Kampus
Medan
Opini
Pendidikan
Teknologi
Bisa Menggunakan AI, Apakah Berarti Kita Sudah Literat?
APERO FUBLIC I Pukul sebelas malam. Tugas harus masuk sebelum subuh, sementara halaman Word masih kosong melompong. Hampir semua mahasiswa pernah ada di titik itu. Bedanya, sekarang ada jalan keluar yang terasa terlalu gampang: buka AI, ketik satu pertanyaan, dan tak sampai semenit jawabannya sudah muncul, lengkap dengan penjelasan, contoh, dan kerangka tulisan yang rapi.
Saya tidak sedang mau bilang AI itu jahat. Ia memang berguna. Ia bisa membantu mencari ide, menjelaskan materi yang macet di kepala, atau merapikan kalimat yang berantakan. Tetapi ada satu hal yang mengganjal buat saya: kalau kita sudah lancar memakai AI, apakah itu otomatis berarti kita literat?Saya rasa tidak.
Dalam buku Pendidikan Multiliterasi, Sudirman dan Mahfuzi Irwan (2023) menjelaskan bahwa literasi sudah tidak bisa dipahami secara sempit. Teknologi mengubah bentuk informasi yang kita hadapi, juga cara masyarakat hidup di era digital, sehingga makna literasi ikut meluas.
Jadi, mahir mengoperasikan teknologi itu bagus, tetapi belum cukup untuk disebut literat.Coba bandingkan dua mahasiswa, sebut saja Rani dan Dimas. Rani memakai AI untuk mendapat gambaran awal. Setelah itu ia membaca ulang jawabannya, mencari sumber, membandingkan satu informasi dengan yang lain, lalu menulis dengan bahasanya sendiri.
Dimas lain lagi. Ia meminta AI mengerjakan seluruh tugas, menyalin hasilnya, dan langsung mengumpulkan.Dari luar, keduanya sama saja: sama-sama “pakai AI”. Padahal cara mereka memperlakukan informasi jauh berbeda, dan di situlah persoalannya.
Buku Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru (Angelianawati dkk., 2025) membantu menjelaskan perbedaan itu. Multiliterasi di sana tidak berhenti pada teks. Ia mencakup informasi visual, audio, digital, hingga multimodal. Dan seseorang tidak dianggap cakap hanya karena bisa mengakses informasi; ia juga harus bisa memahami, mengevaluasi, menghasilkan, dan mengomunikasikannya.
Dengan ukuran itu, Rani melakukan lebih dari sekadar memakai teknologi. Ia sedang belajar memperlakukan informasi secara kritis. Dimas hanya memindahkan teks dari satu layar ke layar lain.Ini bukan skenario yang dibuat-buat.
Nursalam, Ambarita, dan Resha (2025) meneliti 56 mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Maluku dan menemukan bahwa ChatGPT sudah dipakai untuk mencari dan mengembangkan ide, memvalidasi referensi, memperbaiki tata bahasa, sampai membuat tulisan lebih jelas.
Penelitian yang sama juga mencatat persoalan orisinalitas dan kemungkinan mahasiswa menjadi bergantung.Dua sisi itu terasa nyata. AI membantu, tetapi bantuan berubah jadi masalah begitu kita berhenti berusaha memahami apa yang sedang kita kerjakan.
Jadi yang bermasalah bukan mahasiswa yang memakai AI, melainkan mahasiswa yang ikut menitipkan pikirannya di sana.Pemakaian yang sehat sebenarnya sederhana. Minta AI beberapa ide, pilih yang paling masuk akal, baca lebih banyak, kembangkan pendapat sendiri, lalu tulis ulang dengan pemahaman kita. AI di sini menjadi teman berpikir.
Tetapi kalau semuanya diserahkan, mulai dari ide, argumen, sumber, sampai kesimpulan, pertanyaannya jadi agak tidak nyaman: sebenarnya siapa yang sedang belajar? Di titik inilah literasi kritis berperan. Angelianawati dkk. (2025) menekankan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran, termasuk menilai kredibilitas sumber dan membandingkan berbagai sudut pandang.
Praktiknya tidak rumit. Ketika AI menyebut sebuah teori atau nama tokoh, jangan langsung percaya. Cari sumber aslinya, baca, bandingkan dengan sumber lain, lalu putuskan apakah cocok dengan tugas yang sedang dikerjakan.
Memang lebih lama daripada copy-paste. Tapi justru di proses memeriksa itulah otak kita bekerja. Teknologi membuat informasi gampang didapat, sementara kemampuan menilainya tidak datang otomatis bersama kemudahan itu.
Karena itu, pertanyaan soal AI di dunia pendidikan sebaiknya tidak berhenti di “AI bisa membantu apa?”. Kita juga perlu bertanya, “Setelah dibantu AI, apa yang masih harus saya kerjakan sendiri?” AI bisa menawarkan ide, menjelaskan konsep, bahkan menyodorkan sumber.
Menimbang, memahami, dan mengecek tetap pekerjaan kita.Kemampuan digital dan kemampuan berpikir kritis pada akhirnya tidak bisa dipisahkan. Kalau kita hanya mengejar kecepatan memakai teknologi, kita mungkin jadi pengguna AI yang cepat.
Kalau kita juga mau memeriksa, membandingkan, dan mempertanggungjawabkan informasi yang dipakai, barulah kita membangun literasi yang utuh.Menurut saya, mahasiswa yang literat bukan yang paling cepat mengetik perintah ke AI, melainkan yang tahu kapan perlu memakainya, bagaimana memeriksa jawabannya, dan kapan harus berhenti lalu berpikir sendiri.
AI boleh membantu kita belajar, menemukan ide, bahkan bekerja lebih cepat. Tetapi tanggung jawab atas informasi yang dipakai tetap ada pada manusia di baliknya.Jadi, apakah bisa memakai AI berarti sudah literat? Belum tentu. Ukurannya ada pada hal yang lebih sederhana: apakah kita masih berpikir ketika memakainya.
Oleh: Ivana Anelia Samosir
Mahasiswi Universitas Negeri Medan, Fakultas Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Nasyarakat.
Editor. Tim Redaksi
SUMBER
Angelianawati, D., Tasnimah, T. M., Hidayah, A., Lestari, F. D., Mashuri, Cahyaningrum, I. O., Ningrum, S. T., Nurhidayati, Islam, R. F., & Adika, D. (2025). Pendidikan berbasis multiliterasi: Menyiapkan generasi baru. PT Akselerasi Karya Mandiri.Nursalam, Ambarita, J., & Resha, F. (2025). Pemanfaatan ChatGPT dalam penulisan karya ilmiah mahasiswa perguruan tinggi di Maluku: Studi metode campuran. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 10(2), 252–274.Sudirman, & Irwan, M. (2023). Pendidikan multiliterasi. Kencana.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment