Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Anak yang Berbeda, Standar yang Sama: Adilkah Cara Kita Memperlakukan Semua Siswa?
APERO FUBLIC I Bayangkan sebuah kelas yang berisi anak-anak dengan kemampuan belajar yang berbeda. Guru memberikan tugas yang sama, menjelaskan materi dengan cara yang sama, dan menetapkan waktu pengerjaan yang sama untuk semua siswa.
Sekilas, hal ini terlihat adil karena tidak ada anak yang dibedakan. Namun, apakah cara tersebut benar-benar memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk belajar?
Pertanyaan ini penting ketika kita membicarakan pendidikan inklusif, yaitu pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk belajar bersama, termasuk anak berkebutuhan khusus. Selama ini, kita sering menganggap bahwa bersikap adil berarti memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.
Padahal, setiap anak memiliki kemampuan, kesulitan, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Jika perbedaan tersebut diabaikan, perlakuan yang terlihat sama justru bisa membuat sebagian anak semakin kesulitan mengikuti pelajaran.
Memberikan perlakuan yang sama belum tentu adil
Di dalam kelas, tidak semua anak dapat memahami penjelasan guru dengan cara yang sama. Ada anak yang mudah memahami materi melalui penjelasan lisan, ada yang lebih terbantu dengan gambar, dan ada pula yang membutuhkan contoh langsung agar lebih mudah mengerti.
Jika guru hanya menggunakan satu cara mengajar, sebagian siswa mungkin akan kesulitan memahami materi meskipun mereka sudah berusaha mengikuti pembelajaran.
Hal serupa dapat terjadi pada anak dengan disabilitas. Siswa yang memiliki hambatan penglihatan, misalnya, mungkin membutuhkan bahan bacaan yang dapat dibaca menggunakan alat bantu.
Sementara itu, siswa yang mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang mungkin lebih terbantu jika guru memberikan petunjuk secara bertahap.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa memberikan tugas dan aturan yang sama kepada semua anak belum tentu membuat mereka memiliki kesempatan belajar yang sama. Adil bukan berarti semua anak harus mendapatkan hal yang persis sama. Adil berarti setiap anak memperoleh bantuan yang dibutuhkan agar dapat belajar dengan baik.
Memberikan bantuan tambahan kepada siswa yang membutuhkan juga bukan berarti guru pilih kasih. Justru, bantuan tersebut dapat membantu anak mengikuti pembelajaran dan menunjukkan kemampuannya. Tujuan pembelajaran tetap penting, tetapi cara membantu anak untuk mencapainya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Sekolah inklusif tidak cukup hanya menerima semua anak
Pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan dengan menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler dan menempatkannya di kelas bersama siswa lainnya. Sekolah juga perlu memastikan bahwa anak tersebut dapat mengikuti pelajaran, berpartisipasi dalam kegiatan, dan diterima oleh teman-temannya.
UNICEF Indonesia pada Desember 2023 menyampaikan bahwa anak-anak dengan disabilitas masih tertinggal dalam berbagai aspek perkembangan, termasuk pendidikan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa anak dengan disabilitas masih menghadapi hambatan untuk memperoleh kesempatan yang setara. Informasi ini menjadi pengingat bahwa menerima anak di sekolah saja belum cukup jika kebutuhan belajarnya belum diperhatikan.
Kita perlu melihat lebih jauh apa yang terjadi setelah anak masuk ke ruang kelas. Apakah ia dapat memahami materi yang diajarkan? Apakah ia mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan bekerja sama dengan teman?
Apakah guru menyediakan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhannya? Apakah ia merasa aman dan tidak diejek karena perbedaannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab secara nyata, bukan hanya melalui pernyataan bahwa sekolah sudah menerima semua anak. Jika seorang siswa hadir setiap hari tetapi terus kesulitan mengikuti pelajaran tanpa mendapatkan bantuan yang sesuai, tujuan pendidikan inklusif belum tercapai sepenuhnya.
Tentu saja, guru tidak bisa disalahkan atas semua persoalan tersebut. Guru menghadapi berbagai tantangan, seperti jumlah siswa yang banyak, waktu mengajar yang terbatas, serta kurangnya pelatihan dan bahan ajar yang sesuai.
Karena itu, sekolah dan pemerintah juga harus memberikan dukungan. Jangan sampai guru dituntut mampu mengajar semua anak dengan baik, tetapi tidak dibekali pengetahuan dan sarana yang cukup.
Perubahan dapat dimulai dari ruang kelas
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Perubahan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Guru dapat memulainya dengan memperhatikan cara siswa belajar dan mengenali bagian pelajaran yang membuat mereka kesulitan.
Ketika seorang anak belum memahami materi, guru sebaiknya tidak langsung menganggap anak tersebut malas atau tidak mampu. Guru perlu memeriksa kembali apakah penjelasannya sudah mudah dipahami, apakah petunjuk tugasnya cukup jelas, dan apakah siswa membutuhkan cara belajar yang berbeda.
Guru juga dapat menggunakan berbagai cara untuk menjelaskan materi, seperti gambar, benda nyata, contoh dalam kehidupan sehari-hari, atau petunjuk yang disampaikan langkah demi langkah. Jika diperlukan, guru dapat menyesuaikan cara siswa mengerjakan atau menunjukkan hasil belajarnya, selama tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Selain itu, guru perlu membangun kebiasaan saling menghargai di dalam kelas. Anak-anak harus memahami bahwa memiliki kebutuhan yang berbeda bukanlah alasan untuk mengejek, menjauhi, atau merendahkan teman. Semua siswa perlu merasa aman untuk bertanya, mencoba, dan belajar tanpa takut dipermalukan.
Namun, usaha guru saja tidak cukup. Kepala sekolah perlu mendukung pelatihan guru, menyediakan bahan ajar yang sesuai, serta menjalin komunikasi dengan orang tua.
Jika ada kebutuhan yang tidak dapat ditangani sendiri oleh guru, sekolah perlu mencari bantuan dari tenaga yang memiliki keahlian terkait. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa sekolah memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk menjalankan pendidikan inklusif.
Sebagai calon guru sekolah dasar, saya menyadari bahwa mengajar anak dengan kebutuhan belajar yang beragam bukanlah pekerjaan yang selalu mudah. Guru perlu terus belajar dan memperbaiki cara mengajarnya. Namun, kesulitan tersebut seharusnya menjadi alasan untuk mencari cara yang lebih baik, bukan alasan untuk membiarkan anak tertinggal.
Adil bukan berarti semua anak harus sama
Pada akhirnya, kita perlu mengubah cara memandang keadilan di sekolah. Apakah sekolah sudah adil hanya karena memberikan tugas yang sama kepada semua siswa? Ataukah sekolah baru dapat dikatakan adil ketika setiap anak memperoleh kesempatan untuk memahami pelajaran dan mengembangkan kemampuannya?
Pendidikan inklusif bukan berarti semua anak harus memiliki kemampuan yang sama atau belajar dengan cara yang sama. Pendidikan inklusif berarti sekolah bersedia memahami perbedaan dan berusaha memberikan kesempatan belajar yang layak kepada setiap anak.
Kita tidak bisa berharap semua anak berkembang dengan cara dan kecepatan yang sama. Namun, kita dapat memastikan bahwa tidak ada anak yang diabaikan hanya karena ia membutuhkan cara belajar yang berbeda.
Keberhasilan sekolah bukan hanya dilihat dari banyaknya anak yang duduk di dalam satu kelas, tetapi juga dari kesempatan yang mereka peroleh untuk belajar dan berkembang.
Sebab, jika kita terus menganggap bahwa perlakuan yang sama selalu berarti adil, kita mungkin tidak menyadari bahwa ada anak-anak yang masih kesulitan mendapatkan kesempatan belajar yang seharusnya mereka miliki.
Oleh: Rizki Ahmad Fauziy
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Mulawarman.
Editor. Tim Redaksi
DAFTAR REFERENSI
UNICEF Indonesia. (2023, 20 Desember). Laporan terbaru menunjukkan anak-anak dengan disabilitas tertinggal dalam semua indikator perkembangan anak. https://www.unicef.org/indonesia/id/disabilitas/siaran-pers/laporan-terbaru-menunjukkan-anak-anak-dengan-disabilitas-tertinggal-dalam-semua
UNICEF Indonesia. (t.t.). Anak dengan disabilitas dan pendidikan. https://www.unicef.org/indonesia/id/dokumen/anak-dengan-disabilitas-dan-pendidikan.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment