6/14/2019

Kisah Cinta Yang Hilang


Apero Fublic.- Aku akan bercerita tentang kisah saat pertama kali aku mengenal rasa cinta. Waktu itu aku belum mengerti apa-apa tentang cinta. Aku belum tahu dan belum menyadari bahwa aku jatuh cinta. Kisa ini berawal dari pertemuan yang tidak terduga dengan seseorang.

Hari itu, aku berkunjung kerumah salah seorang kerabat di sebuah Talang (kampung), Talang Seribu Bambu namanya. Letaknya tidak begitu jauh dari Talang ku, Talang Durian Rimba. Durian rimbah adalah nama jenis buah-buahan. Durian rimbah varian berbeda dengan durian biasa. Bentuk duri durian rimbah panjang-panjang lancip sekitar 10 sampai 15 cm. Cara membuka isinya juga berbeda dengan durian biasa.

Kalau durian biasa membela memanjang, durian rimbah memotong dua pada pertengahan buah. Tetapi rasa dan baunya, biji, warna isi tetap sama dengan durian biasa. Sekarang durian rimbah sudah mulai punah bahkan mungkin sudah punah, semoga ada ahli botani yang mau menyelamatkan durian rimbah. Kisa ini terjadi pada tahun 2004 silam, waktu itu aku baru berumur 13 tahun.

Di pedalaman sebuah kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin terdapat kawasan yang di lalui jalan perusahaan minyak negara, pertamina. Di sepanjang jalan itu, terbentuklah puluhan pemukiman kecil masyarakat yang mereka namai dengan Talang. Talang sama artinya dengan kampung.

Setiap Talang dihuni 30 sampai 40 keluarga yang hidup dari bertani dan berkebun. Talang di pimpin oleh seorang Kepala Dusun atau disebut Kadus. Rumah-rumah penduduk masih sederhana, beratap seng, daun rumbia, dan daun nipa. Tetapi sudah banyak juga bangunan rumah yang sudah bagus seperti ruma di desa-desa, bentuk gedung atau rumah panggung besar.

Dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, talang-talang ini akan menjadi pedesaan juga. Hari itu, cerah dan indah. Langit membiru dengan awan yang putih bersih. Berarak bagai iringan pawai para dewa-dewa memantau kehidupan bumi.

Beburung terbang menikmati alam yang damai. Seekor kucing berlari-lari mengejar tikus diantara semak-semak dipinggiran Talang Seribu Bambu. Dinamakan Talang Seribu Bambu karena banyaknya bambu yang tumbuh disekitar Talang. Konon orang pertama yang membuka pemukiman Talang, pada awalnya menebang banyak rumpun bambu untuk lokasi talang.

Suatu hari, seorang gadis seumuran dengan ku, berjalan menyusuri jalan di tengah Talang Seribu Bambu. Aku dapat melihat dengan jelas, alangkah cantiknya pikir ku gadis ini. Berhijab syariah, kulitnya putih bersih tercermin dari jemari tangan dan wajahnya, dan harum sekali saat ia berlalu. Ia berjalan menuntun adiknya yang baru berumur enam tahun.

Wajahnya yang putih alami bersemu merah terkena cahaya matahari sore. Aku tertegun melihatnya, dan ia melihat ku sambil melempar senyuman manis. Setelah tersenyum ia kembali menole adiknya, dan menuntunya. Aku yang mematung di pinggir jalan begitu kesal karena tidak membalas senyumnya. hampir terlepas barang belanjaan ku.

Sampai si gadis berlalu dan jauh, hingga tak terlihat lagi. Aku menyaksikan itu dengan penuh harap, kalau si gadis kembali berbalik melewati di depan ku. Namun ia semakin jauh berjalan. Tanpa menole ke belakang sedikit pun, lalu menghilang di kelok jalan. Tinggallah burung dan angin yang berlalu, menyapa ku seakan mereka hendak mengganti keindahan itu. Aku kembali ke rumah paman, dan memberikan belanja kepada bibik, sembako.

