Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Budaya Konsumtif dan Jebakan Pinjaman Online: Ancaman Kesejahteraan Generasi Muda
APERO FUBLIC I OPINI.-- Perkembangan teknologi digital di zaman modern ini nyatanya tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga membawa masalaah baru bagi generasi muda. Kemudahan akses dalam belanja online, konten media sosial yang mempertontonkan gaya hidup mewah, dan kemudahan mendapatkan pinjaman online yang bisa diakses kapan saja.
Akibatnya, generasi muda terjebak dalam dua tekanan sekaligus: tekanan sosial untuk tampil keren di mata orang lain namun dalam finansial mereka tidak tahu cara dalam mengelola uang dengan baik. Kondisi ini tentu bukan hal sepele, apabila dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, melaainkaan jugaa oleh masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.
Perilaku konsumtif generasi muda sebenarnya bukan muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang mendorongnya, dan salah satu yang paling kuat adalah tekanan dari media sosial. Setiap hari, anak muda disuguhi konten tentang gaya hidup kekinian outfit terbaru, gadget mahal, tempat makan estetik, yang secara tidak langsung menciptakan standar sosial yang harus dipenuhi.
Kondisi ini diperparah oleh fenomena FOMO atau (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut ketinggalan tren yang membuat seseorang merasa harus terus membeli meski sebenarnya tidak mampu. Bahkan OJK sendiri mengakui bahwa perilaku FOMO (Fear of Missing Out) inilah yang menjadi salah satu pemicu utama generasi muda nekat mengajukan pinjaman online demi memenuhi gaya hidup mereka.
Di sinilah pinjaman online masuk sebagai "solusi" yang terlihat mudah namun sebenarnya berbahaya. Cukup dengan KTP dan nomor handphone, uang bisa langsung cair dalam hitungan menit. Tapi yang tidak banyak disadari adalah bunga yang mencekik, tenor yang singkat, dan risiko data pribadi disalahgunakan jika meminjam di platform ilegal.
Yang lebih mengkhawatirkan, jebakan pinjaman online tidak berhenti pada satu transaksi. banyak generasi muda yang awalnya hanya meminjam dalam jumlah kecil untuk kebutuhan konsumtif, namun kemudian terpaksa mencari pinjaman baru di platform lain demi menutup cicilan yang belum terbayar. Pola gali lubang tutup lubang ini menciptakan pusaran utang yang sulit dilepaskan.
Berdasarkan data OJK per 2024, total outstanding pinjaman online di Indonesia telah mencapai angka ratusan triliun rupiah, dengan peminjam berusia 19–34 tahun mendominasi lebih dari separuh penggunanya. Angka-angka ini bukan sekadar statistik melainkan cerminan nyata betapa dalamnya generasi muda telah terperangkap dalam sistem yang menguras masa depan mereka.
Dampak yang ditimbulkan pun tidak berhenti pada persoalan finansial semata, melainkan turut menggerus kesehatan mental para korbannya. Tekanan dari debt collector yang tidak segan menghubungi keluarga dan rekan kerja, bahkan menyebarkan data pribadi peminjam secara tidak bertanggung jawab, menjadi teror psikologis yang menghancurkan kehidupan sosial korban.
Survei dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengungkapkan bahwa mayoritas korban pinjol ilegal mengalami kecemasan akut, depresi, serta rasa malu mendalam yang membuat mereka menarik diri dari lingkungan sekitar.
Akar dari seluruh persoalan ini sejatinya adalah lemahnya fondasi literasi keuangan yang diperoleh generasi muda. OJK melaporkan bahwa indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 49,68% pada tahun 2023, menunjukkan bahwa lebih dari 50% orang Indonesia belum memahami produk dan risiko keuangan yang mereka hadapi.
Ada ketimpangan yang mencolok: generasi muda saat ini mampu mengoperasikan berbagai aplikasi finansial dengan lancar, namun tidak memahami substansi dari apa yang mereka setujui. Mereka fasih bermain di dunia digital, tetapi buta terhadap konsekuensi hukum dan finansial yang tersembunyi di balik setiap klik persetujuan pinjaman.
Oleh karena itu, penyelesaian atas persoalan ini membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. Pemerintah harus lebih serius dalam memberantas pinjol ilegal sekaligus mendorong pendidikan literasi keuangan masuk ke dalam sistem pembelajaran sejak dini.
Di lingkup yang lebih kecil, keluarga memegang peran penting dalam menanamkan nilai hidup sederhana dan membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini. Karena sesungguhnya, generasi muda yang cerdas secara finansial bukan hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi menjadi pondasi kokoh bagi kemajuan bangsa di masa yang akan datang.
Oleh : Aulia Kristiana
Mahasiswi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Fakultas Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment