Kampus
Mahasiswi
Opini
Sosiologi
Mengapa Orang Berkacamata Sering Dianggap Pintar?
“Kamu pasti pintar, ya?”
APERO FUBLIC I SOSIOLOGI.-- Entah sudah berapa kali saya mendengar kalimat itu sejak memakai kacamata. Kadang disampaikan sambil bercanda. Kadang diucapkan dengan nada sungguh-sungguh. Ada juga yang langsung berasumsi bahwa saya pasti rajin belajar, gemar membaca, atau selalu mendapatkan nilai bagus di sekolah.
Dan jujur saja, setiap kali mendengarnya, saya selalu merasa sedikit bingung.
Apa hubungannya kacamata dengan kecerdasan?
Saya memang berkacamata. Dan kebetulan, saya juga memang suka membaca. Saya menikmati buku-buku yang membawa saya pada pemikiran baru, memperkenalkan sudut pandang yang berbeda, atau sekadar memuaskan rasa ingin tahu saya terhadap banyak hal.
Namun, apakah dua hal itu selalu berkaitan? Menurut saya, tidak.
Saya tidak merasa diri saya lebih pintar hanya karena memakai kacamata. Saya juga tidak merasa bahwa kacamata adalah tanda bahwa seseorang lebih cerdas dibandingkan orang lain. Saya hanyalah orang biasa yang kebetulan membutuhkan bantuan lensa agar bisa melihat dengan lebih jelas. Namun, stereotip itu sudah terlanjur hidup di tengah masyarakat. Orang berkacamata sering dianggap pintar.
Pertanyaannya, mengapa?
Mungkin sebagian dari kita tumbuh dengan gambaran yang sama tentang sosok “anak pintar”. Ia duduk di bangku depan, membawa banyak buku, berbicara dengan tenang, dan memakai kacamata.
Film-film sering menampilkan ilmuwan berkacamata. Tokoh kutu buku hampir selalu diberi kacamata. Bahkan dalam cerita anak-anak, karakter yang paling cerdas sering digambarkan dengan bingkai tebal yang bertengger di hidungnya.
Lama-kelamaan, gambaran itu tertanam dalam pikiran kita. Tanpa sadar, kita mulai menghubungkan dua hal yang sebenarnya berbeda. Kacamata menjadi simbol kecerdasan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada banyak alasan mengapa seseorang memakai kacamata.
Faktor genetik menjadi salah satu penyebab yang cukup umum. Seseorang bisa memiliki mata minus karena memang ada riwayat yang sama dalam keluarganya. Ada pula kondisi mata tertentu yang membuat seseorang memerlukan kacamata sejak usia dini.
Sebaliknya, ada orang-orang yang sangat gemar membaca, menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, tetapi tidak pernah membutuhkan kacamata sama sekali.
Jadi, menghubungkan kacamata dengan kecerdasan seolah-olah keduanya memiliki hubungan sebab-akibat yang pasti terasa kurang tepat.
Saya sering berpikir bahwa mungkin kita memang terlalu cepat memberi label kepada orang lain. Kita melihat sesuatu dari luar, lalu berusaha menebak apa yang ada di dalam.
Seseorang berpakaian rapi dianggap disiplin.
Seseorang yang banyak bicara dianggap percaya diri. Seseorang yang pendiam dianggap pemalu. Dan seseorang yang memakai kacamata dianggap pintar. Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada itu.
Kita tidak benar-benar mengetahui seperti apa seseorang hanya dengan melihat penampilannya selama beberapa detik.
Yang menarik, anggapan bahwa orang berkacamata itu pintar terkadang juga membawa konsekuensi tersendiri. Ada ekspektasi yang muncul.
Seolah-olah orang yang memakai kacamata harus selalu tahu jawaban atas berbagai pertanyaan. Harus terlihat serius. Harus menyukai buku. Harus unggul secara akademis. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Saya sendiri pernah merasa lucu ketika seseorang terlihat terkejut mengetahui bahwa saya menyukai hal-hal sederhana seperti menonton film, bercanda, atau melakukan hal-hal yang jauh dari kesan “serius”. Seakan-akan berkacamata membuat seseorang tidak boleh memiliki sisi lain dalam dirinya. Padahal kita semua memiliki banyak lapisan kepribadian.
Saya suka membaca. Itu benar. Namun saya juga tahu bahwa kegemaran membaca bukanlah satu-satunya ukuran kecerdasan. Begitu pula prestasi akademik. Ada orang yang sangat pandai memahami perasaan orang lain. Ada yang luar biasa dalam menyelesaikan masalah praktis sehari-hari.
Ada yang kreatif menciptakan ide-ide baru. Ada yang memiliki kemampuan komunikasi yang mengagumkan. Bentuk kecerdasan itu beragam. Tidak semuanya terlihat dalam nilai rapor. Dan tentu saja, tidak semuanya bisa ditebak dari ada atau tidaknya kacamata.
Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa menjadi pintar bukanlah tentang bagaimana orang lain memandang kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita terus bertumbuh. Mau belajar dari kesalahan.
Mau mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya.
Mau mendengarkan sudut pandang yang berbeda. Mau mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa. Termasuk mempertanyakan stereotip sederhana seperti: orang berkacamata pasti pintar. Mungkin ada sebagian orang berkacamata yang memang sangat cerdas.
Mungkin ada pula yang biasa-biasa saja.
Sama seperti orang yang tidak memakai kacamata. Karena kecerdasan bukanlah identitas tetap yang bisa ditempelkan begitu saja pada seseorang. Ia berkembang melalui pengalaman, proses belajar, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Saya sendiri tidak pernah tahu bagaimana orang lain memandang saya. Jika ada yang menganggap saya pintar karena berkacamata, saya mungkin hanya akan tersenyum. Sebab saya tahu bahwa diri saya jauh lebih rumit daripada sekadar bingkai yang saya kenakan setiap hari.
Saya tahu ada banyak hal yang belum saya pahami. Banyak bidang yang tidak saya kuasai. Banyak kesalahan yang masih saya lakukan.
Dan menurut saya, menyadari keterbatasan diri justru merupakan bagian penting dari proses belajar. Karena ketika seseorang merasa sudah mengetahui segalanya, mungkin saat itulah ia berhenti bertumbuh. Di sisi lain, rasa ingin tahu membuat kita terus bergerak. Membaca buku. Bertanya.
Mencoba memahami sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Bukan untuk terlihat pintar di mata orang lain, melainkan karena memang ada keinginan untuk memahami dunia sedikit lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu sebabnya saya tetap menyukai kegiatan membaca.
Bukan karena ingin memenuhi gambaran tentang “anak berkacamata yang pintar”.
Tetapi karena membaca membantu saya mengenal banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui. Membaca mengajarkan bahwa hampir semua hal memiliki sisi yang lebih kompleks daripada yang tampak dipermukaan. Termasuk manusia.
Pada akhirnya, saya rasa kita perlu lebih berhati-hati sebelum memberi label kepada orang lain. Seseorang yang tampak pendiam belum tentu tidak percaya diri. Seseorang yang banyak tersenyum belum tentu selalu baik-baik saja. Dan seseorang yang memakai kacamata belum tentu lebih pintar dibandingkan yang lain.
Kacamata hanyalah alat bantu penglihatan.
Ia membantu seseorang melihat tulisan di papan tulis, membaca buku dengan lebih nyaman, atau mengenali wajah teman dari kejauhan. Tidak lebih dari itu. Sementara kecerdasan adalah sesuatu yang jauh lebih luas. Ia tidak memiliki bentuk tertentu. Tidak memiliki seragam. Tidak memiliki ciri fisik yang pasti.
Jadi, lain kali ketika kita bertemu seseorang yang berkacamata, mungkin kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan apa pun tentang dirinya.Bisa jadi ia memang sangat cerdas.
Bisa jadi ia hanyalah orang biasa yang memiliki mata minus karena faktor genetik.
Bisa jadi keduanya.
Lalu semuanya sama-sama tidak masalah.
Karena pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh sepasang lensa yang bertengger di wajahnya. Dan saya rasa, itulah hal yang sering kita lupakan. Bahwa di balik kacamata, ada manusia dengan cerita, pengalaman, kemampuan, dan keterbatasannya masing-masing. Sama seperti kita semua.
Mungkin, daripada sibuk menebak apakah seseorang pintar atau tidak berdasarkan penampilannya, akan lebih baik jika kita memberi kesempatan untuk benar-benar mengenalnya. Sebab sering kali, apa yang tampak di mata belum tentu menggambarkan siapa seseorang sebenarnya.Dan kacamata, pada akhirnya, hanyalah kacamata. Bukan ukuran kecerdasan.
PENULIS : Evi khomsatun
Mahasiswi Prodi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Prof. Kh. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment