Feature
Kampus
Mahasiswa
Olahraga
Pendidikan
Sepak Bola
Kericuhan PERSIB VS PERSIJA dan Tantangan Persatuan Indonesia
APERO FUBLIC I FEATURE.- Sepak bola merupakan olahraga yang memiliki penggemar terbesar di Indonesia. Antusiasme masyarakat terhadap sepak bola terlihat dari tingginya dukungan terhadap klub-klub daerah, ramainya stadion saat pertandingan berlangsung, hingga aktivitas suporter di media sosial.
Salah satu rivalitas terbesar dalam sepak bola Indonesia adalah pertandingan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta. Pertemuan kedua tim selalu menjadi sorotan publik karena memiliki sejarah panjang dan fanatisme suporter yang sangat tinggi. Namun di balik semangat tersebut, pertandingan Persib dan Persija juga sering diwarnai kericuhan yang merugikan banyak pihak.
Salah satu kasus kericuhan terbaru terjadi setelah pertandingan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta pada 10/05/2026 di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur.
Pertandingan yang berlangsung panas tersebut memicu berbagai aksi provokasi antarsuporter, baik di sekitar stadion maupun di media sosial. Bahkan setelah pertandingan selesai, keributan dan bentrokan antarsuporter masih terjadi di beberapa daerah akibat tingginya fanatisme dan kurangnya pengendalian emosi.
Kejadian ini menunjukkan bahwa rivalitas dalam sepak bola Indonesia masih sering disalahartikan sebagai permusuhan, padahal olahraga seharusnya menjadi sarana persatuan dan sportivitas antar masyarakat.
Suasana memanas di tribun Stadion Segiri saat pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung pada 10 Mei 2026 akibat dugaan adanya suporter Persib di tribun pendukung Persija. Sumber: Timnasday, 2026. |
Insiden tersebut menjadi perhatian nasional karena memperlihatkan masih tingginya permusuhan antarsuporter sepak bola di Indonesia. Tidak hanya mencoreng nama sepak bola nasional, tetapi juga menunjukkan lemahnya kesadaran sebagian suporter terhadap pentingnya sportivitas dan rasa kemanusiaan.
Kericuhan suporter dalam pertandingan sepak bola bukan lagi masalah baru di Indonesia. Bentrokan antarsuporter, pelemparan benda ke lapangan, provokasi di media sosial, hingga tindakan anarkis masih sering terjadi ketika rivalitas dua tim besar berlangsung.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa masih ada sebagian masyarakat yang belum mampu memaknai olahraga sebagai sarana hiburan, persatuan, dan sportivitas. Padahal sepak bola seharusnya menjadi ajang yang dapat mempererat hubungan sosial antarwarga, bukan justru memicu konflik dan permusuhan.
Dalam perspektif Pendidikan Kewarganegaraan, kericuhan suporter bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga, yaitu “Persatuan Indonesia”. Rivalitas dalam olahraga seharusnya tidak menjadi alasan munculnya kebencian antarkelompok masyarakat.
Fanatisme terhadap klub memang merupakan hal yang wajar, tetapi ketika fanatisme berubah menjadi tindakan kekerasan, maka hal tersebut sudah melanggar nilai persatuan dan semangat kebangsaan. Sebagai warga negara Indonesia, masyarakat seharusnya mampu menjaga persaudaraan meskipun memiliki perbedaan dukungan terhadap klub sepak bola.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, saat membahas pembinaan suporter dan pengembangan sepak bola nasional. Sumber: Kemenpora RI, 2025. |
Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, pernah menegaskan bahwa sepak bola harus menjadi sarana pemersatu bangsa, bukan pemicu perpecahan antarmasyarakat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah juga memandang persoalan kericuhan suporter sebagai masalah serius yang berkaitan dengan karakter bangsa dan citra olahraga Indonesia.
Selain bertentangan dengan nilai persatuan, kericuhan suporter juga berkaitan dengan hak dan kewajiban warga negara. Dalam kehidupan demokratis, setiap individu memiliki hak untuk mendukung klub sepak bola yang disukai dan menyampaikan pendapatnya. Akan tetapi, hak tersebut juga harus disertai tanggung jawab untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan menghormati hak orang lain.
Banyak oknum suporter yang hanya menuntut kebebasan mendukung tim, tetapi melupakan kewajibannya untuk menjaga ketertiban umum. Akibatnya, kericuhan tidak hanya merugikan suporter lawan, tetapi juga masyarakat sekitar, aparat keamanan, hingga citra sepak bola Indonesia di mata dunia.
Kericuhan suporter juga dapat dianalisis dari sudut pandang psikologi olahraga. Fanatisme yang berlebihan sering membuat seseorang kehilangan kontrol emosi ketika tim kesayangannya kalah atau mendapatkan keputusan wasit yang dianggap tidak adil. Dalam kondisi massa yang besar, emosi individu dapat dengan mudah dipengaruhi oleh provokasi kelompok.
Hal inilah yang sering memicu tindakan agresif di stadion maupun di luar pertandingan. Selain itu, budaya saling mengejek antarpendukung yang sudah dianggap biasa juga memperbesar potensi konflik. Media sosial bahkan sering menjadi tempat munculnya ujaran kebencian dan provokasi yang akhirnya terbawa ke dunia nyata.
Beberapa pemain sepak bola Indonesia juga pernah menyampaikan pentingnya menjaga sportivitas antarsuporter. Marc Klok misalnya, pernah mengajak suporter untuk mendukung tim secara positif dan menjaga keamanan pertandingan.
Menurutnya, rivalitas di lapangan seharusnya tidak berubah menjadi kebencian di luar stadion. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemain juga berharap sepak bola Indonesia dapat berkembang dengan budaya dukungan yang lebih dewasa.
Pemain Persib Bandung: Marc Klok, mengajak suporter menjaga sportivitas dan keamanan pertandingan. Sumber: Media olahraga nasional, 2025. |
Fenomena kericuhan suporter menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya disebabkan oleh pertandingan sepak bola itu sendiri, tetapi juga oleh rendahnya edukasi mengenai sportivitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Banyak suporter yang memahami rivalitas sebagai permusuhan, padahal dalam olahraga modern rivalitas justru seharusnya menjadi motivasi untuk mendukung tim secara positif. Konsep fair play tidak hanya berlaku bagi pemain di lapangan, tetapi juga bagi suporter. Menghormati lawan, menerima hasil pertandingan, dan menjaga keamanan merupakan bagian penting dari budaya olahraga sehat.
Kasus kericuhan dalam rivalitas Persib dan Persija juga menunjukkan pentingnya pendidikan karakter dalam masyarakat Indonesia. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan sikap dan moral.
Nilai sportivitas, toleransi, disiplin, dan pengendalian diri perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas suporter. Jika masyarakat memiliki kesadaran bahwa semua pendukung sepak bola tetap merupakan sesama warga negara Indonesia, maka potensi konflik dapat dikurangi.
Selain pendidikan karakter, peran pemerintah, federasi sepak bola, dan klub juga sangat penting dalam mengatasi kericuhan suporter. Penegakan aturan yang tegas harus dilakukan kepada pelaku tindakan anarkis agar menimbulkan efek jera.
Klub juga perlu aktif mengedukasi suporternya untuk mendukung tim secara damai dan sportif. Di sisi lain, media sosial harus digunakan sebagai sarana kampanye perdamaian, bukan justru memperbesar konflik melalui provokasi dan ujaran kebencian.
Menurut saya, rivalitas Persib dan Persija sebenarnya dapat menjadi hal positif bagi sepak bola Indonesia apabila dikelola dengan baik. Atmosfer pertandingan yang penuh semangat menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat terhadap sepak bola nasional.
Namun rivalitas tersebut harus dibangun atas dasar sportivitas dan rasa saling menghormati. Masyarakat perlu memahami bahwa kemenangan dan kekalahan dalam olahraga merupakan hal yang wajar. Tidak ada pertandingan yang sebanding dengan hilangnya rasa persatuan dan keamanan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, kericuhan suporter sepak bola merupakan tantangan besar bagi Indonesia dalam membangun budaya olahraga yang sehat dan beradab. Sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kemanusiaan, masyarakat Indonesia seharusnya mampu menunjukkan kedewasaan dalam mendukung klub sepak bola.
Rivalitas boleh tetap ada sebagai bagian dari semangat kompetisi, tetapi permusuhan dan kekerasan tidak boleh menjadi budaya. Dengan edukasi sportivitas, penguatan nilai-nilai Pancasila, dan kesadaran bersama untuk menjaga persatuan, sepak bola Indonesia dapat berkembang menjadi olahraga yang tidak hanya membanggakan dari segi prestasi, tetapi juga dari kualitas suporternya.
Article by; Rafi Hadi Prawira
Mahasiswa Prodi Ilmu Keolahragaan, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment