Kampus
Kesehatan
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Iklan ‘Bebas BPA’ Le Minerale: Edukasi atau Manipulasi Emosi?
APERO FUBLIC I OPINI.- Etika dalam periklanan seharusnya jadi batas yang jelas antara memberi informasi dan sekadar mempengaruhi konsumen. Iklan memang dibuat untuk menarik perhatian, tetapi bukan berarti boleh menyampaikan pesan yang setengah benar atau berpotensi menyesatkan konsumen.
Apalagi kalau sudah menyangkut isu kesehatan dan kelompok rentan seperti bayi, cara penyampaiannya harus jauh lebih hati-hati dan transparan.
Contoh yang cukup menarik perhatian adalah iklan billboard dari Le Minerale dengan klaim “bebas BPA, jadi aman untuk bayi dan keluarga”. Sekilas, pesan ini terlihat edukatif karena menyampaikan informasi tentang kandungan produk.
Namun, ketika kata “bebas BPA” langsung disambungkan dengan “aman untuk bayi”, maknanya jadi melebar dan berpotensi menimbulkan pemahaman yang kurang tepat.
Penggunaan visual bayi di dalam iklan secara tidak langsung membangun kesan bahwa produk tersebut memang cocok, bahkan seolah direkomendasikan untuk bayi. Di sisi lain, adanya testimoni dari konsumen biasa ikut memperkuat narasi bahwa produk ini aman, padahal untuk klaim yang berkaitan dengan kesehatan seharusnya didukung oleh data yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
Di titik ini, informasi yang awalnya terlihat seperti edukasi justru bergeser menjadi strategi persuasi yang bermain di sisi emosional konsumen, terutama para orang tua yang cenderung lebih sensitif terhadap isu keamanan bagi anak mereka.
Dari sudut pandang Etika Pariwara Indonesia (EPI), pendekatan seperti ini berpotensi melanggar beberapa prinsip dasar. Pada Pasal 1.2 tentang Kejujuran dan Kebenaran, iklan seharusnya menyampaikan informasi yang tidak menyesatkan.
Mengaitkan “bebas BPA” langsung dengan klaim “aman untuk bayi” tanpa penjelasan yang memadai bisa dianggap sebagai penyederhanaan yang berisiko menimbulkan salah paham. Lalu di Pasal 2.1 tentang Tanggung Jawab Sosial, iklan dituntut untuk mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat.
Dalam konteks ini, pesan yang disampaikan bisa membentuk persepsi yang kurang tepat di kalangan orang tua tentang standar keamanan produk untuk bayi.
Selain itu, Pasal 3.3 tentang Testimoni dan Rekomendasi juga menegaskan bahwa testimoni tidak seharusnya digunakan untuk mendukung klaim yang membutuhkan pembuktian ilmiah, apalagi jika berkaitan dengan aspek kesehatan.
Kalau dilihat lebih dalam, iklan ini berada di posisi yang cukup abu-abu. Di satu sisi terlihat seperti memberikan edukasi kepada konsumen, tapi di sisi lain cara penyampaiannya justru menggiring persepsi ke arah tertentu yang dapat menguntungkan brand.
Inilah yang membuat iklan terasa meyakinkan sekaligus problematik karena terdapat gabungan dengan pendekatan emosional tanpa adanya penjelasan yang sebenarnya. Pada akhirnya, iklan yang baik bukan cuma yang menarik atau terlihat informatif, tapi yang benar-benar transparan dan tidak membingungkan konsumen.
Ketika informasi mulai dipelintir untuk membangun kesan tertentu, di situlah batas antara edukasi dan manipulasi jadi kabur. Dengan situasi seperti ini, etika periklanan seharusnya jadi pengingat agar pesan yang disampaikan tetap jujur dan bertanggung jawab.
PENULIS : Fifi Renata
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya.
Editor. Tim Redaksi
BIOGRAFI PENULIS
Fifi Renata lahir di Pangkalpinang pada 6 November 2006. Saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya sejak tahun 2024.
Penulis merupakan anak tunggal yang memiliki ketertarikan pada bidang jurnalistik dan video editing. Melalui tulisan ini, penulis ingin memberikan manfaat bagi pembaca, mengembangkan wawasan dalam bidang ilmu komunikasi, serta menjadi karya yang membanggakan orang-orang terdekat.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment