11/14/2019

Beberapa Cara Proses Menikah Adat Melayu


1. Adat Menikah Sunnah
Adat menikah sunnah adalah bentuk pernikahan yang berlandaskan syariat dan adat. Adat menikah sunnah bentuk kesepakatan menikah dengan cara sederhana. Misalnya seorang laki-laki dan seorang perempuan datang menghadap wali perempuan meminta untuk dinikahkan. Karena keduanya sudah sepakat atau sudah ta'aruf, atau memang saling mengenal sebelumnya.

Namun dalam proses pernikahan tersebut tidak dirayakan berlebihan mengikuti terlalu banyak syarat adat dan tradisi setempat. Kedua pasangan tersebut ingin segerah berumah tangga dan tidak perlu bermewah-mewah. Biasanya adat menikah sunnah ini dilaksanakan oleh orang-orang yang mengerti kebaikan-kebaikan dalam berumah tangga. Adat menikah sunnah bukan berarti, saat menghadap wali wanita langsung dinikahkan. Tapi adanya musyawarah sederhana antara kedua belah pihak keluarga.

Dari menetapkan hari aktivitas pernikahan dan waktu dan tempat akad nikah dilangsungkan. Menetapkan mahar dan bersiap-siap menyediakan keperluan hari pernikahan. Kalau zaman sekarang tentu mengurus surat-surat ke KUA. Biayah pernikahan secukupnya, memberitahu keluarga kedua belah pihak. Mengundang sahabat-sahabat sekolah, teman kulia dan lainnya.

Kalau zaman sekarang menikah sunnah memerlukan biayah antara lima sampai sepuluh juta rupia. Baju pernikahan tidak perlu dengan baju adat yang sewanya mahal-mahal. Cukup dengan busana muslim atau busana adat setempat. Misalnya pengantin laki-laki cukup memakai celana panjang, lalu memakai baju teluk belanga, dan ada kain yang dililitkan di pinggang seperti adat Melayu. Memakai kopia atau tanjak. Tanjak adalah ikat kepala tradisional orang Melayu.

Adat menikah sunnah di Indonesia masih berlangsung dibawah tahun 1990-an. Memasuki tahun 2000-an pengaruh budaya barat yang memamerkan pernikahan mewah kemudian dicontoh orang Indonesia. Pernikahan yang sederhana kemudian berkembang sesuai keinginan masyarakat Indonesia yang feodalisme.

Adat menikah sunnah sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Di kisahkan, suatu ketika Rasulullah menghadiri pernikahan seorang pemuda pada masa itu. Sehingga Rasulullah menyarankan untuk menyembeli beberapa ekor kambing untuk hidangan. Pernikahan itu sederhana saja tidak berlebihan. Tetangga dan keluarga datang menyaksikan pernikahan lalu makan bersama. Setelah itu pulang dan kedua mempelai memulai kehidupan baru.

Adat menikah sunnah hannya di Asia Tenggara dan di Indonesia yang tidak populer. Kalau di Timur Tengah, Afrika, Turki, Rusia, Eropa, Amerika, Asia Tengah, adalah hal biasa. Masyarakat Muslim disana melakukan pernikahan mereka sesuai dengan sunnah. Memang ada yang melakukan acara pernikahan yang besar dan mewah.

Tapi itu dilakukan oleh orang-orang yang memang benar-benar sudah sangat kaya raya. Kalau masyarakat yang biasa-biasa saja, misalnya hanya seorang sekelas bupati, walikota atau Prajurit, PNS, apalagi rakyat biasa. Mereka menikah selalu dengan Adat Menikah Sunnah.

Karena menurut mereka ketahanan rumah tangga bukan dari seberapa mewah saat prosesi pernikahan. Tapi dari kesungguhan diri dalam mencintai ikatan keluarga yang suci. Adanya kesetiaan dan kasih sayang yang besar dari kedua belah pihak. Adanya komitmen yang bersungguh-sungguh untuk berkeluarga. Bukan Pernikahan yang ikut-ikutan.

Pernikahan di Indonesia dari tahun 1990-an kebawa kebanyakan menikah secara sunna. Bahkan mahar hanya uang sepuluh ribu atau seperangkat alat shalat. Namun ketahanan keluarga mereka sangat kuat.  Jarang sekali terjadi perceraian. Pernikahan di atas tahu 2000-an sangat rentan dengan perceraian. Walau pernikahan mereka dilaksanakan dengan mewah. Dari sepuluh pernikahan empat diantaranya bercerai muda.

Di Indonesia menikah sunnah adalah hal yang memalukan bagi para wanita atau gadis. Sebab wanita Indonesia merasa dirinya dibeli saat menjadi istri orang. Padahal di dalam rumah tangga tidak ada yang membeli atau dibeli. Standar wanita Indonesia masih diukur dengan materi dan tampilan-tampilan.

Bukti cinta di Indonesia ditunjukkan dengan materi dan simbol-simbol. Tidak diukur dengan nilai-nilai luhur dan kebersamaan. Tidak diukur dengan kesetaraan mereka dengan laki-laki. Rumah tangga adalah tanggung jawab bersama-sama antara pria dan wanita. Sesungguhnya satu milyar dollar untuk harga seorang wanita itu masih sangat  murah. Harga wanita tidak diukur dengan materi. Oke, misalnya wanita melayani seks suami.

Bukankah saat itu wanita juga merasakan kenikmatan. Justru wanitalah yang paling ingin mendapatkan seks. Tidak ada yang dirugikan dalam berumah tangga. Tidak ada yang untung dan tidak ada yang rugi. Justru wanitalah yang beruntung apabila dia menikah dan bersuami. Karena dia mendapat tempat bergantung dan hidupnya menjadi berarti. Kehidupan ini sesungguhnya milik wanita bukan milik laki-laki.

Di Indonesia menikah sunnah sudah didukung pemerintah. Seperti diwajibakan menikah di kantor KUA dan mendapat buku nikah gratis. Menikah sunnah memiliki syarat sah secara Islam. Pertama adanya wali perempuan. Kedua, pembayaran mahar atau mas kawin. Ketiga, adanya dua orang saksi.

Setelah itu, bolehlah dilakukan perayaan kecil. Misalnya makan bersama dengan tetangga, keluarga dari kedua belah pihak, sahabat-sahabat yang diudang. Guna dari perayaan kecil tersebut untuk mempublikasikan pada masyarakat. Kalau yang bersangkutan telah menikah. Jadi jangan di ganggu lagi.

Menikah sunnah di Indonesia rusak labelnya. Karena sering ada pasangan yang menikah mendadak, karena hamil diluar nikah. Sehingga sering ada anggapan yang tidak baik. Lalu, sekarang apakah muslimah Indonesia siap menikah secara sunnah?.

2. Menikah Secara Adat
Adat menikah secara adat ini adalah hal yang lumarah di Indonesai dan Asia Tenggara. Pernikahan yang menghambur-hamburkan uang untuk acara pernikahan. Bermacam-macam syarat dan gaya yang dilakukan. Sesungguhnya pada zaman dahulu dibawah tahun 1990-an menikah secara adat tidak jauh berbeda dengan cara menikah sunnah.

Hanya saja menikah secara adat ditambah dengan syarat-syarat adat. Misalnya pelangkah, genti duduk, punjung, dan jojoh. Tapi syarat adat itu tidak berlebihan dan tidak memberatkan. Hanya saja di zaman sekarang masyarakat banyak menambah-nambahkan sesuatu sesuai keinginan mereka. Semakin banyak model dan pernak-pernik yang dibuat-buat.

Mengikuti hal-hal yang sedang trend atau mengikuti hal-hal yang megah-megah. Sehingga banyak yang memaksakan diri. Lalu membuat membebani ekonomi keluarga baru tersebut dalam waktu lama. Kalau yang mampu tidak mengapa, malahan dianjurkan. Yang tidak baik itu adalah yang memaksakan diri.

