Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
KKN UIN Walisongo-SAIZU Dorong Digitalisasi UMKM Keripik Pisang Larasati di Wonorejo
APERO FUBLIC I SEMARANG.– Di atas meja kayu tua sebuah rumah sederhana di Desa Wonorejo, deretan kemasan keripik pisang berjajar rapi. Aromanya gurih, renyah, dan menggoda siapa saja yang lewat. Di sanalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi UIN Walisongo Semarang dan UIN SAIZU Purwokerto menemui pemilik usaha keripik pisang “Larasati”, Sabtu (22/8/2026), dalam rangkaian kegiatan survei Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang digagas Divisi Ekonomi Kreatif KKN Kolaborasi Aksara.
Survei ini bukan sekadar kunjungan formalitas. Mahasiswa datang langsung ke rumah produksi, berbincang santai dengan pemilik usaha, sekaligus melihat dari dekat bagaimana proses pengemasan dan penataan produk dilakukan. Dari obrolan hangat itulah terungkap kisah panjang perjuangan sebuah keluarga yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari sepotong pisang yang diiris tipis, digoreng, lalu dikemas menjadi camilan bernilai jual.
Bertahan Sejak Era 1980-an
Usaha keripik pisang Larasati bukanlah pemain baru di dunia UMKM. Dirintis oleh pasangan Ibu Rumiyati dan Bapak Kuslan sejak tahun 1980-an, usaha rumahan ini telah berjalan hampir setengah abad, jauh sebelum istilah UMKM atau ekonomi kreatif ramai dibicarakan seperti sekarang. Dari dapur kecil di rumahnya, keduanya mulai menggoreng pisang, mengemasnya seadanya, lalu menjajakannya dari satu tetangga ke tetangga lain.
Perlahan namun pasti, usaha itu tumbuh dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dari hasil penjualan keripik pisang inilah, Ibu Rumiyati dan Bapak Kuslan berhasil menghidupi keluarga, membiayai kebutuhan sehari-hari, hingga menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang sarjana. Sebuah pencapaian yang tidak main-main untuk usaha rumahan yang dimulai dari nol.
“Usaha ini sudah jalan lama, dari tahun 80-an. Alhamdulillah dari jualan keripik ini bisa menghidupi keluarga sampai menyekolahkan anak-anak hingga sarjana,” ujar Bapak Kuslan saat ditemui tim KKN di kediamannya, dengan nada penuh syukur.
Nama “Larasati” yang tertera di setiap kemasan pun bukan sekadar label dagang tanpa makna. Nama tersebut diambil dari nama putri mereka, Rika Larasati, sebagai bentuk kebanggaan sekaligus doa yang disematkan orang tua ke dalam setiap bungkus produk yang beredar di pasaran. Setiap kemasan yang terjual, dalam arti tertentu, membawa serta nama dan harapan keluarga itu sendiri.
Renyah dan Beragam, Harga Bersahabat
Dari segi produk, keripik pisang Larasati dikemas dalam standing pouch berwarna cerah yang mencantumkan logo, varian rasa, komposisi, hingga informasi produksi secara lengkap, menunjukkan bahwa meski berskala rumahan, usaha ini cukup serius memperhatikan standar kemasan dan kepercayaan konsumen.
Larasati menawarkan beragam pilihan rasa yang menggugah selera, mulai dari original yang gurih klasik, manis, bawang, salado pedas menggigit, sapi panggang yang gurih legit, cokelat, hingga matcha yang menyasar selera generasi muda. Setiap kemasan dibanderol dengan harga bervariasi, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 tergantung jenis rasa yang dipilih, harga yang tergolong bersahabat untuk camilan buatan tangan dengan cita rasa rumahan yang khas.
Tantangan di Tengah Persaingan Zaman
Meski telah bertahan hampir empat dekade, usaha ini tak lepas dari tantangan, apalagi di tengah gempuran zaman yang serba cepat dan penuh persaingan. Ibu Rumiyati mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap keripik pisang buatannya belakangan mengalami penurunan dibanding masa-masa sebelumnya.
Salah satu penyebabnya, menurut Ibu Rumiyati, adalah anggapan bahwa keripik pisang merupakan camilan yang mudah dibuat sendiri di rumah. Banyak calon konsumen yang akhirnya enggan membeli karena merasa bisa membuatnya sendiri dengan bahan dan alat seadanya, sehingga pasar produk seperti Larasati kian menyempit jika tidak diimbangi dengan strategi yang tepat.
Menurutnya, usaha semacam ini dapat tetap bertahan dan bahkan berkembang apabila pelakunya cakap dalam melakukan promosi, tidak hanya mengandalkan penjualan di lingkup terbatas seperti tetangga, warung, atau pasar setempat saja. Di sinilah pentingnya sentuhan pemasaran yang lebih luas dan modern.
Menyulut Harapan lewat Media Sosial
Menyadari kondisi tersebut, Ibu Rumiyati dan Bapak Kuslan menyimpan harapan besar agar jangkauan pemasaran produk mereka dapat meluas melalui media sosial. Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, promosi daring dinilai menjadi kunci penting untuk memperkenalkan produk Larasati kepada pasar yang lebih luas, tidak hanya di wilayah Wonorejo dan sekitarnya, melainkan hingga ke luar daerah.
Menjawab harapan itu, mahasiswa KKN Kolaborasi UIN Walisongo-SAIZU yang tergabung dalam Divisi Ekonomi Kreatif berkomitmen untuk membantu proses digitalisasi UMKM Larasati. Pendampingan yang direncanakan meliputi pembuatan konten foto dan video produk, penyusunan caption promosi yang menarik, hingga publikasi di berbagai platform media sosial agar produk ini lebih dikenal luas oleh masyarakat, khususnya generasi muda yang aktif berbelanja secara daring.
“Kami ingin membantu usaha Ibu Rumiyati dan Bapak Kuslan agar lebih dikenal luas. Potensinya besar, tinggal bagaimana kita mengemas promosinya agar menarik di media sosial,” ujar salah satu mahasiswa Divisi Ekonomi Kreatif KKN Kolaborasi UIN Walisongo-SAIZU.
Lebih dari Sekadar Camilan
Kisah keripik pisang Larasati menjadi cerminan nyata bahwa di balik camilan sederhana, tersimpan perjuangan panjang sebuah keluarga dalam mempertahankan usaha di tengah perubahan zaman. Usaha yang bertahan sejak 1980-an ini membuktikan bahwa ketekunan dan konsistensi mampu menjadi fondasi ekonomi keluarga selama puluhan tahun, bahkan mengantarkan generasi penerusnya hingga ke bangku kuliah.
Namun di sisi lain, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa usaha kecil sekalipun perlu terus beradaptasi. Tanpa sentuhan promosi dan pemasaran yang relevan dengan zaman, usaha sekuat apa pun berisiko tergerus oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. Karena itu, pendampingan digitalisasi yang dilakukan mahasiswa KKN diharapkan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan bekal jangka panjang bagi keberlangsungan usaha Larasati.
Sinergi Dua Kampus untuk UMKM Desa
Kegiatan survei dan pendampingan UMKM ini merupakan bagian dari rangkaian program KKN Kolaborasi UIN Walisongo Semarang dan UIN SAIZU Purwokerto di Desa Wonorejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Melalui sinergi dua kampus ini, mahasiswa tidak hanya hadir untuk belajar dan mengabdi, tetapi juga berupaya memberi dampak nyata bagi perekonomian warga setempat.
Dengan semangat kolaborasi antara pelaku usaha dan kreativitas mahasiswa KKN, diharapkan keripik pisang Larasati dapat naik kelas, menembus pasar yang lebih luas melalui media sosial, dan terus lestari sebagai warisan usaha keluarga yang membanggakan bagi Desa Wonorejo.
Liputan: Tim KKN Kolaborasi UIN Walisongo & UIN SAIZU (Dokumentasi dan liputan oleh tim PDD KKN Aksara.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment