Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Turut Melestarikan Tradisi Lokal dalam Puncak Maulid Nabi Desa Rejosari
Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 205 bersama warga Rejosari saat acara Malam Puncak Maulid Nabi di Musholla desa Rejosari, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal (Dok. KKN).
APERO FUBLIC I KENDAL.-- Terdapat tradisi umat islam yang dilakukan setiap tahun di banyak negara, tradisi yang sering kita kenal dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati pada 12 Robiul awal dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi. Suasana penuh kebersamaan mewarnai desa Rejosari khususnya di musholla Nurul Iman, Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal (24/8/2026).
Disamping itu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang, posko 205 ikut serta dalam acara peringatan maulid nabi bersama warga sekitar, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk penghormatan umat islam kepada nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan bersama masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan maulid barzanji, kemudian dilanjut dengan maulid Diba’i, shalawat nabi, pembacaan al-quran dan diakhiri dengan membaca doa bersama. Selain rangkaian keagamaan yang dijalankan, terdapat hal unik yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Desa Rejosari. Saat kegiatan berlangsung, salah seorang sesepuh atau biasa disebut ‘mbah’ di desa menyalakan dupa yang diletakkan di atas singkong dan pisang dalam wadah.
Tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat setempat yang telah diwariskan turun-temurun. Dupa dinyalakan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur serta simbol doa dan harapan agar kegiatan berjalan lancar, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan terhadap hasil bumi yang dimiliki masyarakat desa Rejosari.
Menurut Mbah Sabit, salah satu sesepuh Desa Rejosari, keberadaan tradisi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan masyarakat setempat.
“Sejak dulu, kegiatan seperti ini memang sudah biasa dilakukan bersama-sama. Bukan hanya sebagai acara keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, saling bertemu, dan menjaga hubungan baik antarwarga. Saya berharap kebiasaan seperti ini tetap dilestarikan, terutama oleh anak-anak muda, supaya mereka mengetahui dan memahami tradisi yang ada di desanya.”
Keikutsertaan mahasiswa KKN dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Rejosari. Tradisi yang masih dijalankan di tengah kegiatan keagamaan menunjukkan bahwa masyarakat setempat tetap menjaga kebiasaan yang telah ada sejak dahulu. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa dan warga untuk berinteraksi secara langsung, sehingga terjalin kedekatan dan rasa kebersamaan antara mahasiswa KKN dengan masyarakat.
Menurut Citra, salah satu mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 205, mengikuti kegiatan tersebut memberikan pengalaman tersendiri karena mahasiswa dapat melihat secara langsung perpaduan antara kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat Desa Rejosari.
“Kami senang bisa ikut terlibat dalam kegiatan Maulid Nabi bersama warga. Dari kegiatan ini, kami tidak hanya mengikuti rangkaian acara keagamaan, tetapi juga bisa mengenal kebiasaan masyarakat yang mungkin belum pernah kami temui sebelumnya. Bagi kami, pengalaman seperti ini penting karena selama KKN kami tidak hanya belajar tentang kehidupan masyarakat, tetapi juga belajar menghargai tradisi dan kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Desa Rejosari.”
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kebersamaan masyarakat Desa Rejosari dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Peringatan Maulid Nabi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa KKN Posko 205 untuk lebih mengenal kehidupan serta budaya masyarakat setempat.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan tersebut, diharapkan hubungan antara mahasiswa dan warga semakin erat serta tradisi dan kebiasaan positif masyarakat Desa Rejosari dapat terus dijaga di tengah perkembangan zaman.
Penulis: Tim Posko 205
Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang, Posko 205, Desa Rejosari.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment