Budaya
Kampus
Opini
Pendidikan
Merebut Kembali Kedaulatan Budaya Minum Alkohol Normalisasi Barat
APERO FUBLIC I ESAI.-- Standar denting gelas pada budaya barat, dipicu oleh pengaruh zat alkohol yang sering dianggap sebagai bahan bakar harus ada atau wajib di dalam suatu pertemuan sosial. Dalam budaya yang berkiblat pada standar barat, adanya pesta tanpa alkohol kerap dicap hanya sebagai pertemuan hambar, kaku dan gagal.
Jika kita melihat fenomena ini sebuah normaliatas padahal fenomena seperti menindas, bukan sekedar soal selera kuliner, bahwa konsumsi Utamanya sederhana namun radikal karena alkohol telah berkembang menjadi kebiasaan sosial yang menuntut kepatuhan.
Di tengah tekanan ini, memilih untuk tetap sadar adalah tindakan kedaulatan personal untuk mendapatkan kembali otoritas atas tubuh dan kesadaran(Anderson et al., 2026)
A. Kekuasaan
Budaya pesta tidak dapat dihentikan karena pesta adalah bisa dikatakan untuk merayakan sesuatu, selain itu sebuah perayaan tidak terlupakan sama dengan bahagia sekedar kemenangan atau hari bahagia yang perlunya peringatan untuk dikenang. euforia, rasa kebebasan yang datang membuat ingin semakin merasakan ke bahagian seakan tidak ingin berakhir.
Dapat kita sebut menggunakan sudut pandang dekolonialisasi terhadapat gaya hidup, alkoloh yang menjadi syarat untuk perayaan yang indah dan berkesan adalah sebuah kolonial barat. Alcohol centric sociability dimana kesenangan yang telah disatuan dengan normalisasi barat, kesuksesan dalam pesta bergeser dengan interaksi manusia dalam konsumbi produk.
Otoritas yang dimiliki tubuh sebagai instrumen kontrol, pemaknaan kontrol bukan lagi tentang kekerasan melalui fisik melainkan melalui manipulasi yang berada lingkungan yang membuat pilihan dinggap rasional.
Jika alkohol yang menjadi sebuah trend dalam global yang menormalisasikan hingga kehilangan kesadaran, maka individu yang melihat dan mengikuti normalisasi tersebut merupakan konsumsi massa menjadi pilihan yang mudah dijadikan sebagai pilihan.
B. Kesadaran
Esensi pesta seharusnya kembali pada persaudaraan dan penghormatan atas tercapainya suatu yang berarti atau dinantikan tapi membat keadaan sekadar jumlah alkohol yang dihabiskan untuk bisa menjadi kesuksesan perayaan suatu hal.
Mindfullness dengan mengembalikan fungsi sebuah perayaan yang didalam bangsa melalui konsep musyawarah mengedepankan kesadaran serta kejernian berpikir atau pertemuan yang menenangkan diri sejenak sebelum kembali pada suatu rangkain kehidupan yang membosankan.
Mengubah westernisasi menjadi eksploitatif terhadap buda bangsa dengan standar barat yang dianggap universal, jika tidak mengikuti merupakan individu tidak mengikuti trend.
C. Melawan Hegemonni Barat
Pesta harus kembali pada standar akarnya dengan rasa persaudaraan dan penghormatan. Budaya agar dapat memiliki kedaulatan dapat dimulai ketika kita mampu menghadirkan suasana perayaan kemenangan atau hari bahagia dengan kesadaran penuh, tanpa melihat budaya bangsa negara lain yang justru membuat memburamkan rasa kemanusiaan atau budaya dari bangsa kita merasa dikotori.
Gerakan self esteem hanya beranggapan diri sendiri agar sesuai dengan standart kolektif bukan untuk benar keinginan diri suatu kebebasan, melihat sebuah standar yang menjadi dilakukan semua orang ingin melakukaanya juga.
Penolakan dengan memilih kesadaran penuh, didalam suatu yang diukur sebagi standar kepatuhan terhadap trend serta lingkungan sekitar. Mencoba menggunakan dominasi kontrol terhadap diri sendiri dengan masuk dalam cara memimpin dirinya sendiri. Suatu hal yang harus dimiliki setiap individu, memiliki control atas diri sendiri adalah suatu hal yang dapat menyelamatkan diri sendiri dari katnya arus kondisi global pada saat ini.
Pada dasarnya, normalisasi konsumsi alkohol dalam perayaan sosial adalah hasil dari hegemoni dan kolonialisme gaya hidup Barat, yang dikenal sebagai sosialitas yang berfokus pada alkohol. Ini juga mengubah makna sebenarnya dari pertemuan.
Dengan menggunakan manipulasi tren global, masyarakat digiring untuk percaya bahwa pesta yang sukses hanya dapat diukur melalui konsumsi alkohol. Ini adalah standarisasi universal yang memaksa semua orang untuk mengikutinya, membuat mereka terjebak dalam konsumsi massal.
Akibatnya, otoritas tubuh kita secara halus dimanipulasi sehingga makna sebenarnya dari perayaan terabaikan. Namun, esensi asli dari perayaan harus kembali ke akarnya yaitu persaudaraan, penghormatan, dan kejernihan berpikir yang selaras dengan nilai luhur bangsa seperti musyawarah dan kesadaran penuh.
Oleh karena itu, mengambil tindakan drastis untuk mengembalikan otoritas pribadi atas tubuh dan pikiran adalah memilih untuk mempertahankan kesadaran penuh dalam situasi tekanan. Keberanian individu untuk memimpin dan memegang kendali penuh atas dirinya sendiri akan menjadi kunci perlawanan terhadap dominasi Barat.
Kita berhasil meruntuhkan hegemoni dengan mengembalikan perayaan yang tetap tanpa harus mengadopsi budaya lain yang mengotori nilai kemanusiaan kita. Pada akhirnya, kontrol diri yang kuat adalah benteng utama yang melindungi kita dari arus globalisasi karena menunjukkan bahwa kita memiliki kontrol total atas kesadaran kita.
PENULIS : Atika Risma Shofiyyah
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Budaya

Post a Comment