Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Overthinking Jadi Gaya Hidup? Peran Pekerja Sosial dalam Mendampingi Generasi Muda
"Jangan terlalu dipikirkan."
APERO FUBLIC I OPINI.-- Kalimat tersebut sering kali terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian generasi muda, mengendalikan pikiran bukanlah hal yang mudah. Tugas kuliah yang menumpuk, tuntutan untuk selalu produktif, tekanan dari media sosial, hingga kekhawatiran tentang masa depan membuat banyak anak muda cm dalam overthinking.
Overthinking merupakan kondisi ketika seseorang terus-menerus memikirkan suatu masalah, kemungkinan buruk, atau keputusan yang telah maupun akan diambil secara berlebihan. Akibatnya, seseorang menjadi sulit fokus, mudah cemas, sulit tidur, bahkan kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari.
Fenomena ini semakin sering dibicarakan di media sosial. Istilah seperti "burnout", "quarter-life crisis", dan "anxiety" menjadi bagian dari percakapan sehari-hari generasi muda. Namun, tidak sedikit orang yang menganggap overthinking sebagai hal biasa atau sekadar bagian dari tren.
Padahal, jika dibiarkan terus-menerus, overthinking dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk kehadiran pekerja sosial.
Mengapa Generasi Muda Rentan Mengalami Overthinking?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan generasi muda lebih rentan mengalami overthinking.
Pertama, perkembangan teknologi dan media sosial membuat individu terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Kehidupan yang terlihat sempurna di layar sering kali menimbulkan perasaan tertinggal atau tidak cukup baik.
Kedua, tuntutan akademik dan dunia kerja yang semakin kompetitif membuat banyak anak muda merasa harus selalu berprestasi. Mereka khawatir tidak mampu memenuhi harapan keluarga, lingkungan, maupun diri sendiri.
Ketiga, ketidakpastian masa depan juga menjadi penyebab munculnya kecemasan. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kondisi ekonomi, dan hubungan sosial membuat pikiran terus bekerja tanpa henti.
Selain itu, kurangnya ruang aman untuk bercerita membuat sebagian generasi muda memilih menyimpan masalahnya sendiri. Akibatnya, pikiran negatif semakin menumpuk dan sulit dikendalikan.
Memahami Overthinking dari Sudut Pandang Kesejahteraan Sosial
Banyak orang menganggap overthinking hanya terjadi karena seseorang terlalu banyak berpikir atau sulit mengendalikan pikirannya sendiri. Padahal, dalam ilmu kesejahteraan sosial, overthinking tidak muncul begitu saja.
Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari pengalaman hidup, pola pikir, hubungan dengan orang lain, hingga lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berkembang.
Sedang Mencari Jati Diri
Menurut teori psikososial, masa remaja adalah fase ketika seseorang sedang mencari jati diri. Di usia ini, banyak pertanyaan yang muncul di kepala: "Aku mau jadi apa?", "Apakah aku sudah cukup baik?", atau "Kenapa teman-temanku terlihat lebih sukses?"
Tekanan untuk menentukan masa depan, memenuhi harapan orang tua, dan mengikuti standar yang ada di media sosial sering kali membuat generasi muda merasa cemas dan terus memikirkan banyak hal.
Pikiran Memengaruhi Perasaan
Teori kognitif menjelaskan bahwa apa yang kita pikirkan akan memengaruhi perasaan dan tindakan kita. Misalnya, ketika seseorang berpikir, "Aku pasti gagal," maka ia akan merasa cemas, takut mencoba, bahkan kehilangan semangat.
Pikiran-pikiran negatif yang terus berulang inilah yang membuat overthinking semakin sulit dihentikan. Karena itu, pekerja sosial membantu generasi muda mengenali pola pikir yang kurang sehat dan mengajak mereka melihat situasi dari sudut pandang yang lebih realistis.
Setiap Orang Punya Potensi
Teori humanistik percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang dan menghadapi masalahnya sendiri. Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat panjang atau kritik, melainkan didengarkan dan dipahami.
Pekerja sosial hadir untuk menciptakan ruang yang aman agar generasi muda merasa nyaman bercerita tanpa takut dihakimi. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa lebih mengenal dirinya, menemukan kekuatan yang dimiliki, dan membangun rasa percaya diri.
Lingkungan Juga Punya Pengaruh
Menurut teori behaviorisme, kebiasaan dan perilaku seseorang banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Di era digital, generasi muda terbiasa melihat kehidupan orang lain di media sosial. Tanpa sadar, mereka mulai membandingkan diri, merasa tev rtinggal, atau takut tidak bisa memenuhi ekspektasi.
Jika kebiasaan ini terus berulang, overthinking bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat, seperti membatasi penggunaan media sosial, memperbanyak aktivitas positif, dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang terdekat.
Pengalaman Masa Lalu Bisa Berpengaruh
Teori psikodinamika menjelaskan bahwa pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan sesuatu. Pengalaman seperti sering dibandingkan dengan orang lain, menerima tuntutan yang terlalu tinggi, atau pernah mengalami kegagalan dapat membuat seseorang lebih mudah merasa cemas.
Pekerja sosial membantu individu memahami pengalaman tersebut agar tidak terus menjadi beban dalam kehidupannya.
Kita Tidak Hidup Sendiri
Teori sistem dan perspektif ekologi mengajarkan bahwa setiap orang adalah bagian dari lingkungan yang lebih besar, seperti keluarga, sekolah, kampus, pertemanan, dan masyarakat.
Artinya, overthinking bukan hanya tentang diri sendiri. Hubungan dengan keluarga, tekanan akademik, kondisi ekonomi, hingga lingkungan pertemanan juga bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang. Karena itu, pekerja sosial tidak hanya mendampingi individu, tetapi juga membantu memperkuat dukungan dari lingkungan sekitar.
Peran Pekerja Sosial dalam Mendampingi Generasi Muda
Pekerja sosial memiliki peran penting dalam membantu generasi muda menghadapi overthinking dan berbagai tantangan psikososial lainnya.
Sebagai enabler atau pendamping, pekerja sosial membantu individu mengenali potensi dan kekuatan yang dimilikinya agar mampu menghadapi masalah secara lebih sehat.
Sebagai konselor, pekerja sosial menyediakan ruang aman bagi generasi muda untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Melalui proses pendampingan, individu diajak memahami emosi, mengelola stres, dan menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Sebagai broker, pekerja sosial menghubungkan individu dengan layanan yang dibutuhkan, seperti psikolog, konselor pendidikan, komunitas pendukung, atau layanan kesehatan mental.
Sebagai edukator, pekerja sosial memberikan edukasi mengenai pentingnya kesehatan mental, cara membangun hubungan sosial yang sehat, serta strategi mengelola tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pekerja sosial juga berperan sebagai advokat dengan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental, baik di sekolah, kampus, maupun masyarakat.
Kesimpulan
Overthinking bukan sekadar tren atau istilah populer di media sosial. Fenomena ini merupakan bagian dari tantangan kesehatan mental yang banyak dialami generasi muda saat ini.
Pada akhirnya, menciptakan generasi muda yang sehat secara mental bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dengan lingkungan yang lebih peduli, terbuka, dan suportif, generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan sejahtera. Sebab, setiap orang berhak didengar, dipahami, dan didukung.
Penulis: Zaeda Zahira Shofa
Mahasiswi Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial, Univesitas Binawan.
Dosen pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment