Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Literasi Menghemat Uang Melalui Budaya Batik
APERO FUBLIC I OPINI.-- Seiring berkembangnya zaman yang semakin canggih, kini anak-anak mulai melupakan budaya di Indonesia. Melihat fenomena ini, kami tentu tidak bisa tinggal diam. Perlu ada cara kreatif untuk mengenalkan kembali warisan lokal yang membuat anak-anak merasa senang. Salah satunya adalah mengintegrasikan pelestarian budaya batik dengan edukasi literasi menghemat uang.
Kondisi tersebut sangat mendorong kami sebagai mahasiswa Program Studi Akuntansi S1 Universitas Pamulang, untuk mengambil peran nyata dalam masyarakat. Melalui Kegiatan Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat (PMKM), kami berkontribusi langsung di SDN Pondok Petir 01, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, pada kamis (23/04/2026).
Sasaran kami di sana adalah siswa kelas 5C, yang berada dalam usia yang sangat ideal untuk mulai menanamkan kebiasaan finansial yang bijak.
Kami melihat Sebagian besar dari mereka saat ini lebih fokus pada gawai (gadget) yang membawa banyak pengaruh budaya luar. Akibat kebiasaan tersebut, mereka tidak hanya makin asing dengan budaya lokal, tetapi juga belum memahami konsep dasar keuangan, seperti membedakan antara keinginan dan kebutuhan dalam menggunakan uang.
Oleh karena itu, kami merancang kegiatan kreatif berupa pembuatan celengan batik. Aktivitas praktik langsung ini terbagi 6 kelompok yang beranggotakan 4-5 orang. Melalui kerja kelompok ini, suasana kelas yang awalnya pasif langsung berubah drastis menjadi penuh tawa dan riuh kreativitas. Sembari menempel dan menghias celengan dengan pola-pola batik, anak-anak yang tadinya acuh tak acuh justru berbalik menjadi sangat antusias.
Melalui pemanfaatan kaleng dan kertas bermotif batik ini, mereka belajar bahwa sesuatu yang berharga selalu membutuhkan proses seperti mengisi celengan tersebut nantinya. Aktivitas kelompok yang interaktif dan penuh kebersamaan ini sukses memicu motivasi baru bagi siswa kelas 5C untuk mulai disiplin menyisihkan uang jajan mereka.
Keaktifan dan respons positif mereka mulai tampak saat kami menyelipkan materi edukasi di tengah-tengah kegiatan, di mana mereka dengan cepat memahami perbedaan antara apa yang benar-benar mereka butuhkan untuk sekolah dan apa yang sekadar keinginan mata saat melihat mainan atau gawai. Mereka bahkan dengan bangga menunjukkan celengan batiknya sambil bertekad untuk langsung menyisihkan uang jajan hari itu juga.
Kegiatan PMKM ini pada akhirnya berhasil mengalihkan perhatian anak-anak sejenak dari layar gawai menuju aksi nyata yang lebih produktif. Melalui selembar motif batik dan kaleng baru yang mereka hias, kegiatan ini sukses menanamkan rasa cinta pada nilai budaya lokal yaitu batik, sekaligus melatih mereka untuk bijak dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Oleh: Zaskya Kiranni Putri
Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment