Kampus
Lingkungan
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Lingkungan Berbicara Kepekaan Masyarakat Padalarang pada Perubahan Gunung Karang
Sumber gambar ini di Flickr, Aldie Aiman M |
APERO FUBLIC I OPINI.- Sejak tahun 1970-an, kawasan ini mengalami eksploitasi besar-besaran melalui aktivitas pertambangan batu kapur dan gamping. Puluhan perusahaan beroperasi di wilayah ini, menghasilkan ratusan ton kapur setiap hari untuk industri semen, kapur, dan bahan bangunan.
Aktivitas pertambangan tersebut menimbulkan berbagai dampak, Aktivitas pertambangan tersebut menimbulkan berbagai dampak, Kawasan gunung karang Padalarang merupakan warisan geologis yang berharga dengan potensi ekonomi ganda sebagai sumber bahan tambang dan sebagai aset wisata-edukasi-konservasi.
Pengalaman selama beberapa dekade menunjukkan bahwa eksploitasi tanpa kendali mengancam keberlanjutan ekosistem dan kualitas hidup masyarakat. Model pemanfaatan alternatif yang dikembangkan oleh masyarakat lokal membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi.
Diperlukan komitmen bersama untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati keindahan dan nilai ilmiah kawasan gunung karang, sekaligus masyarakat sekitar dapat hidup sejahtera tanpa mengorbankan lingkungan mereka.
Ketika kita membuka jendela rumah setiap pagi, pernahkah kita perhatikan ada lapisan debu putih yang menempel di daun-daun tanaman? Atau saat menjemur pakaian, kita menemukan baju yang tadinya bersih justru berbintik putih setelah
seharian dijemur?.
Bagi warga di sekitar kawasan Padalarang,di Desa Padalarang, Gunung Masigit, Citatah, dan Cipatat ini adalah pemandangan sehari-hari yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan kecil. Ini adalah tanda bahwa lingkungan di sekitar kita sedang berbicara, memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang berubah.
Gunung Karang di Padalarang adalah cermin dari dilema kita semua kebutuhan ekonomi pelestarian alam. Pertambangan memberikan lapangan kerja dan bahan bangunan. Tapi pada titik mana kita berhenti? Ketika semua gunung sudah rata? Ketika tidak ada lagi udara bersih untuk dihirup? Ketika cucu kita hanya bisa melihat foto-foto gunung kapur di buku?.
Tidak ada yang terlalu kecil untuk memulai. Tidak ada yang terlambat untuk berubah. Gunung Karang mungkin sudah banyak yang hilang, tapi masih ada yang tersisa. Masih ada kesempatan untuk mewariskan sesuatu yang indah kepada generasi selanjutnya.
Mari kita mulai dengan menjadi lebih peka. Perhatikan lingkungan sekeliling kita.
Rasakan perubahan yang terjadi. Dan ketika kita sudah peka, kita akan tahu bahwa saatnya untuk bertindak sudah tiba. Karena pada akhirnya, lingkungan yang kita jaga hari ini adalah warisan yang akan diterima anak cucu kita besok.
Oleh : Tiara Sriwahyuni
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment