Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Digital Marketing : Kita membeli karena butuh atau karena terpengaruh ?
APERO FUBLIC I Pernahkah kita membuka TikTok atau Instagram hanya untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya membeli sesuatu yang sebelumnya tidak pernah direncanakan? Awalnya hanya ingin melihat konten, kemudian muncul video promosi, rekomendasi influencer, diskon, atau tulisan “stok terbatas”. Tanpa sadar, kita mulai tertarik dan akhirnya melakukan pembelian. Dari fenomena tersebut muncul sebuah pertanyaan menarik: kita membeli karena benar-benar membutuhkan atau karena terpengaruh oleh digital marketing?
Menurut saya, pada era digital saat ini, keputusan pembelian konsumen tidak lagi hanya didasarkan pada kebutuhan. Kebutuhan memang menjadi salah satu alasan utama seseorang membeli produk, tetapi digital marketing mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk memengaruhi keinginan dan keputusan konsumen.
Perkembangan teknologi membuat aktivitas pemasaran mengalami perubahan yang cukup besar. Jika dahulu perusahaan banyak menggunakan televisi, radio, koran, dan baliho, sekarang perusahaan dapat memasarkan produk melalui Instagram, TikTok, YouTube, marketplace, website, influencer, hingga iklan digital. Perubahan tersebut terjadi karena masyarakat semakin aktif menggunakan internet.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024, sebanyak 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2023 yang berada pada 69,21%. Data tersebut menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Selain itu, berdasarkan Data Reportal dalam Digital 2025: Indonesia, terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025, atau sekitar 74,6% dari jumlah penduduk. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Besarnya jumlah tersebut menjadikan media sosial sebagai tempat yang sangat potensial bagi perusahaan untuk memengaruhi konsumen.
Dari Kebutuhan Menjadi Keinginan
Hal yang menarik dari digital marketing adalah kemampuannya mengubah kebutuhan menjadi keinginan. Kebutuhan dan keinginan sebenarnya berbeda. Kebutuhan muncul karena seseorang memang memerlukan suatu barang atau jasa, sedangkan keinginan dapat muncul karena adanya rangsangan tertentu.
Sebagai contoh, seseorang mungkin memang membutuhkan sepatu baru karena sepatu lamanya sudah rusak. Namun, ketika melihat video sepatu terbaru di TikTok dengan desain yang menarik dan harga sedang diskon, keputusannya dapat berubah. Ia mungkin awalnya hanya membutuhkan sepatu, tetapi kemudian merasa membutuhkan model tertentu yang sedang viral.
Di sinilah digital marketing memainkan perannya. Pemasaran digital tidak hanya memberikan informasi mengenai produk, tetapi juga menciptakan daya tarik emosional. Produk dikemas dengan foto menarik, video kreatif, testimoni, review influencer, dan berbagai promosi sehingga konsumen merasa produk tersebut penting untuk dimiliki.
Konsumen terkadang bukan membeli barang karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan, tetapi karena berhasil diyakinkan bahwa barang tersebut akan membuat hidup mereka lebih mudah, lebih menarik, lebih modern, atau bahkan lebih diterima oleh lingkungan sosial.
Media Sosial sebagai Tempat Mempengaruhi Konsumen
Media sosial menjadi salah satu alat digital marketing yang paling kuat. Konten promosi sekarang tidak selalu terlihat seperti iklan. Promosi dapat dikemas menjadi video hiburan, tutorial, review, vlog, maupun rekomendasi dari content creator.
Misalnya, seorang influencer membuat video tentang “barang yang wajib dibawa saat kuliah”. Di dalam video tersebut terdapat tas, parfum, skincare, tumbler, dan berbagai produk lainnya. Penonton mungkin awalnya tidak memiliki niat membeli produk tersebut. Namun, setelah melihat produk digunakan dan mendapatkan rekomendasi dari seseorang yang dipercaya, muncul keinginan untuk membeli.
DataReportal mencatat bahwa 143 juta identitas pengguna media sosial terdapat di Indonesia pada awal 2025. Angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi media sosial sebagai sarana pemasaran. Semakin banyak waktu yang dihabiskan konsumen di media sosial, semakin besar pula kemungkinan mereka terpapar informasi mengenai suatu produk.
Kondisi tersebut membuat batas antara hiburan dan iklan menjadi semakin tipis. Kita merasa sedang menikmati konten, padahal secara tidak langsung kita sedang menerima pesan pemasaran.
Diskon dan FOMO Mendorong Pembelian
Selain influencer dan konten media sosial, strategi lain yang sangat efektif adalah diskon, cashback, gratis ongkir, dan flash sale. Strategi tersebut dapat membuat konsumen merasa mendapatkan keuntungan lebih besar jika segera melakukan pembelian.
Kalimat seperti ”diskon hanya hari ini”, “tinggal 2 lagi”, atau “flash sale berakhir 10 menit lagi” dapat menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan atau yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).
Data Kementerian Perdagangan yang dikutip Kompas.com menunjukkan bahwa nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai sekitar Rp533 triliun pada 2023, meningkat dari sekitar Rp476 triliun pada 2022. Besarnya nilai transaksi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas belanja online telah menjadi bagian penting dalam perekonomian masyarakat.
Kemudahan berbelanja secara online juga membuat konsumen semakin mudah melakukan pembelian impulsif. Hanya dengan menggunakan smartphone, konsumen dapat memilih barang, membayar, dan menunggu barang dikirim tanpa perlu pergi ke toko.
Apakah Digital Marketing Selalu Berdampak Buruk?
Walaupun dapat memengaruhi konsumen, menurut saya digital marketing tidak selalu memberikan dampak negatif. Digital marketing justru dapat membantu konsumen memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum membeli produk.
Contohnya, seseorang yang ingin membeli laptop untuk kuliah dapat mencari berbagai merek melalui internet, membandingkan spesifikasi dan harga, membaca review, serta menonton video penggunaan produk. Dalam kondisi tersebut, digital marketing membantu konsumen membuat keputusan yang lebih tepat.
BPS dalam Statistik e-Commerce 2024 juga menunjukkan bahwa jumlah usaha e-commerce di Indonesia mengalami pertumbuhan. Jumlah usaha e-commerce pada 2024 tercatat meningkat 15,30% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau konsumen.
Artinya, digital marketing bukan hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga dapat memberikan manfaat kepada konsumen selama informasi yang diberikan benar dan konsumen mampu menggunakannya secara bijak.
Konsumen Harus Lebih Kritis
Masalah sebenarnya bukan terletak pada digital marketing, tetapi pada bagaimana konsumen menyikapinya. Di tengah banyaknya iklan dan promosi, konsumen perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Sebelum membeli suatu produk, kita dapat bertanya kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”, “Apakah saya sudah merencanakan pembelian ini?”, dan “Apakah saya tetap ingin membelinya jika tidak ada diskon atau influencer yang mempromosikannya?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.
Konsumen juga perlu membandingkan harga, membaca ulasan, memeriksa kualitas produk, dan mempertimbangkan kondisi keuangan sebelum melakukan transaksi. Jangan sampai promosi yang seharusnya memberikan keuntungan justru membuat kita mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa kita membeli bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena adanya pengaruh dari digital marketing. Tingginya penggunaan internet dan media sosial di Indonesia membuat konsumen semakin sering terpapar berbagai bentuk pemasaran digital.
Data BPS menunjukkan bahwa 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, sedangkan DataReportal mencatat sekitar 212 juta pengguna internet dan 143 juta identitas pengguna media sosial pada awal 2025. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa ruang digital memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku konsumen.
Digital marketing dapat membantu konsumen menemukan produk yang dibutuhkan, tetapi juga dapat menciptakan keinginan baru melalui iklan, influencer, tren, diskon, dan FOMO. Oleh karena itu, konsumen harus lebih kritis sebelum mengambil keputusan.
Sebelum menekan tombol “Beli Sekarang” mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: ”Saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya hanya sedang dibuat merasa membutuhkannya?”.
Penulis: Dhea Novianti Sofyan
Mahasiswi Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment