Ekonomi
Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Ketahanan Eksternal Indonesia Masih Rapuh di Balik Perbaikan Current Account Balance
APERO FUBLIC I OPINI.-- Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut, Current Account Balance (CAB) atau transaksi berjalan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai ketahanan eksternal suatu negara. Berbeda dengan neraca perdagangan yang hanya mencatat ekspor dan impor barang, CAB juga mencakup perdagangan jasa, pendapatan primer seperti pembayaran bunga utang dan dividen, serta transfer internasional.
Oleh karena itu, CAB dapat menunjukkan apakah suatu negara mampu membiayai kebutuhan eksternalnya secara mandiri atau masih bergantung pada aliran modal asing.
Pada tahun 2025, posisi transaksi berjalan Indonesia menunjukkan perbaikan yang cukup menggembirakan. Defisit CAB menyempit menjadi sekitar 0,1% terhadap PDB, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 0,6% PDB.
Bahkan pada kuartal III 2025, Indonesia sempat mencatat surplus transaksi berjalan sebesar 1,1% PDB. Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama. Pada kuartal I 2026, defisit transaksi berjalan kembali melebar menjadi sekitar US$4 miliar atau 1,1% terhadap PDB.
Pelebaran ini terjadi karena surplus perdagangan barang menyusut, sementara defisit pendapatan primer tetap besar akibat pembayaran bunga dan dividen kepada investor asing.
Menurut saya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan CAB pada tahun 2025 belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi Indonesia. Meskipun surplus perdagangan masih menjadi penopang utama, ketergantungan terhadap komoditas membuat kinerja sektor eksternal sangat rentan terhadap perubahan harga dan permintaan global. Ketika harga komoditas melemah atau ekonomi dunia melambat, surplus perdagangan dapat menyusut dengan cepat dan kembali menekan transaksi berjalan.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, posisi Indonesia masih relatif tertinggal. Negara-negara tersebut mampu mempertahankan surplus transaksi berjalan yang lebih stabil karena didukung oleh sektor manufaktur dan ekspor bernilai tambah yang lebih kuat.
Hal ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga menciptakan sumber devisa yang lebih berkelanjutan dan tidak terlalu bergantung pada komoditas primer.
Dari perspektif ekonomi moneter internasional, defisit transaksi berjalan berarti Indonesia masih membutuhkan aliran modal asing untuk membantu membiayai kebutuhan eksternalnya. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan terhadap capital outflow ketika terjadi kenaikan suku bunga global atau perubahan sentimen investor.
Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi lebih besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh faktor domestik, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan transaksi berjalan dalam jangka panjang.
Kesimpulannya, perbaikan Current Account Balance pada tahun 2025 patut diapresiasi, tetapi data kuartal I 2026 menunjukkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih menghadapi tantangan yang besar.
Selama ketergantungan terhadap komoditas dan aliran modal asing masih tinggi, perekonomian Indonesia akan tetap rentan terhadap gejolak global. Karena itu, penguatan struktur ekonomi menjadi kunci untuk menciptakan transaksi berjalan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Oleh : Fifah
Mahasiswi Program Studi Ekonomi, Universitas Andalas.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Ekonomi

Post a Comment