3. Adat Marasan
Adat marasan adalah istilah melamar anak gadis seseorang dalam tradisi masyarakat Indonesia khususnya orang Melayu. Marasan dalam bahasa Melayu Sumatera Selatan bermakna menginginkan atau meminta milik orang dengan cara baik-baik serta mengikuti tatacara yang baik.

Dengan artian meminta tapi tidak memberatkan yang dipinta. Yang dipinta juga harus memberi dengan ikhlas atau menolak dengan baik-baik. Dalam bahasa Indonesia adat marasan sama makna dengan melamar atau taaruf. Namun melamar atau lamaran pastilah sudah dalam perencanaan atau sudah ada persetujuan antara laki-laki dan si perempuan yang dilamar.

Kalau adat marasan ada persetujuan atau tidak ada dapat dilangsungkan. Karena jawaban tergantung keputusan nanti. Keputusan gadis juga tidak boleh dicampuri. Haruslah keputusan yang ikhlas dari hatinya.

Adat marasan adalah gabungan antara taaruf dan melamar. Karena dalam adat marasan, boleh orang yang tidak mengenal secara pribadi. Misalnya si laki-laki tinggal di tempat yang jauh. Kemudian ada keluarga yang memberitahu ada gadis yang baik. Kemudian si laki-laki tertarik untuk menikahinya.

Maka dengan cara adat marasan inilah dia mendekati si gadis. Adat marasan juga boleh dua orang yang saling mengenal atau perjodohan, orang yang bersahabat, berteman atau keluarga yang sudah tidak sedarah lagi, misalnya sepupu dari pihak keluarga perempuan. Kalau zaman sekarang mungkin sudah pacaran.

Adat marasan berjalan selama tiga bulan. Dalam kurun waktu tiga bulan tersebut si gadis yang di dalam adat marasan diberikan waktu untuk berpikir. Dia boleh menerima dan boleh menolak lamaran si laki-laki. Apabila ditolak maka si laki-laki tidak berhak kecewa atau merasa sakit hati. Sebab adat marasan adalah tanggungan si laki-laki yang melamar.

Dia yang memulai dan harus siap menerima resikonya. Kalau si wanita menerima kemudian laki-laki mengingkari dan tidak mau bertanggung jawab. Maka si laki-laki harus membayar denda adat sesuai yang disepakati. Kalau tidak dia harus berurusan dengan hukum, kalau sekarang ke polisi.

Kedua belah pihak boleh memutuskan secara sepihak, misalnya si laki-laki cacat hukum atau menipu. Begitupun pihak laki-laki boleh memutuskan secara sepihak ketika si wanita misalnya hamil diluar nika oleh laki-laki lain. Atau ketahuan berbuat tidak senono. Adat marasan tidak boleh menipu status, misalnya sudah punya istri tapi mengaku bujangan. Walau sudah punya istri harus jujur pada si wanita yang dilamar.

Pelaksanaan adat marasan pertama dimulai dengan musyawarah bersama tetua setempat, pemerintah setempat, dan keluarga inti laki-laki. Barang yang wajib di bawak adalah tepak siri sebagai tanda adat yang bersimbol persaudaraan dan musyawarah. Bermacam kue, seperti kue tradisonal setempat, gula, kopi dan teh.

Nantinya kue-kue dan gula kopi dan teh di hidangkan setelah acara adat marasan selesai. Maksud membawa kue-kue dan gula kopi dan teh tersebut supaya tidak memberatkan pihak perempuan dalam menjamu tamu yang melaksanakan adat marasan.

Apabila ternyata lamaran diterimah. Maka pernikahan boleh dilaksankan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Adat marasan terdiri dua cara. Pertama, adat marasan dengan cara datang langsung diketahui oleh umum. Semuanya memakai busana adat dan langsung membawa tepak siri.

Kedua, adat marasan yang tersembunyi atau diam-diam. Misalnya sejumlah keluarga inti pihak laki-laki datang secara diam-diam kerumah keluarga perempuan. Kemudian memberitahu kalau mereka ingin menjadikan anak gadis mereka sebagai menantu mereka.

Lalu dalam waktu tiga bulan mendapat jawaban. Apabila diterimah maka akan langsung dengan tahap melamar. Sebab sudah ada kesepakatan dalam adat marasan tersembunyi sebelumnya, diterimah. Biasanya yang melakukan adat marasan tersembunyi ini laki-lakinya kurang satria.

Merasa malu kalau ditolak. Setelah musyawarah keluarga dilaksanakan prosesi pernikahan. Boleh mengikut menikah secara sunnah, yang sederhana. Atau melaksanakan pernikahan secara  adat yang banyak syarat dan banyak permintaan materinya.

4. Adat Malarai
Adat Malarai adalah jalan menuju pernikahan. Kata ma menjelaskan melakukan sesuatu. Sedangkan kata larai berarti berlari. Namun berlari disini memiliki makna pergi atau pindah ke tempat yang baru. Malarai dalam artian fhilosofis adalah menuju kehidupan baru atau awal yang baru.

Malarai dapat juga diartikan seorang membawa sesuatu yang bukan miliknya dengan maksud mendapatkannya (melarikan). Sehingga laki-laki yang membawa anak gadis orang ke rumah pemerintahan setempat di sebut malaraike anak si A. (malaraike berarti melarikan).

Adat malarai terdiri dua jenis. Pertama, adat malarai biasa dimana seorang laki-laki (single) membawa atau mengajak seorang wanita (single) ke rumah pemerintahan setempat (RT. RW. Kepala Desa, P3N), dengan tujuan meminta dinikahkan. Alasan suka sama suka dan tidak ada pemaksaan dari si laki-laki.

Setelah keduanya di tempat pemerintahan setempat dan selesai membuat surat pernyataan melaksanakan adat malarai. Wanita yang melaksanakan adat malarai akan dititipkan ditempat mereka melaksanakan adat malarai. Terkadang ada juga keluarga meminta agar segerah di jemput dan dibawak kerumah laki-laki.

Namun dengan pengawasan pihak keluarga tersebut agar tidak terjadi perzinahan.Kemudian keluarga pihak laki-laki akan mendatangi pihak keluarga perempuan. Lalu memberi tahu kalau kedua anak mereka sudah melaksanakan adat malarai. Yang diistilahkan masyarakat dengan ngilim.

Adat malarai biasanya selalu dinikahkan tanpa harus banyak hal yang dipenuhi.Karena seorang gadis yang melaksanakan adat malarai dianggap masyarakat tidak suci lagi. Karena dikhawatirkan mereka sudah berzinah. Membuat para pemuda tidak mau lagi mendekatinya. Maka orang tua si perempuan terpaksa menikahkan anak mereka walau syarat-syarat tidak dipenuhi semuanya oleh pihak laki-laki. Kedua, adat malarai terang.

Adat malarai terang adalah tata cara pelaksanaannya lebih lunak dari adat malarai biasa. Kalau adat malarai biasa si wanita dititipkan di pemerintah setempat (RT. RW. Kepala Desa, Kadus, P3N). Baru dijemput ketika sudah ada kesepakatan kedua belah pihak keluarga. Sedangkan untuk adat malarai terang si wanita yang sudah melapor ke pemerintahan setempat dalam melaksanakan adat malarai.

Pulang kembali kerumah orang tuanya. Barulah kemudian dilakukan musyawarah keluarga dari kedua belah pihak. Adat malarai terang agak lebih lunak dalam berurusan. Tidak terlalu menekan pihak wanita dan tidak terburu-buru untuk segerah dinikahkan.

Setelah musyawarah keluarag, maka dilaksanakan prosesi pernikahan. Boleh mengikut adat menikah sunnah yang sederhana. Atau melaksanakan pernikahan secara  adat yang banyak syarat dan banyak permintaan materinya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang,   November 2019.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment