Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Thrifting Bukan Sekadar Belanja Murah: Bagaimana Generasi Z Mengubah Pakaian Bekas Menjadi Identitas
APERO FUBLIC I OPINI.- Pernahkah kamu scroll media sosial lalu tersandung konten seseorang yang memamerkan "thrift haul" tumpukan pakaian bekas yang ditata estetis, disorot lampu ring light, dengan caption penuh kebanggaan: "Total belanja cuma 80 ribu, can you believe it?"
Komentar-komentar berdatangan. Ada yang kagum, ada yang meminta detail tokonya, ada pula yang langsung bertanya soal harganya. Konten semacam ini mungkin terasa biasa sekarang. Tapi jika kita mundur sedikit dan bertanya bagaimana pakaian bekas bisa jadi sesuatu yang dibanggakan jawabannya ternyata jauh lebih menarik dari yang kita kira.
J
Dunia fashion terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Perubahan dari satu fase ke fase lain tidak hanya tentang fisik saja, melainkan atribut-atribut yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah pakaian (Ginting, 2021). Pakaian tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan primer, melainkan sudah menjadi tren tersendiri yang dapat menciptakan ruang untuk mengekspresikan diri (Prasetya, 2023).
Jika ditelusuri lebih jauh terkait fashion, dahulu masyarakat harus datang dan pergi ke toko ketika ingin membeli pakaian. Namun, seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, pola tersebut mengalami pergeseran. Generasi saat ini menemukan cara tersendiri untuk mengekspresikan identitas mereka melalui cara berpakaian yang dianggap lebih personal, lebih unik, dan lebih bernilai. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan tren “thrifting”. Kata “thrift” diambil dari kata thrive yang artinya berkembang. Istilah thrifting merujuk pada kegiatan jual beli barang bekas seperti perabotan rumah tangga, barang keseharian, dan pakaian yang dilakukan di toko atau pasar khusus (Soenaryo et al., 2024). Dalam hasil survei Goodstats mayoritas responden atau sekitar 49,4% mengaku pernah membeli pakaian bekas dari hasil thrifting.
Aktivitas membeli barang bekas kini tidak lagi dipandang sebagai hal “negatif” atau dikaitkan dengan kelompok ekonomi menengah ke bawah (Prasetya, 2023). Hal ini terlihat dari semakin banyaknya thrift shop yang muncul di berbagai tempat baik online maupun offline store. Dukungan teknologi dan platform online seperti media sosial juga turut memperluas jangkauan pasar thrift. Fenomena thrifting ini menarik untuk dikaji karena mendorong penulis untuk melihat praktik ini sebagai suatu tren budaya populer dan mengaitkannya dengan pemikiran Roland Barthes, bagaimana makna dan mitos mengenai thrifting dibentuk.
Kajian akademik mengenai thrifting di Indonesia sesungguhnya bukanlah hal baru. Beberapa penelitian terdahulu sudah banyak mengkaji topik ini, diantaranya penelitian oleh Fadila et al. (2023) mengkaji fenomena thrifting yang populer di kalangan mahasiswa. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa motivasi utama mahasiswa melakukan thrifting adalah untuk mendapatkan barang dengan model beragam dan langka dengan harga minimal, sehingga memberikan kepuasan tersendiri.
1. Konstruksi Denotasi: Pergeseran Materialitas Pakaian Bekas
Roland Barthes adalah salah satu tokoh semotika komunikasi yang menganut aliran semiotika komunikasi strukturalisme Ferdinand de Saussures. Roland Barthes memperkenalkan istilah “denotasi” dan “konotasi” untuk menjelaskan lapisan-lapisan makna yang terdapat dalam sebuah teks (Rahmawati et al., 2023). Denotasi adalah hubungan literal antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Secara denotatif, aktivitas thrifting di media sosial ditampilkan melalui visual berupa pakaian bekas layak pakai. Foto produk dengan pencahayaan yang estetis, penggunaan model yang proporsional, hingga teknik flat lay yang rapi sebagai penanda ‘fashion yang bernilai’. Secara denotatif, objek tersebut tetaplah pakaian yang pernah dimiliki oleh orang lain (barang bekas), namun di media sosial, aspek "kebekasan" ini direduksi sedemikian rupa sehingga yang muncul ke permukaan adalah materialitas objek yang tampak segar dan eksklusif. Hal ini sejalan dengan temuan Anisa dan Afif (2025) dalam studi kasus mereka terhadap Gen Z di Purwokerto menunjukkan bahwa platform seperti TikTok dan Instagram berperan sebagai arena budaya yang menormalisasi dan mengangkat derajat thrifting menjadi sesuatu yang trendi dan bernilai mengubah pakaian bekas yang dulunya berkonotasi negatif menjadi simbol yang bernilai, vintage, dan eksklusivitas yang justru dicari oleh Gen Z.
2. Signifikasi Konotatif: Komodifikasi "Rareness" dan Perbedaan Sosial
Untuk memahami fenomena ini, kita bisa meminjam kacamata pemikir asal Prancis, Roland Barthes. Ia pernah mengajarkan bahwa sebuah benda apa pun itu tidak hanya menyimpan makna harfiah (denotatif), tetapi juga makna lapis kedua yang lebih kaya dan lebih kultural (konotatif). Dan jika lapisan konotasi itu sudah sedemikian kuat tertanam dalam masyarakat, ia berubah menjadi apa yang Barthes sebut sebagai mitos.
Dalam konteks thrifting, cara media sosial menampilkan pakaian bekas sudah jauh melampaui makna harfiahnya. Di Instagram dan TikTok, pakaian bekas tidak difoto asal-asalan. Ia disajikan dengan pencahayaan estetis, teknik flat lay yang rapi, model yang proporsional, dan narasi yang dipilih dengan cermat. "Kebekasan" barang tersebut yang dulu jadi aib kini disamarkan, bahkan dirayakan sebagai sesuatu yang eksklusif dan langka.
Di sinilah mitos bekerja secara halus. Generasi Z tidak lagi melihat thrifting sebagai "terpaksa membeli yang bekas," melainkan sebagai pernyataan identitas: aku kreatif, aku peduli lingkungan, aku punya selera yang tidak pasaran. Mitos ini terasa begitu alami sehingga banyak yang tidak menyadari bahwa ia merupakan konstruksi sosial yang aktif dibentuk oleh media sosial.
3. Thrifting sebagai Praktik Sosial dan Fenomena Budaya Populer
Salah satu temuan yang paling mengejutkan dari berbagai riset tentang thrifting adalah bahwa motivasi utama para pelakunya bukan sekadar irit. Penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa pelaku thrifting menunjukkan bahwa mereka secara aktif memburu pakaian bermerek luar negeri dengan harga terjangkau bukan karena tidak tahu harganya, melainkan justru karena menyadari nilai sosial yang merek itu bawa.
Seorang informan dalam salah satu penelitian bahkan mengakui terus terang: tanpa pakaian branded, ia merasa tidak percaya diri untuk sekadar nongkrong bersama teman-temannya.
Thrifting menjadi jalan pintas yang cerdas. Ia menawarkan akses terhadap simbol-simbol status sosial merek ternama, item vintage, potongan langka dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Dan karena kelangkaan itulah nilainya justru meningkat. Ketika seseorang bertanya, "beli baju di mana kamu?" dan jawabannya adalah "thrift, cuma 30 ribu," tentunya ada kepuasan yang dirasakan.
Thrifting telah mengalami pergeseran makna yang fundamental: dari yang semula berkonotasi kemiskinan dan marginalitas, kini ia hadir sebagai penanda identitas, selera, dan superioritas moral di kalangan Generasi Z. Yang paling penting untuk disadari adalah bahwa mitos thrifting tidak menghapus budaya konsumsi ia justru memperluas dan memperpanjang jangkauannya dengan kemasan yang jauh lebih "bernilai". Thrifting pada akhirnya adalah cermin dari bagaimana budaya populer bekerja dengan mengambil sesuatu yang biasa, memberinya lapisan makna baru, lalu menjualnya kembali sebagai sebuah identitas.
PENULIS :
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment