Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Simple Projection: Ketika Masa Lalu Membayangi Cara Kita Memandang Orang LainBy: Nurul Isna
Foto: ar.inspiredpencil.com |
APERO FUBLIC I PSIKOLOGI.-- Pernahkan kamu merasa bahwa orang lain tidak akan membantumu, bahkan saat kamu belum sempat meminta bantuan? Atau kamu merasa permintaanmu pasti akan ditolak, padahal belum ada sepatah katapun yang terucap dari bibir lawan bicaramu?
Jika kamu pernah merasakan hal-hal tersebut, tanpa disadari kamu sedang mengalami yang namanya simple projection. Simple projection salah satu bentuk Distorsi Apersepsi yang muncul bukan dari sebuah kenyataan, melainkan muncul dari bayangan pengalaman masa lalu yang belum tuntas.
Simple projection bukan hanya terjadi pada orang-orang yang mengalami gangguan psikologis, simple projection ini juga sering terjadi pada orang-orang yang tidak mengalami gangguan mental, karena simple projection itu sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari pada siapa saja dan dalam keadaan yang tampak biasa.
Simple projection ini merupakan perilaku atau respon yang muncul dari bayangan-banyangan rasa bersalah, serta pengalaman-pengalaman negatif pada masa lalu. Di mana proses tersebut menciptakan fakta yang terasa nyata, saat individu tersebut memaknai rangsangan dari luar berdasarkan pengalamannya.
Ketika pengalamannya didominasi oleh pengalaman yang negatif seperti penolakan, kekecewaan, pengkhianatan, atau rasa tidak diterima maka apapun yang individu tersebut hadapi di masa sekarang akan ikut terpengaruhi oleh pengalman tersebut.
Untuk memahami bagaimana simple projection bekerja dalam kehidupan nyata, bayangkan sebuah situasi sederhana. Seseorang yang bernama Dita ingin meminjam buku kepada temannya, yaitu Wini. Namun sepanjang perjalanan menuju rumah Wini, pikiran Dita sudah dipenuhi oleh berbagai skenario penolakan.
"Wini pasti bilang tidak punya bukunya. Atau dia tidak akan meminjamkan karena takut aku merusaknya. Dia memang tidak suka padaku." Hingga akhirnya, sebelum sampai ke rumah Wini, Dita sudah kesal terlebih dahulu dan memutuskan untuk pulang dan tidak jadi meminjam buku.
Apa yang terjadi di sini? Dita tidak sedang bereaksi terhadap Wini yang sesungguhnya. Ia bereaksi terhadap bayangan Wini yang telah ia bangun berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalunya, di mana saat-saat ketika ia pernah ditolak, tidak dipenuhi permintaannya, atau merasa tidak diterima oleh orang lain.
Ketika simple projection dibiarkan dan tidak disadari, dampak yang ditimbulkan pastinya akan lebih besar dari urungan memijam buku. Dalam hubungan pertemanan, individu yang kerap melakukan simple projection akan cenderung menarik diri sebelum hubungan pertemanan tersebut berkembang, individu tersebut merasa tahu terlebih dahulu bahwa orang lain akan mengecewakannnya, padahal yang mengecewakannya adalah orang-orang di masa lalunya.
Simple projection dapat menciptakan jarak emosional yang tidak perlu antara individu dengan orang-orang di sekitarnya. Orang lain seperti Wini, bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya.
Mereka sudah dihakimi, sudah dijauhi, sudah diasumsikan buruk, semua berdasarkan cerita yang berjalan di kepala orang yang memproyeksikan, bukan berdasarkan kenyataan yang terjadi.
Mengenali simple projection dalam diri sendiri adalah langkah pertama yang tidak mudah namun sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, dan bertanya: "Apakah yang aku rasakan saat ini benar-benar tentang situasi ini, atau tentang sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu?"
By: Nurul Isna
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Fakutas Psikologi, Prodi Psikologi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment