Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
FOMO dalam Kehidupan Gen Z: Analisis terhadap Krisis Kemandirian dan Jati Diri Bangsa
APERO FUBLIC I OPINI.- Generasi Z Indonesia tumbuh di tengah derasnya arus digitalisasi. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu gejala sosial yang paling menonjol. Dorongan untuk selalu mengikuti tren, informasi, dan interaksi daring membuat Gen Z kerap kehilangan ruang refleksi kritis.
Dalam konteks kebangsaan, FOMO bukan sekadar masalah psikologis, melainkan tantangan serius terhadap kemandirian warga negara dan jati diri bangsa.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221,5 juta jiwa (79,5% populasi), dengan Gen Z mendominasi 34,4%. Mayoritas dari mereka aktif di media sosial seperti Instagram dan TikTok, platform yang menjadi ladang subur bagi fenomena FOMO.
FOMO mendorong perilaku konsumtif, ketergantungan pada validasi sosial, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, nilai kebangsaan seperti integritas, gotong royong, dan rasa percaya diri sebagai warga negara perlahan terkikis.
Dalam perspektif Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), FOMO mencerminkan krisis kemandirian warga negara. Demokrasi menuntut individu yang kritis dan rasional, namun Gen Z yang terjebak FOMO cenderung mengikuti arus mayoritas tanpa refleksi. Hal ini mengancam jati diri bangsa yang seharusnya berakar pada Pancasila.
Survei Kominfo 2024 juga mengungkap bahwa Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) hanya 43,34, menandakan literasi digital masyarakat masih rendah. Lemahnya literasi digital membuat Gen Z rentan terhadap hoaks, konten negatif, dan manipulasi informasi. Dengan kata lain, FOMO bukan hanya melemahkan individu, tetapi juga memperburuk ketahanan nasional.
FOMO tidak hanya memengaruhi perilaku individu, tetapi juga menggeser orientasi budaya. Generasi muda lebih bangga mengikuti tren global daripada menghidupkan tradisi lokal.
Fenomena ini terlihat dari menurunnya minat terhadap pakaian tradisional, bahasa daerah, dan kesenian lokal. Padahal, jati diri bangsa terletak pada keberanian mempertahankan budaya sendiri di tengah arus globalisasi. Beberapa Solusi yang dapat dilakukan
1. Penguatan Pendidikan Karakter dan PKn
PKn harus menjadi ruang refleksi kritis, mengaitkan fenomena sosial seperti FOMO dengan nilai kebangsaan. Kurikulum perlu menekankan pentingnya kemandirian berpikir dan keberanian mengambil sikap berbeda dari arus mayoritas.
2. Literasi Digital dan Kemandirian Berpikir
Program literasi digital dari Kominfo perlu diperluas agar Gen Z tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan mandiri. Literasi digital harus mencakup kemampuan memverifikasi informasi, memahami algoritma media sosial, dan mengelola waktu daring.
3. Gerakan Sosial Anti-FOMO
Komunitas pemuda dapat membangun gerakan yang menekankan mindfulness, kemandirian, dan kebanggaan terhadap identitas bangsa. Gerakan ini bisa diwujudkan dalam bentuk kampanye publik, festival budaya, hingga konten kreatif yang mengangkat nilai lokal.
FOMO dalam kehidupan Gen Z bukan sekadar tren psikologis, melainkan tantangan serius bagi kemandirian warga negara dan jati diri bangsa. Data APJII dan Kominfo menunjukkan bahwa meski Gen Z mendominasi ruang digital, literasi mereka masih lemah.
Jika tidak diatasi, generasi muda akan kehilangan arah dalam menghadapi arus globalisasi. Namun, melalui pendidikan karakter, literasi digital, dan gerakan sosial berbasis nilai kebangsaan, FOMO dapat diubah menjadi momentum untuk membangun generasi yang lebih mandiri, kritis, dan berakar pada identitas bangsa Indonesia.
Referensi
1. APJII (2024). Laporan Survei Internet Indonesia 2024. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
2. Kominfo (2024). Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI). Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
3. Hidayati, Y., & Nasution, M. I. P. (2025). Fenomena FOMO pada Generasi Z dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. Innovative: Journal of Social Science Research.
4. Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial dan Multidisiplin (2025). Media Sosial dan Kecemasan Sosial Gen Z
5. Kompas (2023). Survei McKinsey Health Institute tentang Kesehatan Mental Gen Z.
6. Kumparan (2024). Revi Marta, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. Opini tentang FOMO dan Budaya Komunikasi Gen Z.
7. Ruang Bibir (2025). Seminar Prosumenesia: Partisipasi Politik Digital Gen Y dan Z.
Penulis : Febrian Dinda Nur Ilahi
Mahasiswa Pendidikan Matematika
Universitas Mercubuana Yogyakarta
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment