Budaya
Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Khidmat Haul Mbah Sambong di Desa Rejosari, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Turut Berpartisipasi
Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 205 bersama warga Rejosari saat acara Haul Mbah Sambong di Makam Jati Wetan Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal (Dok. KKN)
APERO FUBLIC I KENDAL.-- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 205 bersama masyarakat Desa Rejosari, menggelar pengajian umum dalam rangka memperingati Haul Mbah Sambong sekaligus menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Puncak haul berlokasi di makam Mbah Sambong, tepatnya di Makam Jati Wetan, Desa Rejosari. Kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri oleh masyarakat setempat, tetapi juga sejumlah ulama dan tokoh agama Desa Rejosari.
Rangkaian kegiatan berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh kebersamaan. Masyarakat bersama mahasiswa KKN turut mengikuti kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap Mbah Sambong sekaligus menjaga tradisi keagamaan yang telah berkembang di tengah masyarakat Desa Rejosari.
Salah satu warga Desa Rejosari, ibu Siti, menyampaikan bahwa kegiatan haul menjadi salah satu momen yang selalu dinantikan oleh masyarakat karena dapat mempertemukan warga dalam suasana keagamaan dan kebersamaan.
“Alhamdulillah, kegiatan haul tahun ini bisa kembali dilaksanakan dan masyarakat sangat antusias untuk mengikuti. Selain untuk mendoakan Mbah Sambong, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan bersilaturahmi. Kami juga senang mahasiswa KKN ikut membantu dan berbaur bersama masyarakat dalam kegiatan ini,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan karena mahasiswa dapat ikut terlibat secara langsung bersama warga. Ia berharap hubungan baik yang terjalin selama kegiatan KKN dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rejosari.
Sementara itu, salah satu selaku tokoh agama yang hadir dalam kegiatan haul di Desa Rejosari, menyampaikan bahwa haul tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenang sosok yang telah berjasa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengambil nilai-nilai kebaikan dari kehidupan para pendahulu.
“Haul ini bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi menjadi pengingat bagi kita untuk meneruskan kebaikan yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat silaturahmi, meningkatkan rasa syukur, dan mengajak generasi muda untuk tetap mengenal tradisi keagamaan yang ada di masyarakat,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda, termasuk mahasiswa KKN, penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan di masyarakat. Menurutnya, kegiatan bersama seperti haul dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai keagamaan sekaligus mempererat hubungan antara generasi muda dan masyarakat.
Selain menjadi momentum untuk mengenang dan mendoakan Mbah Sambong, kegiatan haul juga mempertemukan masyarakat dari berbagai kalangan. Kehadiran ulama, tokoh agama, mahasiswa, serta warga menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga kegiatan keagamaan di Desa Rejosari.
Peringatan Haul Mbah Sambong diharapkan dapat terus menjadi bagian dari kegiatan keagamaan masyarakat Desa Rejosari serta mempererat silaturahmi antarwarga. Bagi mahasiswa KKN Posko 205, keikutsertaan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus turut menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga.
Penulis: Tim Posko 205
Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang, Posko 205, Desa Rejosari.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Budaya

Post a Comment