Ekonomi
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
UKM
Kuliah Sambil Jualan: Realitas Pahit Tekanan Ekonomi yang Tak Bisa Diabaikan
APERO FUBLIC I OPINI.- Fenomena kuliah sambil berjualan telah menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa di Indonesia di tengah gelombang digital dan persaingan global saat ini.
Bukan keinginan semata-mata yang menyebabkan banyak orang mengambil pekerjaan sampingan dan kuliah. Pilihan ini menjadi keharusan mengingat tingkat inflasi yang terus meningkat, biaya hidup yang terus meningkat, dan kurangnya dukungan finansial dari keluarga.
Untuk menunjukkan bahwa fenomena ini sebenarnya memiliki efek buruk, yang sering disalah artikan sebagai bentuk ketangguhan. Sebaliknya, mereka adalah beban yang sangat berat yang akan menghancurkan masa depan generasi muda.
Kita harus melihat masalah ini sebagai masalah luas, bukan sekadar cerita inspirasi di media sosial. Kuliah sambil berjualan berarti mahasiswa harus menjalani kehidupan yang sangat sibuk dengan waktu yang sangat berharga.
Bayangkan situasi sehari-hari bangun pagi untuk mempersiapkan kuliah, menghadiri kelas pagi hingga siang, dan kemudian langsung berpindah ke tempat kerja seperti kafe, pasar malam, atau platform online untuk berjualan.
Setelah pulang larut malam, mereka masih harus menyelesaikan tugas kuliah, mempersiapkan diri untuk ujian, atau bahkan menangani pesanan pelanggan. Karena kebutuhan uang, banyak mahasiswa yang terpaksa bekerja paruh waktu, yang berdampak negatif pada kinerja akademik mereka.
Nilai kuliah hilang karena fokus terbagi antara dua dunia yang berbeda, korban utama adalah kesehatan fisik dan mental. Kekurangan tidur yang berkelanjutan mengurangi kekebalan tubuh, membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit seperti flu dan masalah pencernaan.
Melewatkan waktu makan atau makan sembarangan dapat menyebabkan masalah Kesehatan menjadi lebih parah. Akibat psikologis dari tekanan ganda yang berlebihan termasuk kelelahan, insomnia, atau bahkan depresi berat.
Berdasarkan hasil observasi tentang seorang mahasiswa yang harus berjualan coffe di malam hari selama kuliah siang dan akhirnya keluar karena sangat lelah.
Ini bukan hal baru; banyak orang mengalami isolasi sosial karena tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan teman atau keluarga. Pada akhirnya, fenomena ini menghabiskan energi fisik selain menghilangkan semangat dan keinginan untuk hidup.
Tekanan finansial mendorong mahasiswa untuk berjualan. Karena biaya kuliah yang tinggi, termasuk UKT, buku, dan transportasi, serta biaya hidup di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.
Mereka berjualan untuk membayar tagihan, membeli buku, atau bahkan mengirimkan uang ke anggota keluarga mereka. Namun, menghabiskan waktu untuk bekerja menurunkan nilai akademik, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan di masa depan.
Mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah tertinggal dalam siklus ini, sementara Mahasiswa dari keluarga kalangan menengah ke atas dapat fokus pada studi mereka tanpa tanggung jawab tambahan. Ini memperburuk ketimpangan sosial di Indonesia. Pendidikan tinggi seharusnya menciptakan kesetaraan, tetapi bagi banyak orang, itu justru berfungsi sebagai penghalang.
Mahasiswa berjualan hanya dapat bertahan, tetapi mahasiswa menegah ke atas dapat mengambil bagian dalam kegiatan organisasi, magang, atau bahkan melakukan perjalanan pengembangan diri.
Fenomena ini akan menghasilkan generasi yang kurang terampil dan tidak kompetitif di pasar kerja, meningkatkan perbedaan antara mahasiswa menegah ke atas dan ke bawah.
Untuk mengatasi situasi yang buruk ini, berbagai pihak harus bertindak. Pemerintah harus memperluas beasiswa untuk siswa dari keluarga kurang mampu, memberikan subsidi untuk biaya kuliah yang lebih rendah, atau menyediakan program kerja sambilan resmi di kampus yang tidak mengganggu jadwal kuliah.
Universitas juga penting karena mereka dapat memberikan fleksibilitas jadwal, dukungan psikologis gratis, atau bahkan bekerja sama dengan perusahaan untuk magang berbayar. Keluarga dan masyarakat luas harus lebih memahami perasaan orang lain. Jangan anggap berjualan sambil kuliah sebagai aib; kenyataan yang memerlukan dukungan moral dan praktis.
Perusahaan swasta dapat mengambil bagian dalam program CSR yang berfokus pada pendidikan, seperti memberikan beasiswa atau kursus. Kampanye sosial di media juga dapat meningkatkan kesadaran siswa.
Pada akhirnya, pendidikan harus dilihat sebagai investasi publik daripada tanggung jawab pribadi. Kemajuan dan inovasi negara akan terhambat jika generasi muda terus mengalami tekanan ini.
Kuliah sambil berjualan menunjukkan kegagalan sistem dalam melindungi generasi muda dari tekanan ekonomi yang tidak manusiawi. Ini masalah struktural yang memerlukan perubahan drastis dari pada pencapaian yang berharga. Kita harus mendukung kebijakan yang lebih adil, seperti reformasi pendidikan dan dukungan ekonomi yang adil, agar Mahasiswa fokus pada belajar dan membangun diri dari pada bertahan hidup.
Jika kita abaikan ini, hal-hal buruk ini akan menjadi biasa, membuat orang lelah dan tidak produktif. Sekarang saatnya untuk mengambil tindakan sebelum terlambat. Masa depan negara bergantung pada generasi muda yang sehat dan terdidik, bukan yang terbebani dengan uang.
PENULIS: DEVINA DEVIANTI KUSMAWAN
Mahasiswi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Ekonomi

Post a Comment