Ilmu Sastra
Kampus
Mahasiswi
Resensi
Ketika Kebahagiaan Menjadi Dosa bagi Perempuan: Kritik terhadap Standar Moral Patriarki dalam Pada Sebuah Kapal
"Mengapa perempuan yang berusaha mencari kebahagiaannya sendiri sering kali dianggap bersalah?"
APERO FUBLIC I RESENSI BUKU.-- Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, hingga hari ini jawabannya masih menjadi persoalan yang rumit. Dalam banyak situasi, masyarakat cenderung lebih mudah menerima laki-laki yang mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dibandingkan perempuan yang melakukan hal serupa.
Ketika seorang laki-laki mengejar kebahagiaannya, ia dianggap berani. Sebaliknya, ketika perempuan melakukan hal yang sama, ia dicap egois, tidak tahu diri, bahkan melanggar norma. Fenomena tersebut bukan hanya terjadi dalam kehidupan nyata, dan tergambar dengan kuat dalam novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini.
Melalui tokoh Sri dapat mengajak pembaca untuk melihat bagaimana seorang perempuan harus berhadapan dengan tuntutan sosial yang mengharuskannya bertahan dalam kehidupan yang tidak lagi memberinya kebahagiaan.
Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa pernikahan adalah tujuan akhir yang akan membawa kebahagiaan.
Kisah-kisah yang mereka dengar sering berakhir dengan berbagi kalimat, "mereka hidup bahagia selamanya." Namun, kehidupan tidak selalu berjalan seperti cerita dongeng. Sri adalah gambaran perempuan yang menyadari bahwa pernikahan tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan.
Di balik statusnya sebagai seorang istri, ia mengalami kekosongan emosional dan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru terasa seperti tekanan yang harus dijalani. Apakah perempuan harus tetap bertahan hanya karena ia sudah menikah?.
Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sering kali menjadi hal yang sulit dijawab dalam masyarakat yang masih menempatkan perempuan sebagai penjaga keutuhan rumah tangga. Seolah-olah keberhasilan sebuah pernikahan sepenuhnya berada di pundak perempuan, sementara kebahagiaannya sendiri menjadi persoalan yang tidak terlalu penting.
Patriarki sering bekerja dengan cara yang tidak terlihat, yaitu menjadikan penderitaan perempuan sebagai sesuatu yang dianggap wajar bahkan patut dibanggakan. Perempuan yang terus bersabar sering dipuji sebagai sosok kuat dan berbakti.
Tetapi, ketika ia memutuskan untuk keluar dari situasi yang menyakitkan, penilaian masyarakat berubah drastis. Dalam konteks ini, Sri berada dalam posisi yang serba salah. Jika ia bertahan, ia harus mengorbankan dirinya sendiri dan jika ia memilih jalan lain untuk memperoleh kebahagiaan, ia berisiko menerima stigma sosial.
Yang menarik, masyarakat sering kali lebih fokus menghakimi pilihan perempuan daripada memahami alasan di balik pilihan tersebut. Orang lebih sibuk bertanya, "Mengapa ia melakukan itu?" daripada "Apa yang membuatnya sampai pada keputusan itu?" Padahal, setiap keputusan lahir dari pengalaman yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Persoalan yang dikritik Nh. Dini melalui tokoh Sri bukan semata-mata tentang cinta atau pernikahan. Yang lebih penting adalah adanya standar moral yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dalam banyak budaya patriarki, perempuan dituntut menjadi sosok yang setia, sabar, dan rela berkorban tanpa batas.
Sementara itu, laki-laki sering memperoleh ruang yang lebih besar untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Akibatnya, perempuan tidak hanya harus menghadapi masalah yang sedang dialaminya, tetapi juga menghadapi penilaian sosial yang terus mengawasi setiap langkahnya.
Situasi ini masih terasa dekat dengan kehidupan saat ini. Kita masih sering menjumpai komentar yang mempertanyakan keputusan perempuan untuk bercerai, memilih tidak menikah, atau mendahulukan kebahagiaan dirinya sendiri.
Seolah-olah perempuan selalu memiliki kewajiban untuk memenuhi harapan orang lain sebelum memikirkan dirinya. Padahal, kebahagiaan bukanlah hak istimewa yang hanya boleh dimiliki oleh kelompok tertentu, sebab kebahagiaan adalah hak setiap manusia.
Hal yang paling menarik dari novel ini adalah keberaniannya menghadirkan perempuan sebagai manusia yang utuh. Sri bukan sosok perempuan sempurna. Ia memiliki keraguan, ketakutan, dan keinginan yang sering bertabrakan dengan norma sosial.
Sehingga ketidaksempurnaannya itulah Sri terasa begitu dekat dengan pembaca. Melalui tokoh ini, Nh. Dini seakan ingin mengingatkan bahwa perempuan bukanlah simbol kesabaran yang harus terus-menerus berkorban.
Perempuan juga memiliki hak untuk merasa kecewa, marah, lelah, dan menginginkan kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, masyarakat sering lebih nyaman melihat perempuan sebagai sosok yang patuh daripada sebagai individu yang bebas menentukan nasibnya sendiri.
Meski novel ini pertama kali terbit puluhan tahun lalu, persoalan yang diangkatnya masih terasa dekat dengan kehidupan saat ini. Banyak perempuan modern telah memperoleh pendidikan tinggi, pekerjaan yang layak, bahkan kemandirian ekonomi.
Namun, kebebasan tersebut tidak selalu diikuti dengan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dalam banyak situasi, perempuan masih dihadapkan pada berbagai tuntutan sosial yang mengharuskan mereka menyesuaikan diri dengan harapan orang lain.
Oleh karena itu, Pada Sebuah Kapal bukan sekadar kisah tentang seorang perempuan bernama Sri.
Novel ini merupakan cerminan realitas sosial yang menunjukkan bagaimana kebahagiaan perempuan sering kali ditempatkan di bawah tuntutan norma dan penilaian masyarakat. Melalui tokoh Sri, Nh. Dini memperlihatkan bahwa keinginan perempuan untuk hidup bahagia kerap dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap nilai-nilai yang telah lama mengakar.
Pada akhirnya, persoalan yang diangkat dalam novel ini mengajak pembaca untuk melihat kembali cara masyarakat memandang perempuan dan pilihan hidupnya. Kebahagiaan seharusnya menjadi hak setiap manusia, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan menghadapi berbagai stigma dan penghakiman.
Dengan demikian, yang patut dikritisi bukanlah keberanian perempuan dalam menentukan jalan hidupnya, melainkan standar moral patriarki yang masih membatasi ruang perempuan untuk menjadi dirinya sendiri dan menjalani hidup yang mereka pilih.
Oleh : Luthfiyah Mumtaziah
Mahasiswa Universitas Islam Negri Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Ilmu Sastra

Post a Comment