Soreh itu berlalu, panen singkong paman selesai. Aku pulang ke kampungku bersepeda dan keranjang penuh dengan singkong yang diberikan oleh paman. Sebab aku yang sudah membantunya, kebetulan ibu juga mau bikin keripik singkong. Bagiku singkong goreng sudah enak, kok. Waktu berlalu, aku sudah tidak memikirkan gadis cantik yang aku lihat saat pulang dari warung itu.

Suatu hari aku kembali ke Talang Seribu Bambu, kerumah paman. Ia juga meminta aku membantunya untuk membetulkan geteng rumahnya. Sesunggunya paman meminta ayah untuk datang, tetapi ayah sibuk, maka aku yang menggantikan ayah. Dengan bersepeda aku menyusuri jalan, naik dan turun bukit.

Karena memang pola permukaan tanah berbukit-bukit. Waktu itu pukul sepuluh pagi. Tetapi cuaca tidak begitu bagus, suara guntur, angin dan mendung. Hal seperti ini biasa di wilayah tropis. Setengah jam bersepeda aku sampai di Talang Seribu Bambu. Tetapi hari tidak tahan lagi sepertinya, hujan segera turun dengan deras.

Beruntung di pinggir jalan Talang Seribu Bambu ada pos jaga warga, yang berbentuk rumah kecil persegi empat. Beratap seng, ada bangku  papan memanjang, pos jaga berdinding setengah sehingga dapat melihat kesekeliling. Aku menyandarkan sepeda, dan berlari masuk kedalam pos jaga warga. Ternyata di dalam pos jaga itu ada dua orang gadis seusia dengan aku, dan seorang anak kecil berseragam sekolah dasar.

“Assalamualaikum.
“Waalaikumsalam. Jawab mereka.
“Alhamdullah hujan juga, lagi. Guman ku. Aku memperhatikan dua gadis kecil itu, mereka berdua sumuran denganku. Adik laki-laki sibuk bermain mobil-mobilnya. Aku diam karena tidak tahu hendak berbicara apa. Aku memutar otak mencari alasan untuk berbicara. Dengan pertanyaan sederhana sekali. Apabila di ingat sekarang alangkah lugunya aku.

“Siapa nama adik-nya?
“Azzam, kak. Jawab si gadis yang aku lihat beberapa minggu lalu. Ia rapi cantik sekali dengan hijab hitam itu, penilaian ku. Ternyata aku mata keranjang juga waktu remaja. Sementara si gadis satunya membisu, dan sesekali ia merapikan hijabnya berwar hijau muda. Kadang ia juga ikut menimpali dan bercanda. Kami kedinganan juga karena suasana hujan dan angin.

“Kelas berapa?
“Baru kelas satu SD. Si adik kecil cuma tersenyum malu, dan terus bermain mobil-mobilnya. Ia ingin sekali bermain air hujan, tetapi kakaknya yang cantik melarangnya. Lama berbincang, sampai aku menanyakan aktifitasnya di malam hari, kepo juga dulu yah.
“Kalau malam, apa kegiatan adik berdua?
“Adik, mengaji di mushollah Al-Muhajirin, Uwa Ibrahim gurunya.
Aku melirik si cewek satunya, ia seakan mengerti dan berkata, tepat seperti yang aku pikirkan.
"Saya juga, selain mengaji kami juga bantu Uwa Ibrahim mengajar iqra adik-adik yang baru belajar.

Begitulah kira-kira perbincangan sederhana yang kaku itu. Sementara hujan terus turun bertambah lebatnya. Air hujan mengalir deras menyusuri selokan, dan lekuk-lekuk tanah bagai sungai-sungai kecil. Cuaca dingin sekali apalagi saat angin berhembus.

Aku banyak bertanya sekadarnya, tentang kerja, letak rumah, berapa beradik. Mereka bilang kalau mereka itu adalah sepupuan. Kadang kami tertawa, atau tersenyum. Sepertinya dalam waktu sebentar kami bertiga mulai akrab, begitupun dengan adik kecil sudah mulai memanggil aku kakak. aku juga belajar gombal loh, tetapi aku pura-pura tidak gombal.

“Oh, alangkah elok adik, ni. Sudah cantik, pandai mengaji lagi. Beruntunglah lelaki yang berjodoh dengan adik nanti.
“Ah, jangalah memuji kak, biasa saja. Wanita muslim memang wajib pandai mengaji. Sebab ia adalah madrasa pertama anak-anaknya nanti.

"Gombal, sifat kaum lelaki tulen. jawab sepupunya.
“Kakak, tak memuji, hanya berbicara apa adanya. Tetapi mereka tidak meladeni kelakar aku ini. Mala balik bertanya tujuan ku.
“Kakak mau kemana?
“Kakak hendak kerumah paman dik. 
“Siapa nama paman kakak?
“Sulaiman, istrinya Hamida.
“Oh, ke tempat paman Sulaiman.
“adik kenal?
“Iya kenal, kan talang saya. Sesungunya, bibik Hamidah masih kerabat ibu saya juga.
“Oh. Bibik tak pernah cerita kalau punya kerabat cantik?
"Ya, karena bibik kakak tahu, kakak itu calon cowok gombal. Menurut saya hidup kakak akan penuh dengan kata-kata cantik. Kemudian kami tertawa bersama.
"Tempat mengajinya di mana dik?

Aku bertanya lagi, lupa atau grogi yah. Atau memang aku yang tidak pandai berkata-kata, dasar aku memang berantakan. Tetapi mereka tetap menjawab dan menjelaskan.

"Di mushollah Al-Muhajirin. Jawab sepupunya, dan di jelaskan oleh si cantik kata saya tadi.
“Di ujung jalan sana, lihat dari sini, yang ada pohon kelapa di halaman depan, kak. Menjawab sambil menunjuk.

“Iya Dik. Jawab ku tanda mengerti, sambil tersenyum simpul. Hujan pun sudah redah, bahkan rintik tidak ada lagi. Langit kembali biru, dan bersih. Burung kembali beterbangan, bersuara merdu. Beberapa orang warga sudah berlalu di jalan-jalan becek. Mungkin sekitar dua jam lamanya hujan turun.
“Kak, mohon diri dulu yah. Hujan sudah redah. Assalamualikum.
“iya, silakan. Waalaikumsalam.

Gadis cantik, berkerudung hitam itu melangkah setengah berlari. Ia menggendong adiknya, di pundaknya, sebab jalan masih becek. Sepupunya mengikuti dari belakang. Satu sesalku adalah, aku tidak menanyakan namanya. Kembali aku menyesali kebodohan luar biasa.

Waktu kembali berlalu dengan cepat. Walau aku sering teringat sedikit-sedikit dengan si gadis itu, tetapi aku tidak begitu peduli dengan daya ingat itu. Suatu ketika, aku bermain dengan tiga orang temanku ke Talang Seribu Bambu, Azhari, Muzzaki, dan Parsah. Menghadiri sekaligus membantu persiapan acara pernikahan seorang kerabat bibik Hamidah. Disanalah awal keakraban aku dan gadis cantik, yang sering lewat bersama adiknya.

Gadis yang bertemu tidak sengaja saat bertedu dari hujan lebat. Hujan memang membawa rahmat, selain memberi kehidupan di dunia, hujan juga menjadi sebab pertemuan insan-insan. Di tempat pengantin itu, kami bercerita sambil mengerjakan persipan resepsi, seperti melipat tissue, membuat janur kuning, atau menata perlengkapan. Kami gembira dan bahagia sekali, lupa waktu.

Disini tanpa berkenalan akhirnya kami saling mengenal nama, saat orang-orang yang kenal memanggil namaku dan memanggil nama Fadiyah. Aku akui aku memang grogi loh, tanya nama. Tapi jangan bilang sama orang-orang yah, rahasia lelaki. Dalam percakapan sambil melipat tissue untuk resepsi. Ternyata namanya indah sekali, Asilah Fadiyah, dipanggil Fadiyah, dan nama sepupunya Askana Havika, dipanggil Kana.

“kenapa tak perna bermain di bukit?. Tanyaku beberapa saat kemudian. Bukit nama tempat, di dekat sebuah telaga terletak di tengah Talang. Di sana remaja-remaja sering nongkrong menghabiskan waktu senggang.

“aku sering main di bukit, tetapi hanya hari Minggu  saja kak. Karena hari minggu adik ku tidak bersekolah. Ayah dan ibu juga tidak bekerja. Dari itu banyak waktu senggang untuk bersantai.
“oh. Jadi hari minggu, adik dan sahabat-sahabat bermain di sana.
“iya. Kakak dan teman-teman tinggal di mana?
“kakak dan teman-teman kakak tinggal di Talang Durian.

Sejak keakraban itu, beberapa hari selalu bertemu dan bersama, aku menjadi aneh. Aku selalu ingin bertemu dan bercerita dengan Fadiyah. Teman-teman ku kesal semuanya, sebab mereka kecapean terus menemani aku bermain di Talang Seribu Bambu.  Aku selalu datang ketempat pengajiannya. Anehnya walau gelap dan malam melintasi jalan kiri-kanan hutan aku tidak takut sedikit pun.

Dahulu, sudah memasuki magrib saja tidak berani lagi lewat jalan yang dikiri kanan hutan seperti itu. Apalagi ada mitos hantu harimau yang begitu menakutkan. Tetapi sekarang sudah berbalik, sepertinya hantu siluman yang takut padaku, walau gelap hanya dengan senter batre aku lewat tidak sekalipun diganggu hantu, aneh kan.

Tempat pengajian Fadiyah di musholla Al-Muhajirin, jadi aku datang untuk magrib dan isyah berjamaah. Setelah itu aku bergabung ikut mengaji. Aku selalu mengantar Fadiyah pulang, dengan membawa obor bambu kami berjalan beriringan.

Di mata ku, sungguh cantik wajah Fadiyah dalam balutan busana muslim Melayu itu. Ia mengenakan kain sepinggang yang sampai menutup mata kakinya, berbaju kurung berwarna putih lengan panjang, dengan berhijab selendang yang ia kerudungkan di kepala. Lalu di lingkar-lingkari ke lehernya. Aku tidak mengerti mode pakaian wanita, tapi indah dan damai aku memandangnya.

Al-Quran ia pangku di tangan kanannya. Banyak anak-anak kecil yang berlarian di jalanan, mereka begitu senang pulang dari mengaji. Aku mencuri kesempatan untuk berbicara dengan Fadiyah. Aku yang pendiam selalu habis alasan dan cerita, sehingga nampak kaku dalam perbincangan kami. Tetapi walau begitu Fadiyah merasa senang dan sabar. Ia tetap meladeni perkataan ku, terkadang karena aku lama terdiam, ia yang memulainya.

Aku benar-benar lupa waktu dan mungkin lupa daratan juga, ya. Mungkin lupa diri juga. Aku menjadi sering bermain ke Talang Seribu Bambu. Paman cuma dapat memaklumi dan geleng-geleng kepala saja. Walau jaraknya sampai lima kilo meter, dan sekedar mengantar Fadiyah pulang mengaji aku sudah bahagia sekali. Dalam percakapan malam waktu pulang mengaji, kami berjanji akan bertemu setiap hari minggu di bukit kecil di tengah Talang Seribu Bambu.

Di bukit kecil ada sebatang pohon akasia yang rindang menjadi peneduh. Maka aku dan Fadiyah, teman-teman, dan pemuda-pemudi lainnya sering bermain di sana. Tak banyak yang kami ceritakan, hanya sebatas senda gurau dan percakapan biasa. Tiada kata-kata cinta, kata rayuan, atau kata-kata gombal. Aku hanya tahu bahwa aku ingin berjumpa, setelah itu berbincang, seakan akan dunia ini akan diceritakan semua.

Aku merasa aneh, karena aku selalu mengingat wajah Fadiyah saat jauh darinya. Aku sering bermimpi bertemu Fadiyah. Entah mengapa semua terasa indah bagiku saat aku mengenal Fadiyah. Aku belum mengerti kenapa aku begini. Yang paling membuat aku bahagia Fadiyah selalu menepati janji, dan kami selalu satu rasa yaitu, sama-sama ingin bertemu.

Mengapa, aku juga belum mengerti. Apa mau kami, mau dibawa kemana hubungan kami ini, tidak tahu. Aku begitu bodoh dan belum mengerti suatu cita-cita bersama antara laki-laki dan wanita. Aku hanya merasakan, aku bahagia, aku ingin bertemu, aku ingat wajahnya, ia baik, ia cantik, ia solehah. Tapi mau diapakan kalau ia begitu sempurnah bagiku. Aku bahagia bersamanya, dan aku marah apabila ada lelaki di dekatnya.

Pernah ada seorang pemuda berusaha mendekati Fadiyah, ia anak orang kaya dari Talang Rawa, tetapi aku terharu sekali, sebab Fadiyah tetap ingin di dekat ku. Maka ada rasa bangga dan sesuatu yang bertambah di dalam hati, dengan sikapnya itu. Setahun berlalu, begitulah yang kami jalani bersama, tanpa tahu apa hubungan kami. Dengan bertemu kami sudah cukup, dan dunia ini sudah tidak ada artinya apabila sudah bertemu.

Suatu hari aku dan Fadiyah berjalan menyusuri tepian telaga. Telaga yang terbentuk dari pembangunan jalan oleh Perusahaan Negara Pertaminah, begitu jernih airnya. Banyak teratai dan ikan-ikan kecil-kecil yang kami lihat. Sehingga muncul ide, mengajak semua teman-teman untuk membakar ikan bersama-sama di tepian telaga.

Membawa kecap manis, cabai, garam, alat panggang, dan lainnya. Kami berbagi tugas, Aku, Azhari, Muzzaki, dan Parsah membuat api unggun, tentu mencari kayu bakar. Fadiyah, Askana, Sadidah, Bahirah, Badrina, Mufida, Nadirah, dan Rukayyah, mereka mempersiapkan bumbu-bumbu dan wadah-wadah.

Sementara teman-teman laki-laki kami lainnya menebar jaring dan kail, Abrisam, Komar, Ramadan, Sodri, dan Mahmud. Setelah ikan terkumpul cukup banyak, mulailah kami membakar ikan bersama-sama. Kebersamaan dalam kesederhanaan itu begitu melekat dalam ingatan kami. Beberapa ibu-ibu yang sedang mandi di telaga memperingatkan agar kami jangan terlalu sore pulang.

Singkatnya, aku dan Fadiyah selalu bersama dan berdekatan. Ia memberikan aku ikan panggangannya, dan kami makan berdua sambil bercerita. Walau disekeliling banyak teman kami anggap mereka patung saja, sebab kami berbincang berdua saja dan tidak membiarkan mereka masuk kedalam perbincangan kami. Kami tetap menjaga adat dan sopan santun sebagai orang Melayu dan sebagai Muslim.

Pergaulan kami hanya sebatas percakapan dan cerita-cerita, tidak lebih. Angin telaga membuat hijab mereka berkibar-kibar diterpa angin. Air telaga beriak bergelombang kecil. Memandangi telaga yang jerni itu, di mata aku dan di mata Fadiyah berubah menjadi surga. Itulah sedikit kenangan aku bersama Fadiyah, kenangan terindah. sudah lama sekali masa berlalu, sekarang aku sudah selesai kulia.

Suatu hari ibu dan adik-adikku datang dari desa, dan adik perempuanku berhenti sekolah. Kami tidak punya mata pencaharian di desa. Karena itulah kami sampai tinggal jauh di Talang Durian. Sehingga keluarga kami morat marit sekali. Mendengar ini, sadar pada kenyataan hidup aku menjadi sedih sekali, beberapa waktu aku merenung. Timbul pertanyaanku, mau kemana nasip keluarga ku, adik-adikku, apabila tidak bersekolah di zaman modern ini.

Aku juga putus sekolah setahun yang lalu, berarti akupun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Pendidikan agama ku, hanya dapat dari buku tuntunan salat lengkap lima waktu, yang aku beli di pasar minggu. Sedangkan pendidikan dalam membaca Al-Quran hanya aku dapat dari guru-guru mengaji biasa, tajwidnya saja aku tidak faham. begitupun pendidikan umum hanya sebatas kelas dua Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Mengapa keadaan keluarga ku begitu buruk, apakah tidak ada jalan lagi dalam merubah semua penderitaan dan kemalangan dalam keluarga ku. bagiku tidak berpendidikan berarti tidak ada peluang untuk maju atau sukses, sebab aku begitu bodoh dan terbelakang, miskin ilmu dan miskin harta. Apa yang aku harapkan dalam kehidupan ini, apa tujuanku.

Suatu hari aku duduk dibawa sebatang pohon akasia di pinggiran Talang Durian. Sebuah telaga terbentang di depanku, dan beberapa pohon-pohon tumbuh subur disisi telaga. Dari sini aku dapat melihat semuanya, seisi Talang Durian, pondok-pondok warga. Pondok ada yang beratap daun rumbia, daun nipa, dan seng. Jalan tanah merah yang berkerikil, saat hujan lengket berlumpur.

Disini tidak ada sekolah, sarana kesehatan, dan tempat belajar mengaji. Diseberang telaga, tumbuh subur pepohonan akasia yang berbunga lebat. Beberapa burung beterbangan mandi dan minum ditepian telaga. Seperti biasa, ketiga adik-adikku bermain di pekarangan pondok kami. Aku melihat keceriaan mereka, kegembiraan mereka dalam bermain.

Wajah-wajah polos itu, memberikan suatu pertannyaan besar dalam hidup ku. Mereka gembira dalam bermain hari ini, tetapi mereka tidak mengerti hari esok. Mereka masih anak-anak, pikir ku.  Mereka masih anak-anak, bagaimana mungkin mereka dapat memikirkan masa depan. Maka aku harus berbuat sesuatu untuk keluarga ku. Akankah semua berakhir cerita keluaraga ku di Talang Durian yang terpencil ini.

Akankah semua terbenam oleh egoku yang tidak mau pulang ke desa karena malu aku putus sekolah. Pertanyaan itu berulang-ulang dari hatiku, dan jiwaku. Umur ku belum cukup berpikir banyak waktu itu. seberapa bijak anak yang baru berumur tiga belas tahun. Aku berkata dalam hatiku, bahwa aku harus melakukan sesuatu untuk merubah keadaan keluarga ku yang tidak beruntung ini.

Biarlah akan banyak pengorbanan dan penderitaan dalam hidup ku. Aku akan sendiri dalam kurun waktu yang lama. Sampai aku bersupah bahwa aku tidak akan menggauli wanita sampai aku menikah. Aku ingin menjaga kesucian ku, sebab nafsulah yang pertama mendorong pernikahan. Aku akan berpisa dengan Fadiyah, meninggalkan kekasih hati ku. Aku akan melupakan indahnya hidup berkeluarga dengan orang yang aku cintai itu. Aku akan memulai perjalanan panjang, dimana adik-adik ku harus mau sekolah. Hanya satu tekadku, sekolah, sekolah, sekolah itu kataku.

Dahulu, aku pernah di nasihati oleh seorang tua, “seorang kakak, yang terbaik dari perilakunya adalah memberi pengaruh baik untuk adik-adiknya, sehingga adik-adiknya akan mengikuti sipat baiknya. Tidak perlu banyak kata atau harta, yang perlu dilakukan adalah menjaga mereka dengan kebaikan budimu.” Perlahan air mataku menetes, dan mengalir sedih mengenang nasip kehidupan yang buruk ini. Sejak itu aku mulai bertekad untuk kembali ke desa dimana ada sarana pendidikan, dan kehidupan yang mantap.

Setelah memutuskan itu, aku berbicara dengan ayah dan ibu, bahwa aku ingin pulang ke desa dan semua adik-adik harus kembali ke bangku sekolah. Di desa aku akan hidup seadanya dan berusaha agar kehidupan keluarga lebih baik. Aku tidak perduli dengan keadaan apapun dengan hidupku, hatiku, dan kehidupan orang lain. Yang harus dilakukan adalah, semua harus sekolah dan belajar dengan baik. Semua ini harus di akhiri, hanya satu jalannya adalah pendidikan. Maka aku menunggu hari minggu, aku ingin berjumpa untuk yang terakhir kalinya dengan Fadiyah.

Minggu sore, aku pergi ke Talang Seribu Bambu untuk bertemu dengan Fadiyah. Satu hal yang aku inginkan katakan adalah, aku ingin menceritakan seluruh yang aku rasakan, lalu aku ingin bertanya perasaan apakah itu, benarkah cinta. Satu pelajaran saat mengenang ini, adalah apabila kita mendapati perasaan seperti itu hendaklah secepatnya di ungkapkan pada orangnya. Sebab tidak tahu kapan kita akan berpisah, kesakitan cinta yang di hianati belum terlalu dibanding penyesalan cinta yang tak di ungkapkan.

Lama aku menunggu di bukit kecil itu, sendiri. Dengan sabar aku menanti, kadang melempar kerikil kedalam telaga. Waktu terasa lama sekali berputar. Berganti-ganti penduduk lewat dan menyapaku, yang aku balas dengan senyum getir. Namun Fadiyah tidak pernah datang sampai menjelang magrib. Terasa aneh bagiku hari ini, keadaan begitu sepi di Talang Seribu Bambu.

Aku ingin pergi kerumah Fadiyah tetapi sungkan sebab aku takut dengan ayahnya. Orang bilang ayah Fadiyah bengis, dan aliran keras. Maka aku hanya menunggu saja sampai Fadiyah datang. Matahari terbenam, yang menyisakan mega merah senja. Aku berdiri mematung menatap keujung jalan. Jalan yang tadi terang perlahan berubah menjadi temaram. Kunang-kunang mulai beterbangan bagai lampu alam yang ajaib. Aku menarik napas dalam dan mulai menyerah.

Aku meraih sepedaku dan mulai memutar arah sepedah, pulang. Sekali lagi aku melihat jalanan dan memandang sekeliling, namun tidak ada seseorang pun. Akhirnya aku mengayu sepeda tua ku, pulang menyusuri jalan tanah yang berdebu. Temaram suasana mengiring malam yang gelap, bagai warna hatiku yang kelabu dan pilu. Sambil mengayuh sepedah aku meracau syair ku, yang aku luapkan dari perasaan terdalam ku.

TITIP PADA REMANG SENJA

Wahai temaram malam, gelap
Mengisi ruang nan senduh dalam harapan
Terbuai oleh cerita yang aneh
Memagut hati yang buta
Aku tidak mengerti dengan ini
Mungkin kah cinta
Mungkinkah kasih asmara

Ku kayu sepeda di perbukitan tanah
Berkali lobang melompatkan putaran roda-roda
Sebuah kerikil terlindas
Mental bagai peluru, hilang dibalik semak
Bagai hatiku yang terbuang jauh
Menyisikan segala rasa yang biru

Mengapa gerangan kau tak datang, tanyaku?
Marahkah dirimu, atau salahkah aku
Bukan secerita kita, dalam hidup
Kita ingin selalu bertemu, disana
Di bukit kecil yang ranum
Di bawa pohon akasia

Dik, aku ingin pergi, Jauh.
Jalan ku begitu berliku, dan panjang.
Wahai engaku yang baik hati
Aku inginkau tahu, aku cinta akan engkau
Namun, cinta ini belum tersurat
Tetapi cinta ini untuk dikenang

Mungkin tuhan berbaik hati padaku
Kita tak dijumpakan di hari janji kita
Mungkin Tuhan hindarkan aku
Melihat air matamu
Sunggu hati ini, takkan mampu meninggalkan mu
Bilah hati mu, berkata dengan air mata.
Maka Aku titipkan pada remang senjah,
Pesan ku, sampaikan
Dik, Selamat tinggal.
Aku cinta kamu.

Talang Seribu Bambu, April 2004
               
Sejak minggu itu, sampai sekarang aku telah selesai kulia di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan Fadiyah. Aku pernah mendengar kabar bahwa hari minggu waktu aku menunggunya, ternyata Fadiyah bersama keluarganya pergi ke Kota Palembang, karena adik yang sering ia jemput dari sekolah sakit keras sehingga harus dirawat, dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Mohammad Husen Palembang.

Seorang sahabat Fadiyah bertemu aku diperjalanan ke Kota Sekayu.  Ia menceritakan Fadiyah juga selalu menunggu aku dihari minggu ditempat kami sering bertemu. Selama satu tahun lebih Fadiyah setia menunggu. Ia sering menangis dan bersedih, menyesali takut aku kecewa, sebab minggu itu, ia tidak dapat menemui aku. Keadaan yang genting sebab sakitnya adiknya ia tidak sempat berkirim pesan. Ia menyalakan dirinya, dan menyesali kejadian itu.

Mendengar itu, perlahan air mataku jatuh dengan sendirinya, baru aku tahu beginilah kisa cinta pertama ku. Hanya aku katakan pada desa angin di suatu malam sepih.

“Fadiyah, aku mencintaimu, sebagaimana kau mencintai aku. Bukan hari dimana kita hidup bersama yang menjadi harapan, tetapi saat kita saling mengenang bahwa kita saling mencintai. Seandainya kita jodoh kita akan bertemu lagi, dan apabila kita tidak berjodoh kita akan bahagia satu sama lain. Ingatlah bahwa kita pernah saling menyayangi. Mungkin kita ditakdirkan bertemu, lalu menyadari bahwa cinta itu ada, dan kita akan mengerti. Fadiyah, semoga kau bahagia, dan sebelum kita dipanggil tuhan pulang nanti, aku berharap kita dapat berjumpa saling mengucap maaf dan bertanya kabar. Fadiyah, ingatkah waktu kita pulang mengaji, dan aku membawa obor menerangi jalan mu, menjagamu agar tidak jatu kedalam becekan jalan, dan aku melirik wajahmu, kulihat senyum manismu saat itu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku yang penuh penderitaan ini.

Setelah bus sampai di Kota Sekayu, sahabat Fadiyah meneruskan perjalanannya. Untuk mengenang Fadiyah aku menulis syair sambil memandangi Sungai Musi.

CINTA YANG TAK BERAKHIR

Ku dengar ceritamu, dik Fadiyah
Kau peretas pertama tali kasih di hatiku
Dik Fadiyah.
Terasa gugur jantung ku
Darah ku tumpah, mengalir deras.
Seperti aliran Sungai Musi ini.

Kemanakah kiranya pujangga
Sehingga tiada lagi, Syair-syair.
Merapalkan kata-kata pujangga
Kepada si molek dunia
Mengapa berlari, memburu waktu dikalah bertemu
Kini karam oleh gelombang waktu
Yang menyisakan kenangan sahaja.

Masih ingat, senyum dikau dibalik cahaya obor
Malam itu, aku jemput engkau pulang mengaji
Berjalan berdampingan, diriingi bayang-bayang
Tetapi bagi kita, bagai berdua saja
Ingatkah engkau, di bukit kecil itu
Saat berburu kupu-kupu

Aku dan dirimu teman kepompong
Saat sayap kita tumbuh
Kita terbang ditaman yang berbeda
Bahkan aku, tersesat diantara belantara hidup
Tetapi, Kenangan itu terus benyanyi
Untuk mu, adindah peri.
Yang hidup dalam hati,
Di dunia imaji, dunia cinta ku.

Kota Sekayu, September 2006.

Awan memang mendung waktu itu. Aliran Sungai Musi seakan berhenti. Rona-rona senyum Fadiyah menari di mataku. Suara gemerisik perahu motor seakan berubah seperti tawa renyah Fadiyah. Angin sungai yang berhembus kencang membelai tubuh dan rambutku. Aku merasakan bahwa itu sentuhan hati Fadiyah yang suci.

Waktu telah berlalu, dan jauh tertinggal oleh detik-detik jam. Satu dalam dawai hatiku, aku memang telah mencintai. Entah kapan akan aku temukan kembali rasa ini. Jalan takdir telah memisahkan dua hati yang saling mencintai. Kini aku, berjanji akan mulai melupakan semua, sebab banyak hal yang harus aku selesaikan. Selamat jalan orang yang aku kasihi. @Kisaku.

Oleh: Joni Apero
Editor. Selita.
Foto. Dadang Saputra.
Palembang, 28 Oktobor 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum dipublikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman sepenuhnya tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment