Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Sosiologi
Selamat Datang di Indonesia: Di Sini, Gengsi Lebih Mahal dari Nyawa
APERO FUBLIC I OPINI.- Saat ini banyak kasus di kantor polisi yang melibatkan para remaja, laporan-laporan yang ada terjadi bukan karena terdesak kebutuhan hidup tapi gengsi yang mencekik kehidupan. Kasus seperti ini bukan lagi berita mengejutkan. Ia sudah menjadi pola dan pola itu seharusnya membuat kita semua merasa malu.
Di era ketika layar ponsel menjadi cerminan diri, anak-anak muda zaman sekarang tumbuh dalam satu keyakinan yang ditanamkan pelan-pelan oleh algoritma dan para influencer: semakin tinggi kualitas hidup kamu maka semakin tinggi pandangan orang terhadapmu.
Kalau kamu enggak pegang iPhone seri terbaru, kalau pakaianmu tidak bermerk, kalau kamu enggak makan di tempat yang viral, maka kamu bukan bagian dari lingkungan dan terasingkan.
Inilah racun yang sedang kita telan bersama-sama yang tanpa sadar kita telan setiap hari.
Ketika Layar Ponsel Menjadi Hakim
Secara psikologis, ada dua mekanisme yang bekerja di balik obsesi ini.
Yang pertama adalah hubungan parasosial. Ketika menonton seorang influencer setiap hari kita jadi tau bagaimana gaya hidup mereka, nama mereka, apa produk yang mereka pakai. Akibatnya, kita tidak sekadar mengagumi mereka, kita meniru mereka dan merasa harus hidup seperti mereka.
Yang kedua adalah perbandingan sosial. Setiap kali membuka Instagram atau TikTok, kita menilai diri sendiri berdasarkan standar hidup orang lain yang kita lihat di layar. Begitu tampak orang yang lebih sukses, lebih kaya, lebih hits, rasa rendah diri kita muncul. Seakan-akan semua menuntut ketidakpuasan yang ada di dalam diri kita.
Ketika ancaman bahwa yang ditampilkan di Instagram atau TikTok hanyalah sebuah kemewahan yang palsu. Konten bohongan hasil rekayasa demi menaikkan penjualan brand tanpa pernah menunjukkan proses, utang, dan keringat di baliknya. Tapi nyatanya kejadian tersebut terus mengikis daya berpikir kritis kita. Akhirnya yang kita lihat hanya : mereka punya aku tidak, mereka dihargai aku tidak.
Dari FOMO ke Penjara
Di sinilah semua hal dimulai. Demi mendapat pengakuan, demi disebut “anak hits”, banyak anak muda mengambil jalan pintas yang menghancurkan hidup mereka sendiri. Awalnya mungkin sekadar terlibat pinjaman online ilegal.
Lalu penipuan kecil-kecilan. Lalu pembelian barang branded dengan cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dan ketika semua jalan finansial tertutup, ketika tagihan menumpuk dan frustasi meledak — kekerasan menjadi pilihan.
Pemerasan antar teman, Perampokan, bahkan penganiayaan demi merebut gadget tertentu. Ini bukan asumsi kosong. Tren peningkatan kasus kriminal yang melibatkan remaja dan dipicu oleh tekanan gaya hidup semakin nyata dan semakin muda usianya.
Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang moralnya runtuh bukan karena mereka jahat — tapi karena mereka tidak pernah diajarkan bahwa mereka cukup berharga tanpa semua itu.
Pada titik ini, yang terjadi bukan sekadar kenakalan remaja. Ini adalah dehumanisasi. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai sesama manusia — melainkan sebagai rintangan atau alat untuk mencapai gaya hidup yang diinginkan.
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Mudah sekali menyalahkan anak mudanya. Tapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: siapa yang membiarkan ini terjadi?
Platform media sosial yang algoritma-nya sengaja dirancang untuk mendorong konten pamer karena terbukti meningkatkan engagement — dan mereka tahu ini merusak, tapi tetap melakukannya. Influencer yang membangun merek personal di atas ilusi kemewahan tanpa satu kali pun mengakui bahwa hidup mereka adalah produk yang dikonstruksi.
Sistem pendidikan yang masih belum serius memasukkan literasi digital dan pembentukan nilai sebagai prioritas. Dan kita semua — yang terus mengonsumsi, menyukai, dan membagikan konten-konten itu tanpa pikir panjang.
Racun ini tidak datang dari satu sumber. Ia datang dari sistem yang kita bangun bersama dan kita rawat setiap hari dengan ibu jari kita.
Jalan Keluar yang Tidak Romantis
Tidak ada solusi yang mudah dan manis untuk ini.
Literasi digital harus diajarkan sejak dini — bukan sekadar cara menggunakan teknologi, tapi cara mempertanyakannya. Anak-anak perlu belajar membedakan antara kehidupan nyata dan konten yang dikurasi untuk kepentingan algoritma.
Nilai integritas dan kerja keras harus dikembalikan sebagai fondasi — bukan sebagai slogan di dinding sekolah, tapi sebagai sesuatu yang benar-benar dihidupi oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka.
Para kreator konten perlu didorong — dan bila perlu ditekan secara sosial — untuk lebih jujur tentang realita di balik gaya hidup mereka. Pamer tanpa empati bukan sekadar selera buruk. Ia adalah bentuk kekerasan sosial yang lambat.
Dan yang paling penting: kita perlu berhenti merayakan kekayaan sebagai pencapaian tertinggi manusia.
Kriminalitas yang lahir dari tuntutan gaya hidup bukan sekadar masalah hukum. Ia adalah cermin dari krisis identitas yang sedang melanda generasi kita secara masif dan sistemik.
Selama kita terus mengukur nilai seseorang dari apa yang ia pakai dan berapa banyak likes yang ia kumpulkan, selama itu pula akan ada remaja yang rela mengorbankan masa depannya — bahkan nyawa orang lain — demi sebuah ponsel, sebuah jaket, sebuah pengakuan yang tidak pernah benar-benar memuaskan.
Selamat datang di Indonesia. Di sini, gengsi memang lebih mahal dari nyawa.
Pertanyaannya tinggal satu: sampai kapan kita membiarkannya?.
Penulis : Kalila Hijriyati Arlina
Mahasiswi Universitas Brawijaya
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment