Feature
Kampus
Mahasiswa
Pariwisata
Pendidikan
Pembelajaran Sejarah Masuknya Hindu-Buddha di Candi Ijo sebagai Media Pembelajaran SMP Negeri 4 Prambanan
Pembelajaran Sejarah Masuknya Hindu-Buddha di Candi Ijo sebagai Media Pembelajaran SMP Negeri 4 Prambanan
APERO FUBLIC I SLEMAN.-- Kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bertajuk "Pembelajaran Sejarah Masuknya Hindu Buddha di Candi Ijo sebagai Media Pembelajaran SMP Negeri 4 Prambanan" dilaksanakan pada hari Selasa, 1 September 2026, bertempat di kompleks Candi Ijo, Dusun Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (01/09/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Elisabeth Sirait, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta Program Studi Pendidikan IPS, bekerja sama dengan Bapak Kushendarto, S.Pd. selaku Guru IPS SMP Negeri 4 Prambanan, dengan sasaran peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Prambanan.
Kegiatan ini relevan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas karena menghadirkan pengalaman belajar kontekstual dan bermakna di luar ruang kelas, Tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang berkelanjutan melalui upaya pelestarian warisan budaya dan cagar alam, serta Tujuan ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui dukungan terhadap perekonomian masyarakat sekitar situs cagar budaya.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai proses masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia beserta bukti peninggalannya, dengan memanfaatkan andi Ijo sebagai media pembelajaran secara langsung.
Materi yang disampaikan meliputi sejarah masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia dan peninggalan-peninggalannya. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan doa bersama dan penjelasan singkat mengenai deskripsi serta corak Candi Ijo secara lisan, yang diikuti oleh peserta didik dengan mencatat poin-poin penting.
Selanjutnya, peserta didik diajak mengamati candi dari jarak dekat dengan penjelasan guru mengenai bentuk, bagian, dan makna corak candi, dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi candi secara menyeluruh, baik dari sisi luar maupun dalam bangunan candi.
Setelah kegiatan eksplorasi selesai dilaksanakan, guru memberikan lembar kerja tertulis untuk mengukur pemahaman peserta didik mengenai materi masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia, yang kemudian dipresentasikan oleh masing-masing peserta didik di hadapan teman-temannya. Rangkaian kegiatan inti ditutup dengan refleksi materi yang disampaikan kembali oleh guru, serta doa penutup sebagai persiapan peserta didik untuk pulang.
Kegiatan ini memberikan sejumlah dampak positif bagi berbagai pihak yang terlibat. Bagi peserta didik, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal, khususnya Candi Ijo sebagai bukti nyata masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia yang masih dapat dilihat, dipelajari, dan dilestarikan secara langsung, sehingga menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap warisan budaya bangsa.
Bagi pihak sekolah, kegiatan ini memberikan kemudahan akses terhadap media pembelajaran IPS berbasis situs sejarah, mengingat keterbatasan media pembelajaran serupa yang dimiliki sekolah selama ini. Adapun bagi masyarakat sekitar, keberadaan Candi Ijo turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal.
Seperti melalui pendapatan tiket masuk yang menjadi kas warga setempat, maupun melalui aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan candi yang tumbuh seiring kedatangan pengunjung. Dengan demikian, kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDGs melalui peningkatan kualitas pendidikan, pelestarian warisan budaya, dan penguatan perekonomian masyarakat setempat.
Melalui kegiatan pembelajaran ini, diharapkan peserta didik semakin memahami dan menghargai sejarah serta warisan budaya bangsa, khususnya yang berkaitan dengan masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia.
Kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang memadukan aspek edukasi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga dapat menjadi model pembelajaran berkelanjutan bagi sekolah-sekolah lain di sekitar kawasan cagar budaya.
Oleh: Elisabeth Sirait
Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan IPS, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Guru Mata Pelajaran IPS SMP NEGERI 4 PRAMBANAN.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment