Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Stunting Dapat Dipengaruhi oleh Kesalahan dalam Memasak
APERO FUBLIC I OPINI.- Stunting masih menjadi salah satu permasalahan gizi utama di Indonesia dan dunia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), sekitar 148 juta anak balita di dunia mengalami stunting pada tahun 2022. Di Indonesia sendiri, angka stunting masih tergolong tinggi meskipun menunjukkan penurunan.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023 melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting sekitar 21,6% pada tahun 2022, turun dari 24,4% pada 2021.
Meskipun tren ini membaik, angka tersebut masih berada di atas batas yang direkomendasikan WHO, yaitu di bawah 20%. Dalam konteks ini, berbagai faktor penyebab stunting terus dikaji, termasuk hal yang sering dianggap sepele seperti kesalahan dalam memasak.
Opini bahwa stunting dapat dipengaruhi oleh kesalahan dalam memasak memiliki dasar yang cukup kuat jika dilihat dari perspektif ilmu gizi. Banyak orang berfokus pada jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi kurang memperhatikan bagaimana makanan tersebut diolah.
Padahal, proses memasak sangat menentukan kualitas akhir zat gizi yang dikonsumsi tubuh. Menurut penelitian dalam bidang ilmu pangan, teknik memasak tertentu dapat menyebabkan kehilangan nutrisi yang signifikan.
Misalnya, vitamin C dapat hilang hingga 50–70% akibat pemanasan berlebih, sementara vitamin B kompleks juga sangat sensitif terhadap panas dan air. Jika praktik ini terjadi secara rutin dalam rumah tangga, maka anak-anak berisiko tidak mendapatkan asupan mikronutrien yang cukup, meskipun bahan makanan yang digunakan sebenarnya sudah bergizi.
Selain itu, data dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa metode pengolahan makanan dapat memengaruhi kandungan zat besi dan zinc—dua mikronutrien penting yang berperan dalam pertumbuhan anak. Kekurangan zinc, misalnya, telah terbukti berkaitan langsung dengan gangguan pertumbuhan linear pada anak.
Ketika makanan dimasak terlalu lama atau dengan air berlebihan, sebagian mineral dapat larut dan terbuang. Hal ini menjadi semakin krusial di masyarakat dengan akses pangan terbatas, di mana setiap kandungan gizi dalam makanan seharusnya dimanfaatkan secara maksimal.
Kesalahan dalam memasak juga sering terjadi dalam bentuk kebiasaan menggoreng makanan secara berlebihan. Data menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak namun rendah zat gizi mikro dapat menyebabkan “hidden hunger” atau kelaparan tersembunyi, yaitu kondisi di mana seseorang terlihat cukup makan tetapi sebenarnya kekurangan vitamin dan mineral penting.
Anak-anak yang lebih sering mengonsumsi makanan seperti ini berisiko mengalami kekurangan protein, zat besi, dan zinc, yang semuanya berperan penting dalam pertumbuhan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap terjadinya stunting.
Selain kehilangan nutrisi, aspek keamanan pangan juga menjadi faktor penting. Menurut laporan WHO, infeksi berulang seperti diare merupakan salah satu penyebab utama stunting karena mengganggu penyerapan nutrisi dalam tubuh.
Kesalahan dalam memasak—seperti makanan yang tidak matang sempurna atau proses pengolahan yang tidak higienis—dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri. Data menunjukkan bahwa anak-anak yang sering mengalami diare memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan anak yang jarang sakit.
Hal ini memperkuat argumen bahwa cara memasak tidak hanya memengaruhi kandungan gizi, tetapi juga kesehatan secara keseluruhan.
Namun demikian, penting untuk ditegaskan bahwa stunting adalah masalah multifaktorial. Data dari UNICEF menunjukkan bahwa penyebab utama stunting meliputi asupan gizi yang tidak adekuat, praktik pemberian makan yang kurang tepat, sanitasi yang buruk, serta faktor sosial ekonomi (Mulya., et al. 2025).
Dalam hal ini, kesalahan dalam memasak bukanlah penyebab utama, melainkan faktor yang dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Dengan kata lain, meskipun keluarga telah menyediakan makanan bergizi, manfaatnya bisa berkurang jika tidak diolah dengan cara yang tepat.
Melihat berbagai data tersebut, dapat disimpulkan bahwa memperbaiki cara memasak merupakan salah satu intervensi sederhana namun berdampak besar dalam upaya pencegahan stunting. Edukasi kepada masyarakat mengenai teknik memasak yang tepat menjadi sangat penting.
Misalnya, mengukus atau menumis dengan waktu singkat terbukti lebih mampu mempertahankan kandungan nutrisi dibandingkan merebus terlalu lama.
Selain itu, memanfaatkan air rebusan sebagai kuah juga dapat membantu mempertahankan zat gizi yang larut dalam air. Langkah-langkah ini relatif mudah diterapkan tanpa memerlukan biaya tambahan yang besar.
Sebagai penutup, opini bahwa stunting dapat dipengaruhi oleh kesalahan dalam memasak bukan hanya sekadar asumsi, tetapi didukung oleh berbagai data dan fakta ilmiah. Cara memasak yang tidak tepat dapat menyebabkan hilangnya nutrisi penting, meningkatkan risiko infeksi, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan anak.
Oleh karena itu, selain memperbaiki akses terhadap makanan bergizi, penting juga untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang cara pengolahan makanan yang benar. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, upaya penurunan angka stunting di Indonesia dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Anzarkusuma, I.S., Fikawati, S. & Rahmi, A.T., 2025. Determinants of stunting among children aged 24–59 months in West Nusa Tenggara Province: Analysis of SSGI 2022 data. Gizi Indonesia, 48(1), pp.55–68.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022. Buku Saku Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Available at: https://stunting.go.id/buku-saku-hasil-survei-status-gizi-indonesia-ssgi-2022/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022. Available at: https://upk.kemkes.go.id/new/kementerian-kesehatan-rilis-hasil-survei-status-gizi-indonesia-ssgi-tahun-2022/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023. Stunting rate in 2022 drops to 21.6 percent. Available at:
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/en/angka-stunting-tahun-2022-turun-menjadi-216-persen/
Mulya, A.B. et al., 2025. Determinants of stunting in children aged 6–59 months in West Sulawesi Province. International Journal of Health and Pharmaceutical, 5(3), pp.463–468.
UNICEF, 2023. Stunting and wasting, same or different.
Available at: https://www.unicef.org/indonesia/nutrition/articles/stunting-and-wasting-same-or-different
UNICEF, 2023. Nutrition in Indonesia. Available at: https://www.unicef.org/indonesia/nutrition.
PENULIS :
- Kanaya Sasya Tanaya
- Zahra Aulia Putri
Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Pertanian Peternakan, Jurusan Teknologi Pangan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment