Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Pengaruh Anonimitas Terhadap Kecenderungan Ujaran Kebencian pada Media Sosial Tiktok @SADAMPERMANAWIYANA”
A. PENGENALAN SUBJEK
APERO FUBLIC I OPINI.- @SADAMPERMANAWIYANA, Sadam Permana Wijaya adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2023 yang dikenal melalui gaya debatnya yang tegas dan logis dengan sapaan khas "saudaraku". Ia aktif membagikan konten tentang public speaking, kesadaran hukum, kesetaraan gender, dan perilaku sosial. Ia berprestasi sebagai Juara 2 Debat Hukum Nasional Law Fair 2022 dan Juara 2 Lomba Debat APDN 2022, serta menjadi pelatih debat di SMA Negeri 8 Jakarta.
Lebih jauh dari sekadar prestasi akademik, Sadam dikenal sebagai kreator yang tidak ragu menyentuh isu-isu yang sensitif secara sosial. Ia tidak asal mengkritik, melainkan mengajak publik berpikir bersama. Kontennya tidak hanya mengomentari isu politik, tetapi juga mengajak penontonnya berpikir kritis tentang sistem ketatanegaraan Indonesia dengan cara yang santun dan solutif.
Dengan latar belakang seperti inilah, akun @sadampermanawiyana menjadi ruang digital yang kaya akan dinamika interaksi di mana pujian dan hujatan hadir berdampingan secara sangat nyata.
B. OPINI
1. Konten Edukatif yang Memicu Reaksi Emosional
Salah satu hal yang paling menarik sekaligus ironis dari fenomena akun @sadampermanawiyana adalah fakta bahwa konten yang bertujuan mendidik justru kerap menjadi pemantik serangan keras dari netizen. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pola yang dapat dianalisis secara sistematis.
Sadam menyoroti kasus-kasus pelecehan seksual yang sering terjadi di lingkungan pendidikan dan dunia kerja. Dalam beberapa unggahannya, ia menekankan pentingnya keberanian korban untuk bersuara dan pentingnya penegakan hukum yang adil. Pandangan tersebut kerap mengundang diskusi hangat di kolom komentarnya.
Topik lain yang kerap muncul dalam kontennya adalah pendidikan bagi perempuan. Sadam menyoroti pandangan stereotip yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi, serta mendorong generasi muda untuk lebih terbuka terhadap kesetaraan.
Gambar 1. Sadam Permana, Suarakan Perubahan Lewat Konten di Media Sosial (sumber : (sumber : mediapijar.com) |
Dari sini dapat ditarik satu opini yang kuat yaitu topik-topik seperti kesetaraan gender, pelecehan seksual, dan kritik sosial adalah isu yang belum diterima secara merata di masyarakat Indonesia. Ketika Sadam menyuarakan posisi yang dianggap "tidak lazim" atau "melawan arus" oleh sebagian netizen, reaksi yang muncul bukan berupa debat argumentatif yang sehat, melainkan serangan verbal yang bersifat personal.
Inilah yang secara akademis disebut sebagai ad hominem dalam ujaran kebencian menyerang pribadi pembicara, bukan isi argumennya. Dan serangan semacam ini jauh lebih mudah dilontarkan ketika pelakunya berlindung di balik akun anonim tanpa identitas yang jelas.
2. Anonimitas sebagai Senjata untuk Membungkam Suara Kritis
Gambar 2. Sadam Permana dalam Suarakan Perubahan Lewat Konten di Media Sosial (sumber : mediapijar.com) |
Fakta bahwa akun Sadam pernah mengalami pemblokiran merupakan bukti nyata bagaimana anonimitas bisa dijadikan senjata kolektif untuk menyerang dan membungkam seseorang di ruang digital.
Akun TikTok milik Sadam sempat diblokir aksesnya (banned) karena salah satu kontennya yang dinilai melanggar pedoman komunitas, hingga akhirnya ia membuat akun baru dan kembali aktif menyuarakan pendapatnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Sadam tetap konsisten menggunakan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan pengetahuan dan mengasah kemampuan berpikir kritis masyarakat.
Fenomena pemblokiran akun seperti ini sangat erat kaitannya dengan perilaku netizen anonim yang melakukan pelaporan (report) secara massal. Ketika seseorang tidak setuju dengan isi konten seorang kreator, cara termudah yang bisa dilakukan tanpa harus menghadapi konsekuensi sosial adalah dengan melaporkan konten tersebut menggunakan akun tanpa identitas yang jelas.
Dalam kondisi inilah anonimitas tidak lagi berfungsi sebagai pelindung kebebasan berekspresi, melainkan sebagai alat represi terhadap suara yang dianggap mengancam. Anonimitas membawa dampak negatif seperti kesulitan dalam mengontrol batas yang dapat mengarah pada perilaku berbahaya, dan ujaran kebencian sering muncul dan menimbulkan konflik dari kondisi ini.
3. Polarisasi Publik dan Dinamika Kolom Komentar
Gambar 3. Kena Kritik Netizen di Podcast Raditya Dika, Sadam Permana Mengaku Syok Tapi Tetap Intropeksi. (www.bandarlampungpost.com). |
Kolom komentar akun @sadampermanawiyana bukan sekadar ruang bagi netizen untuk bereaksi ia adalah cermin dari polarisasi sosial yang lebih dalam di masyarakat Indonesia digital. Di satu sisi, terdapat kelompok pendukung yang tergerak oleh konten edukatif Sadam.
Nama Sadam mulai dikenal luas setelah konten debatnya viral di media sosial TikTok. Ciri khasnya yang kerap menyebut kata "saudaraku" dan sikap tegas dalam menolak interupsi menjadi identitas yang melekat pada dirinya. Konsistensi tersebut mendapat banyak tanggapan positif dari masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa.
Namun di sisi lain, terdapat kelompok haters yang aktif melontarkan komentar negatif. Sadam sendiri mengakui adanya gelombang komentar negatif yang terus dilontarkan netizen setelah ia tampil di podcast Raditya Dika. Ia menyadari bahwa penampilannya terkesan terlalu menggebu-gebu, dan mengaku syok dengan tanggapan tersebut.
Yang menarik adalah mengapa seseorang yang tampil dengan niat baik dan terbuka terhadap kritik pun tetap mendapatkan serangan yang masif? Jawabannya terletak pada dinamika yang dijelaskan dalam online disinhibition effect ketika netizen merasa tidak dikenal, mereka akan mengekspresikan emosi negatif secara ekstrem yang dalam situasi tatap muka tidak akan pernah mereka lakukan.
Anonimitas menurunkan "rem moral" seseorang, sehingga komentar yang sesungguhnya hanya berupa rasa tidak suka yang kecil bisa menjelma menjadi hujatan yang penuh kebencian di kolom komentar.
4. Dimensi Identitas Etnis dan Agama sebagai Pemicu Tambahan
Gambar 4. Identitas Sadam Permana I (sumber : www.instagram.com/p/DXtMnXOADBF/) |
Sadam Permana diketahui merupakan keturunan Tionghoa-Minang dan menganut agama Islam. Identitas ganda yang tidak lazim ini keturunan Tionghoa sekaligus Muslim berpotensi menjadi sasaran ujaran kebencian yang berbasis prasangka etnis dan agama, dua jenis ujaran kebencian yang paling sering ditemukan di media sosial Indonesia.
Justru kompleksitas identitas inilah yang membuat akun @sadampermanawiyana sangat menarik. Ujaran kebencian yang mungkin muncul di komentarnya tidak hanya bermotif ketidaksetujuan terhadap konten, tetapi juga bisa bermotif prasangka terhadap identitas etnis atau penilaian terhadap konsistensi identitas agamanya.
Netizen yang bersembunyi di balik akun anonim akan jauh lebih berani mengekspresikan prasangka semacam ini dibandingkan jika harus mengungkapkannya dengan identitas asli yang dapat dilacak.
C. ARGUMEN
1. Konten Kritis = Magnet Reaksi Emosional Anonim
Akun @sadampermanawiyana membahas topik-topik sensitif seperti kesetaraan gender, pelecehan seksual, dan kritik terhadap sistem sosial. Topik-topik ini secara konsisten memicu reaksi serangan ad hominem dari netizen anonim menyerang pribadi pembicara, bukan substansi argumennya. Ini merupakan manifestasi paling nyata dari toxic disinhibition effect.
2. Anonimitas sebagai Alat Represi Digital
Fakta bahwa akun Sadam pernah di-banned akibat laporan massal dari akun-akun anonim merupakan bukti empiris paling kuat dalam penelitian ini. Anonimitas adalah fitur yang memampukan pengguna untuk menyembunyikan identitas asli mereka.
Menurut Suler (2004), anonimitas sering kali menimbulkan disinhibisi daring (online disinhibition effect), artinya individu menjadi lebih bebas untuk bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi sosial atau hukum.
3. Polarisasi Kolom Komentar sebagai Laboratorium Sosial
Netizen di media sosial acapkali melakukan ujaran dengan menggunakan gaya bahasa sarkasme. Penggunaan internet dan media sosial sebagai pemantik hate speech, pemicu konflik, dan sebagai sarana saling menghujat merupakan bagian dari gambaran bullying society yang merusak ruang publik digital. Kolom komentar @sadampermanawiyana menjadi cermin nyata dari fenomena ini.
4. Identitas Ganda sebagai Pemicu Tambahan
Identitas Sadam sebagai keturunan Tionghoa-Minang yang beragama Islam menciptakan lapisan prasangka berlapis yang memperparah ujaran kebencian berbasis SARA sebuah variabel yang membuat penelitian ini unik dan bernilai akademis tinggi.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan seluruh opini dan analisis di atas, secara keseluruhan dapat dirangkum dalam tiga pernyataan utama:
1) Akun @sadampermanawiyana merupakan content creator yang memiliki konten progresif dan berani secara organik menghasilkan gesekan opini yang nyata, menjadikan kolom komentarnya sebagai laboratorium alami untuk mengamati ujaran kebencian.
2) Anonimitas bukan sekadar faktor pendukung munculnya ujaran kebencian di akun ini melainkan faktor utama yang memungkinkan netizen untuk menyerang seorang kreator edukatif tanpa harus menanggung konsekuensi sosial apapun. Fakta bahwa akunnya pernah di-banned akibat laporan massal dari akun-akun tak beridentitas menjadi bukti paling kuat dari hubungan sebab-akibat ini.
3) Fenomena yang terjadi di akun @sadampermanawiyana mencerminkan persoalan yang lebih luas tentang kesehatan ruang digital Indonesia di mana suara-suara kritis dan progresif masih rentan dibungkam oleh ujaran kebencian yang dilindungi oleh anonimitas, sementara literasi digital dan penegakan etika komunikasi online masih sangat terbatas.
PENULIS :
- Alya Rahma Fitri
- Afifah Seftia Rahmah
- Nisah Hudani Nabila
- Muhammad Fadli Agusri
- Alya Prastika
- Yolanda Elsa Giawa
- Mutiara Dwi Agustin
- Mawar Setiani Hia
- Rizqi Hidayat
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Andalas.
Editor. Time Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment