Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
18 Menit atau 48 Jam: Mengapa MBG butuh teknologi TAGMS?
APERO FUBLIC I OPINI.- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai jawaban atas persoalan gizi anak yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Dengan target jutaan penerima setiap hari, program ini menjadi salah satu intervensi pangan terbesar yang pernah dijalankan pemerintah.
Namun, di tengah ambisi besar tersebut, ada satu fakta yang sering luput dibicarakan yaitu masalah keamanan pangan masih menjadi ancaman global. Organisasi kesehatan dunia melaporkan bahwa ratusan juta kasus penyakit akibat pangan terjadi setiap tahun, dengan jutaan di antaranya berujung pada kondisi serius.
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mendasar apakah sistem MBG sudah cukup siap menghadapi risiko tersebut?.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Data menunjukkan bahwa risiko tersebut sudah menjadi ancaman nyata di depan mata. Dalam catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sepanjang periode 1-13 Januari 2026 saja, diduga terdapat 1.242 orang yang menjadi korban keracunan MBG.
Angka ini kian mengkhawatirkan berdasarkan perhitungan BBC, di mana sepanjang Januari 2026, kasus keracunan MBG telah memicu korban hingga 1.929 Insiden terbaru di Manggarai Barat yang menimpa 132 pelajar pada akhir Januari menjadi pengingat pahit bahwa sistem pengawasan kita saat ini masih memiliki lubang besar.
Kondisi ini diperparah dengan temuan dalam laporan terbaru World Health Organization (WHO) tahun 2025 yang mencatat lonjakan resistensi antimikroba pada bakteri seperti Escherichia coli. Bagi kami, ini adalah tantangan yang mematikan yaitu risiko kontaminasi yang tinggi di lapangan bertemu dengan bakteri yang kini semakin sulit dilumpuhkan oleh antibiotik.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Dalam kajian ilmiah terbaru, bakteri seperti Escherichia coli disebut sebagai salah satu patogen pangan yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, bahkan mampu bertahan dalam kondisi tertentu dan kembali aktif ketika lingkungan mendukung. Artinya, makanan yang tampak aman belum tentu benar-benar bebas risiko.
Masalahnya menjadi semakin kompleks dengan meningkatnya resistensi antimikroba. Bakteri tidak hanya lebih mudah bertahan, tetapi juga semakin sulit ditangani ketika terjadi kasus keracunan. Dalam konteks MBG, satu kesalahan kecil di dapur produksi bisa berdampak pada ratusan bahkan ribuan anak dalam waktu singkat.
Masalah paling krusial dalam masalah ini adalah waktu. Metode identifikasi e.coli pada umumnya memakan waktu sekitar 24-48 jam dan tidak sejalan dengan kebutuhan untuk MBG karena dibutuhkan identifikasi yang cepat.
Kita tidak bisa menunggu dua hari hanya untuk memastikan apakah makanan yang sudah dimakan ribuan siswa itu aman atau tidak Keamanan pangan dalam program nasional sebesar ini tidak boleh bersifat reaktif atau menunggu ada kasus keracunan terlebih dahulu, melainkan harus bersifat pencegahan.
Maka dari itu, kami berpendapat bahwa teknologi deteksi cepat seperti TAGMS (Thermally Efficient Array Gas Membrane Separation) yang dipadukan dengan GC-FID (Gas Chromatography Flame Ionization Detector) harus mulai dipertimbangkan secara serius. Metode ini bekerja dengan cara memisahkan dan menganalisis senyawa gas etanol yang dihasilkan oleh metabolisme E. coli secara sangat efisien.
Melalui pengukuran kadar etanol tersebut, keberadaan dan jumlah bakteri dapat diketahui hanya dalam waktu sekitar 18 menit dengan kapasitas pengujian hingga 48 sampel sekaligus secara paralel. Dengan metode ini, pengecekan dalam jumlah banyak yang akurat bisa dilakukan di dapur-dapur pusat tepat sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.
Lebih jauh lagi, presisi TAGMS dalam menyaring senyawa juga membuka peluang besar untuk pengembangan bahan herbal antimikroba alami sebagai alternatif pengawet organik yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak.
Menariknya, teknologi ini tidak hanya mendeteksi bakteri, tetapi juga mampu menyaring senyawa antimikroba alami dari bahan herbal. Salah satu contohnya adalah trans-anethole dari adas, yang terbukti memiliki aktivitas antibakteri dan berpotensi digunakan sebagai pengawet alami. Ini membuka peluang baru bagi sistem pangan yang lebih aman sekaligus lebih sehat, sejalan dengan tren “clean label” yang semakin diminati masyarakat.
Jika dikaitkan dengan MBG, penerapan teknologi seperti ini seharusnya bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Program sebesar ini membutuhkan sistem pengawasan yang tidak hanya kuat, tetapi juga cepat dan adaptif terhadap risiko modern.
Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak bisa hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau angka kecukupan gizi yang terpenuhi. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap makanan yang sampai ke tangan anak-anak benar-benar aman.
Menurut saya, sudah saatnya kita menggeser fokus dari sekadar “memberi makan” menjadi “memberi makan dengan aman”. Investasi pada teknologi deteksi cepat dan inovasi keamanan pangan bukanlah beban tambahan, melainkan fondasi utama dari keberhasilan program ini.
Karena memberi makan anak-anak memang penting. Namun memastikan mereka tetap sehat setelah makan itulah yang seharusnya menjadi prioritas utama.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvg5eywd109o.
https://www.who.int/publications/i/item/9789240116337.
PENULIS :
- Syafrida Meika Salsabillah
- Sajidah Nabila Jufri
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment