Ekonomi
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Strategi Mengatur Keuangan Keluarga Saat Harga BBM Melambung
APERO FUBLIC I OPINI.- Kenaikan harga bahan bakar minyak tak hanya memukul pengemudi ojol—ia menekan setiap lapisan pengeluaran rumah tangga. Ini cara bertahan tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.
Ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM, dampaknya tidak berhenti di SPBU. Ia merambat diam-diam ke meja makan, tagihan bulanan, hingga rencana liburan keluarga. Bagi jutaan rumah tangga Indonesia, inilah saatnya memeriksa ulang strategi keuangan dari awal.
Kenaikan BBM mendorong inflasi transportasi yang kemudian menular ke harga kebutuhan pokok—dari sayuran, gas elpiji, hingga ongkos jasa pengiriman. Sebuah survei internal Asosiasi Konsumen Indonesia mencatat bahwa pengeluaran keluarga rata-rata naik 12–18% dalam tiga bulan pertama pasca kenaikan BBM.
"Keuangan keluarga bukan soal seberapa besar penghasilan, tapi seberapa cerdas kita mengelola setiap rupiahnya—terutama saat tekanan eksternal datang."
image source: https://www.engineeryourfinances.com/wp-content/uploads/2014/11/Financial-Management.jpg
Langkah pertama adalah berhenti berasumsi dan mulai mencatat. Buka rekening koran tiga bulan terakhir dan kelompokkan pengeluaran ke dalam tiga kategori: kebutuhan primer (makan, listrik, air, transportasi kerja), kebutuhan sekunder (langganan streaming, makan di luar, hiburan), dan tabungan/investasi.
Patokan sehat yang banyak dianut adalah formula 50/30/20—50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan. Ketika BBM naik, komponen kebutuhan secara otomatis membengkak. Respons yang tepat bukan memotong tabungan, melainkan memangkas terlebih dahulu pos keinginan.
Yang kedua ubah pola transportasi keluarga Transportasi adalah pos yang paling langsung terdampak.
Beberapa strategi yang terbukti efektif: menggabungkan beberapa keperluan dalam satu perjalanan (trip chaining), beralih ke transportasi umum untuk rute yang memungkinkan, serta mempertimbangkan kerja dari rumah dua hingga tiga hari per minggu jika perusahaan mengizinkan.
Untuk keluarga yang memiliki kendaraan lebih dari satu, kalkulasi biaya kepemilikan total—cicilan, asuransi, servis, dan bahan bakar—mungkin akan mengejutkan. Menjual satu kendaraan dan beralih ke skema sewa atau ride-hailing untuk kebutuhan insidental bisa menghemat jutaan rupiah per tahun.
Yang ketiga kuasai seni belanja strategis Harga bahan pokok yang naik bisa dikompensasi dengan mengubah kebiasaan belanja. Membeli dalam jumlah lebih besar untuk produk non-perishable (minyak goreng, beras, deterjen) saat ada promo adalah cara lama yang tetap relevan.
Aplikasi perbandingan harga antar minimarket dan supermarket kini semakin canggih—manfaatkan sebelum berbelanja.
Pertimbangkan juga berbelanja ke pasar tradisional untuk sayur dan lauk. Selisih harganya dengan supermarket modern bisa mencapai 20–35% untuk komoditas yang sama. Kuncinya adalah konsistensi—penghematan kecil yang dilakukan setiap hari menghasilkan angka yang signifikan di akhir bulan.
Yang keempat bangun dana darurat, bukan utang darurat Tekanan ekonomi mendorong banyak keluarga ke jebakan pinjaman konsumtif berbunga tinggi. Solusinya adalah memiliki bantalan keuangan sedini mungkin. Dana darurat ideal setara 3–6 bulan pengeluaran keluarga, disimpan di instrumen yang likuid seperti tabungan berbunga tinggi atau reksa dana pasar uang.
Jika dana darurat belum ada, mulailah dari yang kecil. Menyisihkan Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari sudah cukup untuk membangun fondasi dalam beberapa bulan. Yang penting adalah konsistensi dan otomasi—atur auto-debit pada hari gajian agar tabungan tidak "terlupakan".
Saat tekanan eksternal meningkat, keluarga yang bertahan bukan yang berpenghasilan paling besar—melainkan yang paling disiplin dalam perencanaan.
lustrasi - Perbedaan dana darurat dan tabungan (Sumber: Kompas.com)
Yang kelima cari sumber pendapat tambahan Di era ekonomi digital, menambah penghasilan tidak selalu berarti bekerja lebih lama. Keterampilan yang sudah dimiliki—menulis, desain grafis, memasak, mengajar—bisa dimonetisasi melalui platform freelance atau media sosial. Bahkan menjual barang-barang rumah tangga yang tidak terpakai melalui marketplace online bisa menjadi pemasukan bermakna.
Anggota keluarga yang sudah cukup umur pun bisa dilibatkan. Mengajarkan anak remaja konsep menabung dan mencari penghasilan kecil dari hobi mereka bukan hanya meringankan beban keluarga—ini adalah pendidikan finansial terbaik yang bisa Anda berikan.
PENULIS : Elsa Anjani
Mahasiswi Prodi PBSI Universitas Rokania.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Ekonomi

Post a Comment