Feature
Jambi
Kampus
Lingkungan Hidup
Mahasiswa
Pendidikan
Dari Penumpukan Menuju Pengelolaan yang Efektif: Perspektif Weimer dan Vining di TPS Pasar Simpang Pulai
TPS Pasar Simpang Pulai I Kota Jambi (Dok.Penulis). |
APERO FUBLIC I Permasalahan sampah masih menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan pelayanan publik di Kota Jambi. Meningkatnya aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi menyebabkan volume sampah yang dihasilkan semakin tinggi. Dalam kondisi tersebut, keberadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) memiliki peran penting sebagai tempat penampungan sebelum sampah diangkut menuju tempat pemrosesan akhir.
Namun, apabila volume sampah yang masuk tidak sebanding dengan kapasitas pelayanan pengangkutan, penumpukan sampah dapat terjadi dan mengganggu kebersihan serta kenyamanan masyarakat.
Kondisi tersebut dapat dilihat pada TPS Pasar Simpang Pulai. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, pengangkutan sampah di TPS tersebut telah dilaksanakan secara rutin oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi. Pengangkutan dilakukan satu kali dalam sehari, sekitar pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00, dengan melibatkan lima orang petugas yang terdiri dari satu orang sopir dan empat orang petugas pengangkut.
Hal ini menunjukkan bahwa telah terdapat jadwal dan pembagian tugas yang jelas dalam pelaksanaan pengangkutan sampah. Namun, rutinitas tersebut belum sepenuhnya menghilangkan persoalan di lapangan. Berdasarkan hasil observasi, masih terlihat adanya timbunan sampah di TPS ketika proses pengangkutan berlangsung.
Kondisi ini menunjukkan bahwa volume sampah yang masuk ke TPS cukup tinggi sehingga diperlukan pengelolaan yang mampu menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata karena tidak adanya pelayanan pengangkutan, tetapi bagaimana pelayanan yang sudah berjalan dapat dibuat lebih efektif dalam menghadapi volume sampah yang ada.
Jika dianalisis menggunakan teori Weimer dan Vining, suatu kebijakan perlu dilihat melalui proses identifikasi masalah, penetapan kriteria evaluasi, penyusunan alternatif, pemilihan alternatif terbaik, serta monitoring dan evaluasi manfaat kebijakan.
Dalam konteks TPS Pasar Simpang Pulai, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah tingginya volume sampah yang masuk setiap hari. Sementara itu, keberhasilan pengelolaan dapat dilihat dari efektivitas pengangkutan, ketepatan waktu, kecukupan jumlah petugas, dan kondisi kebersihan TPS.
Dari beberapa alternatif yang dapat dilakukan, seperti meningkatkan fasilitas pendukung, meningkatkan partisipasi pedagang dan masyarakat, serta melakukan evaluasi sistem pengangkutan, laporan kelompok memilih optimalisasi jadwal pengangkutan sebagai alternatif yang paling realistis.
Penyesuaian jadwal dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan volume sampah di lapangan, terutama ketika terjadi peningkatan jumlah sampah. Dengan demikian, frekuensi dan waktu pengangkutan tidak hanya mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan, tetapi dapat dievaluasi apabila kondisi di lapangan menunjukkan adanya kebutuhan perubahan.
Meskipun demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas kebersihan. Masyarakat serta pedagang di sekitar TPS juga memiliki peran penting. Membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan merupakan bentuk partisipasi sederhana yang dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam laporan kelompok, peningkatan partisipasi masyarakat juga menjadi salah satu alternatif yang dapat dilakukan melalui sosialisasi mengenai pembuangan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Jambi juga sedang melakukan transformasi pengelolaan sampah melalui Program Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM). Program tersebut diarahkan untuk mengubah pola pengelolaan sampah dari sistem yang bergantung pada TPS menuju pengumpulan sampah secara langsung dari rumah tangga dan pelaku usaha melalui operator berbasis masyarakat. Transformasi ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah dan menciptakan sistem pengelolaan yang lebih efektif serta berkelanjutan.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah di TPS Pasar Simpang Pulai membutuhkan kebijakan yang tidak hanya berjalan secara rutin, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kondisi di lapangan. Monitoring dan evaluasi menjadi penting untuk melihat ketepatan waktu pengangkutan, kelancaran proses pengangkutan, kondisi TPS setelah sampah diangkut, serta kemungkinan munculnya penumpukan sebelum jadwal pengangkutan berikutnya.
Apabila masih ditemukan penumpukan atau kendala dalam pelaksanaan, maka jadwal maupun mekanisme pengangkutan perlu kembali dievaluasi pemerintah perlu memastikan pelayanan pengangkutan berjalan tepat dan melakukan evaluasi ketika volume sampah meningkat, sementara masyarakat dan pedagang perlu memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Dengan kebijakan yang responsif, pelaksanaan yang konsisten, serta partisipasi masyarakat, pengelolaan sampah di TPS Pasar Simpang Pulai dapat menjadi lebih efektif dan mendukung terwujudnya Kota Jambi yang bersih, sehat, dan nyaman.
Penulis: Kelompok 6
- Shabilla Maharani
- Qodrun Nada
- Pandjie Irwansya
- Duta Rafina
- Lutvia Fatkhurrohmah
Mahasiswa Universitas Nurdin Hamzah.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment