Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Satu Kata, Banyak Nyawa: Fenomena Polisemi di Kolom Komentar TikTok
sumber: kompas tekno |
APERO APERO I OPINI.-- Pernahkah kamu membuka kolom komentar TikTok lalu menemukan kata “gila” muncul berkali-kali di satu video, tetapi terasa berbeda maknanya di tiap komentar? Di video pencapaian seseorang, kata itu terdengar seperti pujian. Di video lucu, ia berubah jadi ekspresi kagum yang santai. Sementara di video horor, nuansanya bisa bergeser menjadi rasa ngeri. Padahal, yang ditulis tetap sama: g-i-l-a.
Fenomena seperti ini dalam ilmu bahasa disebut polisemi, yaitu keadaan ketika satu kata memiliki lebih dari satu makna yang masih saling berhubungan (Erwansah, Sulissusiawan, & Syahrani, 2018). Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memakainya tanpa sadar. Di TikTok, gejala ini terasa lebih hidup karena orang berkomentar dengan cepat, singkat, dan sangat bergantung pada konteks (Maharani, Luthfi, & Fatmawati, 2025).
Apa Itu Polisemi?
Dalam kajian semantik, polisemi adalah keadaan ketika satu kata memiliki beberapa makna yang masih berkaitan satu sama lain (Sempana, 2017). Ini berbeda dari homonim, yaitu kata yang bentuk bunyi atau tulisannya sama, tetapi maknanya tidak saling berhubungan. Contoh yang sering dipakai adalah kata bisa, yang dapat berarti mampu atau racun ular.
Contoh klasik polisemi dalam bahasa Indonesia adalah kata kepala. Kata ini bisa berarti bagian tubuh manusia, tetapi juga dapat berarti pemimpin, seperti kepala sekolah. Dalam konteks lain, kata itu juga dipakai untuk menyebut bagian awal sesuatu, misalnya kepala surat atau kepala antrian. Semua makna itu masih punya benang merah: sesuatu yang berada di depan, di atas, atau memimpin (Erwansah, Sulissusiawan, & Syahrani, 2018).
Di dunia digital, terutama di TikTok, polisemi tidak hanya bertahan, tetapi juga makin sering muncul dalam bentuk yang lebih cair dan spontan (Kristinaupi et al., 2024).
TikTok dan Bahasa yang Bergerak
Kolom komentar TikTok adalah ruang komunikasi yang sangat khas. Banyak orang dari latar belakang berbeda bertemu di sana, lalu saling merespons dengan teks yang pendek, cepat, dan sering kali penuh isyarat makna. Karena ruangnya terbatas, pengguna cenderung memilih kata yang singkat tetapi padat arti (Maharani, Luthfi, & Fatmawati, 2025).
Di sinilah kata-kata jadi lebih lentur. Satu kata bisa terasa memuji, mengejek, bercanda, atau menunjukkan kagum, tergantung pada video dan suasana komentar di sekitarnya. Bahasa di TikTok jadi semacam permainan konteks yang terus bergerak mengikuti komunitas penggunanya (Kristinaupi et al., 2024).
Kata yang Maknanya Meluas
Salah satu kata yang paling sering muncul adalah gila. Secara harfiah, kata ini merujuk pada kondisi tidak waras atau gangguan jiwa. Tapi di kolom komentar TikTok, maknanya jauh lebih luas.
Di video prestasi: “Gila, hebat banget!” → bermakna kagum.
Di video lucu: “Gila ngakak gue!” → bermakna lucu atau sangat menghibur.
Di video drama: “Gila sih orang ini” → bermakna heran, kecewa, atau tidak percaya.
Artinya, kata yang sama bisa membawa emosi yang berbeda. Dalam konteks digital, gila sering tidak lagi dibaca sebagai makna harfiah, melainkan sebagai penanda rasa takjub atau reaksi spontan (Maharani, Luthfi, & Fatmawati, 2025). Ini menunjukkan bahwa makna dalam bahasa tidak hanya bergantung pada kamus, tetapi juga pada situasi pemakaiannya (Sempana, 2017).
Kata Gaul yang Ikut Bergeser
Kata lain yang sering muncul adalah anjir. Awalnya, kata ini berfungsi sebagai eufemisme atau bentuk yang lebih halus dari makian. Namun di TikTok, kata ini berkembang menjadi seruan serbaguna. Ia bisa dipakai untuk menunjukkan kagum, kaget, geli, kasihan, bahkan simpati (Sarli, 2023).
Misalnya:
“Anjir keren banget.”
“Anjir kasian amat.”
Dua kalimat itu jelas membawa nuansa emosi yang berbeda. Namun kata dasarnya tetap sama. Yang menentukan maknanya adalah konteks video, nada komentar lain, dan suasana percakapan yang sedang berlangsung (Sarli, 2023).
Hal serupa juga terlihat pada kata pinjaman seperti literally. Secara harfiah, kata ini berarti benar-benar atau secara harfiah. Tapi di TikTok, kata itu sering dipakai justru untuk sesuatu yang tidak harfiah sama sekali.
Contohnya:
“Aku literally mau mati ketawa.”
Kalimat itu tentu bukan berarti mati sungguhan. Ia hanya dipakai untuk memberi efek dramatis atau menegaskan betapa lucunya sesuatu. Di sini, bahasa tidak dipakai secara lurus, tetapi tetap terasa akrab di budaya internet (Kristinaupi et al., 2024).
Kenapa Ini Penting?
Fenomena ini penting bukan hanya untuk linguistik, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari. Pertama, polisemi di media sosial bisa memicu salah paham antargenerasi. Orang tua atau pembaca yang tidak akrab dengan bahasa gaul bisa saja mengira sebuah komentar bermakna kasar, padahal maksudnya justru pujian atau candaan (Maharani, Luthfi, & Fatmawati, 2025).
Kedua, bagi pembuat konten, memahami makna kata dalam konteks digital bisa membantu mereka membaca respons audiens dengan lebih tepat. Satu kata yang dipilih dengan kurang pas bisa menggeser suasana komentar, dari akrab menjadi sinis (Sarli, 2023).
Ketiga, fenomena ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia itu hidup. Bahasa tidak diam di tempat. Ia terus berubah mengikuti cara orang berkomunikasi, terutama di ruang digital yang serba cepat (Kristinaupi et al., 2024).
Peran Konteks
Yang paling menarik dari polisemi di TikTok adalah peran konteks yang sangat kuat. Sebuah kata tidak berdiri sendiri. Maknanya dibentuk oleh video, musik, ekspresi, teks di layar, dan juga komentar lain yang muncul di sekitarnya (Sempana, 2017).
Kalimat yang sama bisa dibaca berbeda kalau muncul di video yang berbeda. Itulah sebabnya komentar “gila sih” bisa terdengar seperti pujian, candaan, atau reaksi kaget. Di sinilah pembaca ikut bekerja. Kita tanpa sadar menafsirkan makna berdasarkan suasana yang mengelilinginya (Erwansah, Sulissusiawan, & Syahrani, 2018).
Kalau dipikir-pikir, ini menunjukkan bahwa kita sebenarnya cukup ahli membaca bahasa, bahkan ketika tidak sedang sadar melakukannya.
Bahasa yang Terus Hidup
Kolom komentar TikTok bukan cuma tempat orang melempar reaksi singkat. Di sana, bahasa Indonesia sedang bergerak, menyesuaikan diri, dan menemukan bentuk-bentuk baru (Kristinaupi et al., 2024). Polisemi adalah salah satu cara bahasa bertahan: satu kata bisa dipakai dalam banyak situasi, dengan rasa yang berbeda-beda, tanpa kehilangan hubungan maknanya (Erwansah, Sulissusiawan, & Syahrani, 2018).
TikTok memperlihatkan bahwa bahasa tidak harus formal untuk menjadi bermakna. Justru di ruang yang ramai, cepat, dan sering berantakan itulah bahasa jadi sangat kreatif (Maharani, Luthfi, & Fatmawati, 2025).
Jadi, lain kali kamu membaca komentar “gila sih!” di bawah sebuah video, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya: gila yang mana, ya? Karena dari situ kita bisa melihat betapa luwes dan hidupnya bahasa yang kita pakai setiap hari.
Daftar Pustaka
Erwansah, A., Sulissusiawan, A., & Syahrani, A. (2018). Penggunaan Polisemi pada Kolom Wacana Surat Kabar Pontianak Post Edisi Januari 2018. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa.
Kristinaupi, A. M., Sitaresmi, N., Sulistyaningsih, L. S., Gumilar, G. S., & Syahfitri, I. (2024). Fenomena Perubahan Makna Kata Bahasa Indonesia dalam Konten Platform Instagram dan X. Semantik, 13(1), 87–102.
Maharani, L. H., Luthfi, D. T., & Fatmawati. (2025). Perubahan Makna pada Komentar di Akun TikTok @akashellahi.
Sarli, S. (2023). Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Sarkasme Netizen di Media Sosial TikTok. KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan, 3(1), 84–92.
Sempana, R. (2017). Analisis Perubahan Makna pada Bahasa yang Digunakan oleh Komentator Sepak Bola Piala Presiden 2017 (Kajian Semantik). Widyabastra: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(2), 78–86.
Solikhah, I. Z., Janah, N. M., & Sidik, M. (2020). Kesalahan Berbahasa Tataran Semantik dalam Unggahan Instagram @Kominfodiy. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(2), 33.
OLEH: Putri Fattihah
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment