaga niat, menghindari riya, sombong, atau perilaku tercela lainnya yang dapat merusak Citra pendidik maupun Marwah lembaga tempat ia berkhidmah.
Wal akhir, pondok pesantren sekalipun dihimpit oleh berbagai tuntutan dan perkembangan zaman tetap menjadi harapan terakhir untuk mencetak generasi intelektual dan matang secara spiritual.
Namun di dalamnya, tugas para tokoh dibaliknya seperti para guru atau Ustadz selaku pendidik dan Kyai dalam menjaga marwah pesantren amat dipertaruhkan. Apalagi menjaga reputasi suatu lembaga di era ini bukanlah tugas yang mudah dan harus didampingi oleh niat hikmah dengan kesabaran yang luar biasa.
Oleh karena itu, selama para guru berpegang teguh pada prinsip bahwa ia harus layak digugu dan ditiru serta konsisten menjalankan perannya, maka citra harum Pesantren tidak akan pernah layu tergerus zaman.
Penulis: Wardatul Jannah
Mahasiswi Magister Manajemen Pendidikan Islam, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Keislaman

Post a Comment