Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Sosial Masyarakat
Body Shaming: Candaan yang Dianggap Biasa, Padahal Bisa Menyakiti
APERO FUBLIC I OPINI.-- Coba perhatikan lingkungan sekitar kita. Hampir setiap hari ada saja komentar tentang fisik seseorang. Ada yang dikomentari karena terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu pendek, atau bahkan karena warna kulitnya.
Yang menarik, komentar seperti ini sering dianggap sebagai candaan biasa. Orang yang mengucapkannya mungkin tidak merasa ada yang salah. Namun, pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orang yang mendengarnya?
Banyak orang menganggap body shaming sebagai sesuatu yang sepele. Kalimat seperti "kok gemuk kali sekarang?" atau "kurus banget, sakit ya?" sering diucapkan tanpa berpikir panjang. Padahal bagi sebagian orang, komentar tersebut bisa membuat mereka merasa tidak nyaman. Apalagi jika hal yang sama terus-menerus mereka dengar dari orang yang berbeda.
Kalau diperhatikan, body shaming bisa terjadi di mana saja. Di rumah, di sekolah, di kampus, bahkan di media sosial. Tidak jarang orang yang menjadi korban hanya tersenyum atau tertawa ketika mendengar komentar tersebut. Dari luar memang terlihat biasa saja, tetapi belum tentu mereka benar-benar tidak merasa terganggu. Bisa jadi mereka memilih diam karena tidak ingin dianggap terlalu sensitif.
Menurut saya, salah satu alasan body shaming masih sering terjadi karena banyak orang sudah terbiasa melakukannya. Sejak dulu komentar tentang fisik sering dianggap sebagai bentuk perhatian atau sekadar gurauan. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa ucapan mereka sebenarnya dapat menyakiti perasaan orang lain.
Dampak body shaming juga tidak bisa dianggap remeh. Seseorang yang terus menerima komentar negatif tentang tubuhnya bisa mulai kehilangan rasa percaya diri. Mereka menjadi lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa dirinya tidak cukup baik.
Dalam beberapa kasus, ada juga yang menjadi malu untuk tampil di depan umum karena merasa tidak sesuai dengan standar penampilan yang dianggap ideal. Fenomena ini juga sering muncul dalam pemberitaan. Misalnya, penyanyi Indonesia Mahalini pernah menerima berbagai komentar dari netizen mengenai perubahan penampilannya.
Banyak orang dengan mudah memberikan penilaian terhadap bentuk tubuh seseorang tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya. Menurut saya, kasus seperti ini menunjukkan bahwa body shaming tidak hanya dialami oleh masyarakat biasa, tetapi juga figur publik. Padahal, setiap orang berhak dihargai tanpa harus menerima komentar yang berlebihan mengenai fisiknya.
Media sosial juga ikut memperkuat fenomena ini. Saat membuka media sosial, kita sering melihat orang-orang dengan penampilan yang dianggap sempurna. Tanpa disadari, banyak orang kemudian mulai membandingkan dirinya dengan apa yang mereka lihat.
Akibatnya muncul perasaan kurang puas terhadap diri sendiri. Jika ditambah dengan komentar-komentar negatif dari lingkungan sekitar, tentu hal tersebut bisa membuat seseorang semakin tidak percaya diri.
Padahal, setiap orang memiliki bentuk tubuh dan karakteristik fisik yang berbeda. Tidak semua orang harus memenuhi standar kecantikan atau ketampanan yang sering ditampilkan di media sosial. Menurut saya, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjaga kesehatannya dan mampu menerima dirinya sendiri apa adanya.
Karena itu, sudah saatnya kita lebih berhati-hati dalam berbicara. Sebelum mengomentari fisik seseorang, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu pada diri sendiri apakah komentar tersebut memang perlu disampaikan atau tidak. Terkadang, kalimat yang menurut kita biasa saja bisa meninggalkan luka bagi orang lain.
Bagi saya, menghentikan body shaming bukan berarti kita tidak boleh bercanda sama sekali. Namun, kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki batasannya masing-masing. Candaan yang membuat orang lain merasa malu atau terluka bukanlah candaan yang baik.
Body shaming mungkin sering dianggap candaan biasa, tetapi dampaknya tidak selalu sederhana. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan seseorang ketika menerima komentar tentang fisiknya.
Karena itu, sudah saatnya kita lebih berhati-hati dalam berbicara dan mulai menghargai orang lain tanpa menjadikan penampilan mereka sebagai bahan penilaian atau candaan.
By: Putroe Najwan Mahira Iqbal Rokan
Mahasiswa Universitas Islam Negri Ar - Raniry, Fakultas Psikologi, Prodi Psikologi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment