Kampus
Kesehatan
Mahasiswi
Medan
Opini
Pendidikan
Banyak Informasi Kesehatan, Sudahkah Kita Mampu Memilahnya?
APERO FUBLIC I Setiap hari, masyarakat hidup berdampingan dengan informasi. Melalui telepon genggam, informasi tentang makanan sehat, penyakit, obat, imunisasi, kesehatan mental, hingga berbagai tips kesehatan dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik. Teknologi membuat pengetahuan kesehatan menjadi lebih mudah dijangkau oleh siapa saja.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti kemampuan untuk memahami dan menilai kebenarannya. Di tengah derasnya informasi digital, masyarakat tidak hanya berhadapan dengan informasi yang bermanfaat, tetapi juga dengan informasi yang keliru, menyesatkan, bahkan berpotensi memengaruhi keputusan kesehatan.
Persoalan inilah yang membuat literasi kesehatan menjadi semakin penting di era digital. Dalam buku Pendidikan Multiliterasi, Dr. Sudirman, S.E., M.Pd. dan Mahfuzi Irwan, S.Pd., M.Pd. menempatkan literasi kesehatan sebagai salah satu bagian penting dalam pendidikan multiliterasi.
Pada Bab 8, literasi kesehatan dibahas mulai dari konsep dan perkembangannya hingga berbagai permasalahan yang dapat muncul ketika kemampuan literasi kesehatan masyarakat rendah. Salah satu dampaknya adalah terbatasnya pengetahuan dan pemahaman yang kemudian dapat memengaruhi perilaku serta hasil kesehatan seseorang.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat saat ini menghadapi arus informasi kesehatan yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memahami, menilai, dan menggunakan informasi tersebut secara tepat.
Ketika Hoaks Masuk ke Ruang Kesehatan
Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta berbagai pihak memperkuat upaya penanganan persoalan tersebut melalui peluncuran Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan pada September 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa hoaks kesehatan telah menjadi persoalan yang perlu ditangani secara sistematis karena dapat memengaruhi pemahaman dan keputusan masyarakat.
Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang Agustus 2018 hingga September 2026 terdapat 2.622 hoaks kesehatan yang terdeteksi beredar di berbagai platform digital. Isu imunisasi termasuk salah satu topik yang banyak mendapatkan informasi palsu.
Pada saat yang sama, cakupan imunisasi nasional juga mengalami penurunan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan cakupan imunisasi sekitar 95 persen pada 2023, 87 persen pada 2024, dan 80 persen pada 2025. Kementerian Kesehatan menyebut cakupan sekitar 90–95 persen secara merata diperlukan untuk membangun kekebalan masyarakat.
Tentu, penurunan cakupan imunisasi tidak dapat langsung disimpulkan hanya disebabkan oleh hoaks. Ada berbagai faktor lain yang turut memengaruhinya, termasuk akses pelayanan, kondisi sosial, pemahaman masyarakat, serta persoalan dalam pelaksanaan program imunisasi.
Namun, maraknya informasi yang keliru menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat dalam memilah informasi kesehatan tetap menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan. Di sinilah gagasan literasi kesehatan dalam pendidikan multiliterasi menemukan relevansinya.
Membaca Saja Tidak Cukup
Literasi pada masa sekarang tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat berhadapan dengan informasi dalam berbagai bentuk: artikel, gambar, video pendek, infografis, podcast, hingga pesan berantai di media sosial. Karena itu, seseorang dapat saja memiliki kemampuan membaca, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk membaca secara kritis.
Misalnya, ketika seseorang menerima pesan WhatsApp yang menyatakan bahwa vaksin tertentu berbahaya, persoalannya bukan hanya apakah orang tersebut mampu membaca pesan tersebut. Persoalan yang lebih penting adalah apakah ia mampu bertanya: Siapa yang membuat informasi ini? Dari mana sumbernya? Apa bukti yang diberikan? Apakah informasi tersebut sesuai dengan penjelasan tenaga kesehatan atau lembaga kesehatan yang terpercaya?
Kemampuan seperti inilah yang diperlukan dalam literasi kesehatan.
Jika dikaitkan dengan buku Pendidikan Multiliterasi, literasi kesehatan tidak berhenti pada pengetahuan mengenai kesehatan, tetapi berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi dan menggunakannya dalam kehidupan. Artinya, literasi kesehatan memiliki hubungan dengan perilaku sehari-hari dan keputusan yang diambil seseorang.
Masyarakat yang memiliki literasi kesehatan yang baik tidak berarti masyarakat yang mengetahui seluruh informasi tentang kesehatan. Yang lebih penting adalah mereka memiliki kecakapan untuk mencari informasi yang tepat, memahami informasi, membandingkan sumber, mengenali informasi yang meragukan, dan mengambil keputusan secara lebih bertanggung jawab.
Literasi Kesehatan Harus Dimulai dari Kehidupan Sehari-hari
Menurut saya, penguatan literasi kesehatan tidak dapat hanya dilakukan ketika hoaks sudah menyebar. Masyarakat perlu dibiasakan untuk bersikap kritis sejak pertama kali menerima informasi.
Kebiasaan sederhana dapat dilakukan. Sebelum meneruskan informasi kesehatan kepada orang lain, seseorang dapat memeriksa sumbernya terlebih dahulu. Ketika menemukan informasi yang meragukan, masyarakat dapat membandingkannya dengan informasi dari Kementerian Kesehatan, tenaga kesehatan, rumah sakit, atau sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kebiasaan tersebut juga perlu ditanamkan melalui pendidikan.
Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan peserta didik untuk mencari informasi di internet. Mereka juga perlu mengajarkan bagaimana mengevaluasi informasi yang ditemukan. Keluarga dapat menjadi lingkungan pertama untuk membiasakan anak tidak langsung percaya terhadap pesan yang beredar.
Tenaga kesehatan dapat membantu dengan menyampaikan informasi menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat. Dengan demikian, pendidikan multiliterasi tidak hanya menjadi konsep di ruang kelas. Ia dapat diterapkan pada persoalan nyata yang dihadapi masyarakat setiap hari.
Jangan Sampai Banjir Informasi Membuat Masyarakat Kehilangan Arah
Perkembangan teknologi merupakan peluang besar untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat. Namun, peluang tersebut akan menjadi masalah apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi.
Pemerintah memang memiliki peran penting dalam mendeteksi dan menangani hoaks kesehatan. Peluncuran Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan merupakan salah satu bentuk upaya untuk membangun respons yang lebih terkoordinasi. Namun, penanganan hoaks tidak cukup hanya dilakukan dari sisi pemerintah. Masyarakat juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan literasinya.
Inilah mengapa pembahasan literasi kesehatan dalam buku Pendidikan Multiliterasi karya Dr. Sudirman dan Mahfuzi Irwan menjadi relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, sehingga kemampuan literasi juga perlu berkembang mengikuti perubahan tersebut.
Kita tidak mungkin menghentikan arus informasi di dunia digital. Yang dapat dilakukan adalah membangun manusia yang lebih siap menghadapi arus tersebut.
Pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan, tetapi juga masyarakat yang mampu memahami dan menilai informasi kesehatan dengan baik. Teknologi akan terus berkembang. Informasi akan terus bertambah. Karena itu, kemampuan literasi kesehatan juga tidak boleh berhenti berkembang.
Sebab, di tengah banjir informasi kesehatan, masyarakat tidak hanya membutuhkan lebih banyak informasi, tetapi membutuhkan kemampuan untuk mengetahui informasi mana yang layak dipercaya.
Oleh: Frencilia Deananda Simanulang
Mahasiswi Pendidikan Masyarakat, Universitas Negeri Medan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment